Author Info

Monday, 7 October 2019

Suara Anak "Tolak Pekerja Anak"


Dua puluh lima anak terlihat sibuk dengan beragam aktifitas di Aula Dinas DP3APM Kota Medan, seluruh anak tampak mengenakan kaos putih bergambar seorang anak laki-laki yang sedang mengintip dibalik tulisan TIME TO TALK!

Dwi Ananda (16) salah satu anak yang tengah sibuk berkomat-kamit berlatih karena nantinya akan menjadi pembawa acara, menyempatkan diri menjelaskan bahwa kesibukan anak-anak tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan perwakilan pemerintah yang mereka undang untuk menghadiri dialog interaktif  terkait isu pekerja anak yang merupakan bagian dari rangkaian kampanye Time to Talk 2019.

Dwi menjelaskan bahwa seluruh anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah pekerja anak yang bekerja di berbagai sektor di kota Medan. Contohnya saja Dwi yang hanya mengecap bangku pendidikan sekolah dasar dan hingga saat ini masih bekerja di warung mie balap dan diupah bulanan oleh pemiliknya.


Dwi sudah menjadi pekerja anak selama 5 tahun dan uang yang dihasilkannya dari bekerja digunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Dwi mulai ikut dalam kampanye Time to Talk sejak Februari 2019 dan sangat antusias menyuarakan haknya sebagai pekerja anak.

Hal senada juga disampaikan oleh Yudha (19) yang sudah lebih awal mengikuti kampanye ini. “Time to Talk memberi ruang bagi saya dan kawan-kawan untuk menyampaikan keresahan kami sebagai pekerja anak. Kami punya banyak alasan untuk bekerja, namun kami juga punya mimpi yang sebelumnya kami takut untuk menyampaikannya.” Ujarnya.


Time to Talk merupakan kampanye agar pekerja anak mampu memperoleh hak-hak mereka untuk memperoleh kehidupan yang layak, berpendapat dan menggapai cita-cita mereka. Kampanye Time to Talk telah dimulai sejak tahun 2016 dan dilakukan di 36 negara, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) meperoleh kepercayaan untuk menjalankan kampanye ini di Kota Medan bekerjasama dengan KNH, TDH dan didukung oleh Kementrian Perekonomian Jerman (BMZ). Pada prosesnya, PKPA juga merangkul pemerintah baik lokal maupun nasional untuk ikut serta dalam melaksanakan kampanye Time to Talk. Kali ini PKPA menggandeng Dinas DP3APM untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan dialog interaktif yang mengundang perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Kesehatan, perwakilan Lembaga Pemerhati Anak, perwakilan orang tua dan media untuk duduk bersama membahas permasalahan yang masih dihadapi pekerja anak saat ini.


Pekerja anak kota Medan yang tergabung dalam Komite Penasehat Anak Time to Talk merasa antusias menyampaikan aspirasi mereka menggunaka lagu dan film. “Dalam lirik lagu yang mereka tulis sendiri, mereka menyampaikan bahwa mereka ingin diperlakukan setara dengan anak-anak lainnya, mereka ingin punya kesempatan untuk menggapai mimpi-mimpi mereka dan mereka ingin pemerintah ikut serta dalam mewujudkan mimpi mereka tersebut.” Papar Ayu selaku fasilitator dalam kampanye Time to Talk tersebut.



Kampanye Time to Talk tidak hanya bertujuan untuk mengajak berbagai pihak baik itu pemerintah, orangtua, sektor bisnis dan juga media untuk ikut serta melihat permasalahan dan diskriminasi yang dialami oleh pekerja anak, tidak hanya itu Time to Talk juga berupaya agak anak-anak memiliki ruang yang lebih luas untuk berpendapat dan berpartisipasi, hal ini coba dimulai dengan memberi peran kepada anak untuk ikut menyusun dan menentukan  langkah dan media apa saja yang ingin mereka gunakan untuk menyampaikan kepada dunia tentang hak dan keinginan mereka.


“Pemerintah akan berupaya untuk selalu bersinergi dan mendukung upaya anak, terutama pekerja anak dalam menyampaikan aspirasinya. Namun besar harapan kami, anak-anak yang bekerja ini, meskipun bekerja namun pendidikan, baik itu formal maupun informal jangan sampai diabaikan.” Papar Bapak Robert selaku Kabid Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kota Medan, yang hadir pada dialog tersebut. (*)
Share:

Saturday, 19 January 2019

Tapanuli Utara (2) - Geopark Hutaginjang, Manifestasi Letusan Gunung Toba

 
Pemandangan di alah satu sisi Huta Ginjang yang menampakkan keindahan Kaldera Toba. (Dijepret secara nggak sengaja, tapi kok sukak ya..)
Matahari sudah mencapai puncak saat kami bertolak menuju destinasi wisata berikutnya. Tentu saja masih bagian dari Wisata Tapanuli Utara, kali ini lokasi yang kami datangi cukup populer bahkan untuk wisatawan mancanegara. 

                                                           Saya saat sedang menghadiri Sport Tourism 2018.                                                           Huta Ginjang memang tempat yang cocok buat festival budaya :D
Yap, betul sekali, kami bertolak menuju Geosite Huta Ginjang, geosite terbesar di seluruh dunia. Sebuah situs wisata yang tidak hanya elok dipandang mata namun menyimpan sejarah yang menggidikkan bulu roma. Ya, siapa yang tidak tahu jika Kaldera Toba yang mengelilingi Geosite Huta Ginjang adalah kawasan kawah gunung api yang terjadi karena letusan gunung berapi. Setelah berjuta-juta tahun, maka lava gunung api tersebut mengendap dan dan membentuk dinding kaldera yang lama kelamaan tertutupi perdu dan menjadi dataran yang mengelilingi Danau Toba. Dataran ini lama-kelamaan membentuk destinasi wisata yang kini masyur hingga ke berbagai belahan dunia.


Menarik memang, mengingat sebuah bencana alam yang begitu luar biasa dan menelan berjuta korban jiwa bertransformasi menjadi wujud yang begitu indah di pandang mata. Tidak hanya itu, endapan lava gunung api tersebut juga berevolusi menjadi tanah subur yang menyimpan kekayaan flora dan fauna yang menjadi kebanggaan masyarakat tanah batak. 

Padahalkan si harimau sumatera cakep maksimal gini kan ya..  Kok ada gitu yang tega ngeburu.
Ya, pada hutan-hutan tropis yang menyusun kaldera inilah harimau-harimau sumatra yang telah langka itu bermukim, menyembunyikan diri mereka dari ganasnya tangan-tangan manusia yang tak mampu mengendalikan diri untuk memiliki bulu-bulu mereka yang eksotis. Harus diakui, meskipun perburuan harimau sumatra adalah tindakan illegal, namun masih ada saja tangan-tangan nakal yang luput dari jeratan hukum. 

Selain itu, kaldera yang tidak terlalu padat ditumbuhi semak perdu dan tanaman pinus, dimanfaatkan warga menjadi ladang pertanian dan perkebunan, baik itu padi, kopi, bawang, mangga, andaliman hingga kemenyan. 

Temen-temen blogger, youtuber dan instagramer sedang asik berpose cantik..
Yang lebih menarik dan baru kali ini saya sadari adalah arsitektur rumah adat suku batak yang ternyata tidak menggunakan pasak dan paku.  Rumah-rumah adat tersebut dibuat dengan menggunakan bambu yang menyerupai perahu, hal ini bertujuan agar apabila terjadi tsunami, maka rumah adat tersebut dapat dialihfungsikan menjadi perahu. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa dan dapat direflikasi di tempat-tempat lain yang juga rentan terdampak bencana alam.

Masih seru mengabadikan keindahan Huta Ginjang, pada nggak sadar sedang dicandid
Geosite Huta Ginjang sendiri terletak lumayan tinggi dan memudahkan pengunjung untuk mengeksplorasi keindahan kaldera toba yang mengelilingi danau toba. Berupa dataran landai yang luas dan sangat cocok dijadikan tempat berbagai aktivitas dan festival kebudayaan. 

                                                            Foto sebelum ini dan yang ini sama lho lokasinya.                                                           Cuman ya itu, ini pas sedang berkabut. Nggak keliatan apa-apa :D
Jangan takut kelaparan dan kebelet pipis di tempat ini, karena ada sebuah kantin kecil yang nyaman dan menyediakan beragam camilan kering dan mie instan yang dapat mengganjal perut. Beberapa toilet umum juga tersebar di beberapa titik dengan air yang melimpah, meskipun harus saya akui bahwa lantai toilet yang becek agak mengganggu kenyamanan. Tidak hanya itu, kita sebagai pengunjung juga dimanjakan dengan beberapa keran air mineral yang dapat langsung di minum, kita juga bisa isi ulang persediaan air untuk di perjalanan.

Tempat isi ulang air mineral. Dijamin seugerr....
Yah, meski begitu, saya harus akui bahwa Geosite Huta Ginjang ini memang masih sedang berbenah, beberapa panel yang dibangun untuk memamerkan produk wisata dan budaya masih kosong melompong. Selain itu, berwisata ke Huta Ginjang ini kadang kala harus mengandalkan keberuntungan. Seperti daerah wisata puncak pegunungan pada umumnya, keindahan kaldera toba hanya dapat kita nikmati jika kabut tidak muncul. Ya, saya berkunjung 2 kali ke tempat ini dan disuguhi 2 pemandangan yang jauh berbeda. Meski begitu jangan khawatir, karena beda situasi akan menghadirkan 2 pengalaman yang tetap saja menyenangkan untuk dicoba.  

Tapanuli Utara (3) -  Nanas Hutagurgur, Nanas Terbaik di Indonesia

Share:

Wednesday, 2 January 2019

Tapanuli Utara (1) - Keindahan Berbalut Budaya


Nginep di guest house model begini, siapa bisa nolak coba?

Berawal dari ajakan seorang teman untuk melewatkan liburan yang tidak biasa, saya memutuskan untuk menerima tawaran liburan berkelompok sambil menikmati udara sejuk, hamparan danau dan kabut, melarikan diri sejenak dari sumpeknya kota Medan. Sejujurnya saya sudah lama tidak liburan rame-rame, biasanya hanya sendiri atau berdua saja dengan travel mate yang saya anggap seru dan  nggak ribet. Namun kali ini saya mencoba peruntungan baru, tempat baru, teman seperjalanan yang  juga didominasi wajah-wajah baru.

Bermaksud untuk mengefisienkan waktu, kami memutuskan untuk bertolak dari medan pukul 10 malam, namun apa daya hujan mendera sejak sore. Jadilah waktu menunggu hujan mereda dijadikan ajang mengobrol dan kenalan, mumpung banyak juga ternyata diantara kami yang juga baru bertemu untuk pertama kali. 

Hampir tengah malam, perjalanan dimulai meskipun masih ditemani gerimis kecil yang memberi sengatan gigil di kulit. Kejutan pertama memberi suntikan semangat pada saya saat teman-teman seperjalanan mulai berkicau dan sibuk mengabadikan momen keberangkatan dengan cara yang menarik. Sebelum berangkat, saya sudah tahu bahwa saya akan bepergian bersama teman-teman yang berprofesi sebagai vloger, youtuber, blogger dan instagramer, namun saya tidak berani membayangkan apa yang akan saya alami bersama mereka... hehehhehe.

Dan ternyata, keseruan dan kehebohan sepanjang perjalanan mampu mengusir jenuh dan bosan terkurung dalam mobil selama hampir delapan jam perjalanan. 

Muara, Tapanuli Utara adalah tujuan akhir perjalanan yang lumayan panjang ini. Bukan destinasi yang biasa, namun lumayan memantik rasa penasaran. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Desa Bintangpariama, Silali Torua yang sangat dekat dengan Pulau Sibandang yang konon kabarnya dihuni oleh pengrajin-pengrajin ulos Tapanuli Utara.

Keluar dari homestay langsung disambut pemandangan model begini, siapa yang sanggup bosan coba?

Desa Bintangpariama ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan desa-desa lain pada umumnya. Penduduknya didominai oleh petani yang menyebabkan sawah dan ladang menjadi hal yang biasa berdampingan dengan rumah penduduk. Namun bukan berarti tidak ada yang menarik, mengingat desa ini berada tepat diantara lereng-lereng gunung dan masih berbatasan dengan Danau Toba yang terkenal. Disamping masyarakatnya yang sangat ramah dan menyenangkan, saya juga melihat potensi wisata yang masih bisa dikembangkan di tempat ini. 

Ya, Benar, yang saya maksud adalah wisata agro. Jika teman-teman datang ke sini, teman-teman juga mungkin berpendapat sama seperti saya. Mungkin hanya segelintir dari kita yang tertarik untuk serius menekuni profesi sebagai petani dan berkebun, namun saya bisa jamin bahwa sebagian besar dari kita tidak akan menolak sensasi berseru ria mencoba memanen dan berlumpur disawah selama sehari. Menyaksikan padi-padi menguning seumpama emas yang bergerombol di bibir danau, atau memandang dari dekat cabai-cabai merah dan tomat-tomat gemuk bergerombol di tangkai - tangkainya yang melengkung. Belum lagi sensasi menyenangkan wajah diterpa angin saat bersepeda menyusuri jalan-jalan setapak yang dibingkai sempurna oleh birunya langit, danau dan hamparan hijau semak perdu di kiri dan kanannya.

Jalan setapak dari homestay Desa Bintangpariama menuju jalan besar. Dibonceng sepedaan di sini romantis kali yak.. (yang iya nya yang bonceng engap boncengin saya heheheh)

Selama menyusuri jalan-jalan setapak Desa Bintangpariama, Silali Torua, kami ditemani penduduk setempat, seorang Bapak bermarga Siregar yang bertutur bahwa Desa yang saat ini kami kunjungi adalah Desa yang turun-temurun generasi ke generasi bercocok tanam sebagai sumber utama mata pencaharian. Namun mereka sangat antusias ketika desa mereka ditunjuk sebagai desa yang akan dikembangkan sebagai tempat tempat tinggal alternatif bagi wisatawan (homestay). Mereka sangat lugas menjawab tiap-tiap pertanyaan yang kami ajukan, memaparkan silsilah marga Siregar dan menunjukkan tugu/prasasti marga Siregar yang letaknya bersebrangan dengan Desa. Tugu terebut tampat seperti tonggak yang menjulang tegar dari tempat saya berpijak.

Saya berasumsi bahwa Desa Bintangpariama akan memancarkan pesonanya tersendiri jika dipoles dengan serius oleh pemerintah daerah setempat. Dengan menitikberatkan pada potensi agro wisata yang memiliki aset keindahan alam yang melimpah ruah ditambah nilai-nilai dan tradisi budaya lokal yang dapat diceritakan oleh penduduk setempat selama berkunjung ke tempat ini, Bintangpariama bisa saja bersaing dengan tempat-tempat wisata yang sudah lebih dahulu populer seperti Tomok dan Samosir. 

Homestay yang wujudnya seperti rumah adat batak ini sehari-harinya adalah pemukiman warga yang disulap menjadi homestay bagi wisatawan. Bayangin kita santai-santai di depan rumah sambil dengerin cerita - cerita menarik tentang budaya dan adat istiadat batak. menarik banget kan?

Oh ya, Lokasi-lokasi di Tapanuli Utara juga sudah mudah diakses karena Bandara Silangit sudah resmi dibuka untuk umum dan jarak dari Bandara ke Homestay Desa Bintangpariama hanya 20 menit berkendara santai. Jadi buat teman-teman yang berniat membuktikan sendiri keseruan dan kenyamanan bermalam di Bintangpariama, bisa pilih metode perjalan apa saja yang paling disukai. Bisa berkendara lumayan lama bareng teman-teman satu genk dan seru-seruan sepanjang perjalanan, atau bisa juga terbang sekejap dan mendarat di bandara silangit dan menikmati perjalanan yang lebih santai dan nyaman.






Share:

Saturday, 24 November 2018

Media Sosial - Kemajuan Technologi yang Memundurkan Peradaban?

Bicara tentang sosial media seringnya memang suka bikin saya bingung. Kalau bicara perkembangan zaman, sosial media memang sebuah penemuan yang sangat hebant dan memudahkan manusia terutama untuk berkomunikasi. Coba saja dibayangkan, bertahun-tahun lalu, mana mungkin kita bisa membayangkan bisa bertegus sapa dengan seseorang yanga ada di belahan bumi lain hanya dengan memandang layar kamera.

Kita hanya akan terjebak dalam imajinasi dan tidak akan bisa benar-benar mengetahui keadaan suatu tempat, jika kita tidak punya cukup uang untuk bertandang ke tempat tersebut. Dengan adanya sosial media, semua kemewahan itu dapat kita miliki dengan mudahnya, hanya bermodal ponsel pintar dan jaringan internet. Sangat sangat mudah.

Namun ternyata, kemudahan ini juga membawa banyak dampak yang mengkhawatirkan terutama untuk orang muda. Dengan segala keingintahuan yang membuncah dan minimnya pengamanan saat mengakses internat, memungkinkan semua orang dari segala latar belakang dan usia mencari informasi apa saja baik itu informasi positif maupun negatif.

Sosial media yang awalnya diciptakan untuk berbagi informasi dan memudahka komunikasi juga membuat masyarakat terutama anak muda latah dalam menggunakannya, kita dengan mudahnya memposting berbagai kegiatan dan membagikan berbagai informasi pribadi kepada seluruh dunia tanpa sedikutpun merasa khawatir terhadap privasi yang kita miliki.

Lucunya, Media Sosial yang awalnya bertujuan mendekatkan manusia malah membuat jarak antar manusia. Bagaimana tidak, kita merasa sudah cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial, tidak perlu bertatap muka dan berjabat tangan. Cukup ketikkan kalimat sapaan dan kirimankan emotikon untuk meminta maaf atau mengucapkan selamat, kita tidak merasa perlu untuk datang bertukar pandang. Tanpa mereka sadari, tiap individu menjadi individualis dengan sendirinya .

Saya saat ini bekerja untuk salah satu lembaga yang fokus mengkamoanyekan isu-isu hak anak dan pemberdayaan masayakat untuuk pemenuhan hak anak, salah satu materi yang paling banyak diulas dan dikembangkan adalah p[erkembangan sosial media dan dampaknya kepada masyarakat terutama anak-anak.

Saya bahkan pernah iseng-iseng mengajak adik saya untuk membuat video pendek tentang pendapat anak-anak tentang sosial media dan game online. Anak-anak dengan gamblang menyampaikan ketertarikan dan kecanduan mereka terhadap kedua hal tersebut, kebosanan akan rutinitas menjadi salah satu faktor pendorong mereka terdistraksi oleh media sosial.

Pada pertemua-pertemua yang lain dengan anak, saya juga menyadari bahwa anak-anak menjadikan sosial media sebagai ajang menunjukkan eksistensi. Seringkali mereka merekayasa kenyataan dan menampilkan diri mereka yang glamor pada sosial media masing-masing, nyatanya sosial media buka  lagi menjadi tempat berkominikasi yang sehat, namun hanya wadah untuk mengumbar kebohongan yang lantas berujung pada cyber bulling yang dampaknya bisa sangat berbahaya.

Jika sudah begini, sebentuk kemajuan teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk sebuah kebaikan malah berdampak mengerikan dan bahkan memundurkan peradaban. Peran orang tua dan pengendalian diri dalam menggunakan dan memanfaatkan perkembangan zamanpun menjadi sesuatu yang harus dan wajib dimiliki setiap individu.

Share:

Friday, 23 November 2018

Saya dan Blogger Perempuan

Bareng blogger kece pemilik akun Perempuannovember.com
Saya akui kalau saya sudah ngeblog sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan sebelum teman-teman saya yang pada akhirnya memutuskan untuk nyobain sensasi serunya ngeblog. Tapi saya juga harus jujur bahwa saya tidak pernah konsisten dalam menulis. Sering kali saat sedang rajin, saya akan memposting banyak tulisan dalam satu hari, namun setelahnya berbulan-bulan vakum.

Dari sekian banyak teman-teman saya yang akhirnya memutuskan untuk banting stir atau sekedar coba-coba ngeblog -dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan-, salah staunya yang paling konsisten mengelola blognya adalah pemilik akun perempuannovember.com. Kami pernah berada pada satu universitas yang sama meski beda stambuk, jurusan bahkan fakultas, namun kami sama-sama suka menulis dan meleburkan diri di salah satu komunitas kampus bernama Kreatif.

Berdua dengan dia, kadang bersama dengan beberapa teman lain yang sama gilanya, kami mencoba berbagai hal dan menuliskannya dalam karya. Namun sejauh yang saya ketahui, dia akan tetap rajin mengupdate blognya disela-sela kegilaan kami. Darinya juga saya mengenal bloggerperempuan.

Sejak awal mengenal blogger perempuan, saya sudah sangat tertarik untuk bergabung. Namun saya baru melakukannya berbulan-bulan kemudian, itupun hanya mengikuti akun instagram nya saja.

Buat saya, blogger perempuan menjadi wadah yang sangat menarik bagi siapa saja yang tertarik menulis, apakah menulis hanya untuk diri sendiri, atau menulis untuk dibagi melalui blog, keberadaan blogger perempuan tetaplah menjadi wadah yang baik. Banyak informasi dan membuka wawasan dan memperkaya tulisan. Selain itu, blogger perempuan juga sering mengadakan kegiatan yang memungkinkan para blogger untuk saling mengenal secara virtual. Saling berbagi cerita dan belajar caranya mengembangkan blog yang saat ini dikelola.

Salah satu alasan saya bergabung, juga untuk meningkatkan konsistensi saya menulis. Saya tidak ingin terjebak dalam rutinitas kantor yang membuat saya melupakan kesenangan saya menulis. Saya juga tidak ingin hanya menulis karena tuntutan kerjaan, saya ingin tetap bisa menikmati saat-saat menulis untuk diri saya sendiri, untuk kepuasan sendiri.  
Share:

Thursday, 22 November 2018

Kenapa Kamarkedua??

Tekadang kita tidak mengenal diri sendiri...

Mengikuti  BPN 30 Day Blog Challenge ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Sudah sangat keteteran dalam menulis, ditambah lagi dengan tema-tema yang harus digarap. Its not totally easy by the way. Ditambah lagi dengan padatnya aktivitas kantor di penghujung tahun 2018.

Lalu, tulisan berikutnya yang harus saya rampungkan demi melanjutkan tantangan adalah "kenapa memilih nama blog yang sekarang?"

Sama seperti tulisan sebelumnya Napak tilas menulis blog, saya harus flashback ke bertahun-tahun yang lalu, dan itu sudah sangat lama sekali. Namun saya ingat, dibeberapa tulisan saya, terutama puisi, saya membubuhkan kata kamarkesekian untuk setiap tulisan. Kamar ke sekian itu mengacu pada tempat dimana saya menulis sebuah karya, bisa jadi kamarkedua, kamarketiga, kamarketujuh dan seterusnya. Tergantung dimana karya itu lahir.

Saya yakin, nama blog ini pun awalnya mengacu pada hal itu, namun secarah lebih universal, saya menganalogikan Kamarkedua sebagai sebuah tempat yang bisa menerima saya yang lain -saya yang bukan saya- eakk.....

Kamarkedua punya makna yang kuat buat saya, karena saya bisa melakukan/menulis apa saja di dalamnya. Saya yang menutup diri, saya yang rapuh, saya yang kasmaran, saya yang nelangsa, saya yang menyebalkan, ya kamarkedua bisa menjadi tempat dimana saya sendirian hanya berteman secangkir kopi, semangkuk es krim atau setangkup burger keju dengan daging ukuran besar yang mungkin akan saya sesali keesokan harinya..

Share:

Wednesday, 21 November 2018

Tak Mampu Berpaling dari Makanan Enak dan Segala yang Lucu

Blog walking makanan korea, terinspirasi buat nyoba. Ini toppoki modifikasi, pake bumbu sambalado :D
Masih dalam rangka memenuhi tantangan 20 days chalange-nya bloggerperempuan.co.id, tulisan kali ini akan membahas tentang tema blog yang bikin saya paling suka lupa waktu saat blog walking. Yap, seperti foto yang terpampang di awal tulisan ini, saya paling suka membaca review makanan, apalagi makanan unik yang berasal dari berbagai daerah di berbagai belahan bumi tercinta ini.

Saya juga bingung sekaligus pasrah karena kecintaan saya pada makanan. Tapi bukan kecintaan seperti yang ditunjukkan oleh Victor Huga di film ratatouille, yang hanya mengapresiasi makanan enak dan keren. Kecintaan saya terhadap makanan lebih sederhana, saya suka segala jenis makanan apapun bentuk dan rupanya (meskipun tidak semua makanan saya bisa makan ya)

Iya bener, Ini rambutan biasa aja kok, tapi saya tetep aja gatel buat motoin :D
Jadi, saat blog walking dan menemukan blog yang membahas makanan, terlepas dari itu blog icip-icip atau blog resep, saya akan betah berlama-lama membuka satu persatu tulisan yang dipublish di blog tersebut. Kadang saya akan menunjukkan beberapa resep ke emak tercinta dan emaklah yang merealisasikannya dalam bentuk nyata dan saya dengan hati bahagia akan mengambil ponsel dan memotretnya (ya, saya emang lebih terobsesi memotret daripada memakan makanannya.). I ever told my freiends that i can't help my self if i see food in front of my face :D

Selain makanan, saya juga bisa sangat terobsesi dengan pernak-pernik handmade yang bentuknya lucu-lucu. Nah kalau untuk tema ini, saya lebih sering buka-buka blog berbahasa asing, karena mereka cenderung lebih rela memberikan tutorial yang lengkap.

Hasil menduplikasi tutorial di blog kece. Patternnya cuma yang cewek sih, yang cowok hasil modif :D
Beberapa kali bahkan saya sempat mencoba mengikuti tutorial dan merasa happy sekali saat berhasil dengan hasil yang memuaskan. Tapi itu dua tahunan yang lalu sih, saat saya masih punya banyak waktu luang. Kalau sekarang, bisa blog walking disela-sela rutinitas saja sudah sangat bersyukur.

Blogwalking itu sebenarnya mirip banget dengan mencari harta karun. Kita nggak pernah tau apa yang mungkin akan kita baca dan temukan. Saya nggak punya referensi blog khusus, hanya find and see aja. kadang-kadang saya cari key word untuk makanan dan handmade tutorial, lalu saya mulai pilih beberapa akun blog yang menarik, and its fun by the way :D

Share:

Tuesday, 20 November 2018

Napak Tilas Menulis Blog

Nggak tau wise word ini siapa yang mencetuskan pertama kali, but this is so true

Ya.. Jika pertanyaannya apa alasan saya ngeblog pertama kali, ini akan jadi pertanyaan yang sulit dijawab karena saya harus ngecek dulu, kapan pertama kali saya memutuskan untuk ngeblog.

Jujur saja saya sudah lupa, kapan tepatnya saya ngeblog pertama kali dan apa isi postingan pertama saya. Namun saya bisa pastikan bahwa saya tetap setia dengan satu blog ini saja sejak awal sampai sekarang (yang bener, saya itu moody sekali saat menulis :D, jadi satu blog saja tidak sanggup saya kelola dengan baik :D)

Ya... saya sudah cukup lama memutuskan untuk membuat blog pribadi dan itu berawal dari kesukaan saya menulis. Ya, saya suka menulis puisi dan cerpen yang saya oret-oret diatas kertas buram dan buku pelajaran. Setelah zaman bergerak dan saya mampu menggunakan komputer, saya mulai suka memindahkan tulisan saya dalam bentu softcopy (zaman dulu flashdisck itu barang mahal, jadi saya menggunakan disket untuk menyimpan data)
Nah, anak-anak era 90an pasti tau lah apa kelemahan entitas yang biasa disebut disket ini. Tidak ada seorang pun bisa menjamin berapa lama data yang tersimpan di dalam si disket akan bertahan. Bahkan pernah sekali waktu, saya baru saja mengcopy data dan saat saya cek kembali, si disket ini error alias rusak alis koit. padahal baru sekali dipakai (kalau bisa disebut begitu :D)

Jadi bisa dibayangkan lah tulisan stensilan saya tidak punya rumah yang permanen dan aman untuk menetap, karena kertas bisa koyak dan tercecer dimana-mana, sementara disket yang diharap dapat menjadi oase, lagi-lagi hanya PHP tak berkesudahan (eakk.....)
 
Lalu saya mulai berkenalan dengan yang namanya blog dan langsung tertarik. Bermodal nekat dan uang 4 ribu perak buat warnetan saat itu, saya mengunjungi salah satu warung internet (warnet) dan mulai klak klik sana sini buka google cari tutorial dan taraaa...... jadilah si kamar kedua ini....
 
Berawal dari keinginan untuk merumahkan karya-karya, blog ini lumayan sering berubah fungsi sesuai perubahan hati saya yang tidak menentu   (eakkkkk.....apa sih saya hari ini :D) 
Blog ini pernah saya jadikan tempat untuk promosi penerbitan saya yang karam sebelum layar terkembang. Kalau kawan-kawan nggak percaya boleh di cek postingan jadul saya di sini Mengulas Terbitan Mataniari
 
Tidak hanya itu, pernah juga saya menjadikan blog ini sebagai tempat memulai bisnis yang sempat saya tekuni hampir setahun Pernak-pernik lucu dan murah  , saya juga pernah berniat untuk menjadikan blog ini khusus mengulas makanan dan info wisata. Tapi pada akhirnya, kamarkedua kembali menemukan wujud sejatinya sebagai personal blog untuk menampung isi kepala saya yang random (nanti saya akan cerita lebih banyak tentang ini dipostingan berikutnya ya...)
 
Oh ya, omong-omong terkait kutipan wise word yang namplok di awal tulisan, saya nggak sengaja nemu dan dengan sekonyong-konyong langsung suka dan merasa bahwa kutipan itu bener banget. Kamarkedua sebagai personal blog juga saya harap bisa menampilkan hal ini, meskipun seringnya masih jauh panggang dari api, karena kemoodyan saya yang luar biasa parah. Hal itu juga yang bikin kamarkedua sering kali mengalami mati suri untuk waktu yang tidak dapat diprediksi. 
 
Berharap bisa ketemu banyak blogger kece yang bisa kasi saya advise agar blog saya nggak kembali mati suri T_T
Yah begitulah, saya harap 20 days chalange ini bisa membantu saya menghidupkan kembali blog tersayang yang telah colaps selama setahun lebih ini.. Smanggatttt....
 
Share:

Tuesday, 5 June 2018

Its Time To Talk - Saatnya Anak Berdialog Bersama Para Pemangku Kepentingan

Lindungi anak dari pekerjaan berbahaya, kekerasan dan pelecehan seksual. Saat ini, ada banyak anak yang dipekerjakan lalu mendapat kekerasan dari majikannya, terutama anak-anak yang bekerja di cafe dan di spa, anak-anak ini akan sangat rentan mendapatkan pelecehan seksual dari orang dewasa.


Pernyataan diatas diungkapkan oleh Arvina Sinaga, salah seorang anak yang berkesempatan berdialog bersama perwakilan kementrian di gedung kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (KPPPA). Pada kesempatan ini, Arvina datang bersama tiga orang rekannya yang tergabung dalam komite penasehat anak untuk anak yang bekerja, mereka adalah Yudha Ramadhana  Armanda, Ruth Kesia Simatupang dan Fauza Ananda.

Komite penasehat anak sendiri adalah sekelompok anak-anak yang bekerja namun memiliki motivasi dan semangat maju dan melangkah menggapai mimpi mereka. Komiti penasehat anak adalah bagian dari kampanye It’s Time To Talk yang digagas oleh Kinder Not Hilfe, TDH dan Save The Childrend, dan telah dilaksanakan di 36 Negara. Untuk wilayah indonesia, Kampanye it’s Time To Talk bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan (PKPA) untuk mengupayakan pemenuhan hak-hak anak terutama anak yang bekerja.

Pada dialog Nasional di Kementrian PPPA yang dihadiri oleh perwakilan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Sosial, Kementrian Ketenagakerjaan, Bappenas, Forum Anak Nasional dan beberapa lembaga anak nasional, keempat perwakilan anak menyampaikan alasan utama yang menyebabkan mereka harus bekerja. Selain itu, keempat perwakilan anak juga menyampaikan pesan kunci yang telah mereka diskusikan bersama seluruh anggota komite penasehat anak yang lain di Medan.

Akhiri pekerja anak, karena kalau anak bekerja akan menimbulkan dampak negative. Berkurangnya kesehatan, tidak dapat bermain, belajar dan beristirahat serta dapat mengancam pendidikan.” Ujar Yudha. Sedangkan Fauza dan Kesia lebih banyak menyampaikan harapan anak-anak terkait pemenuhan dan pemerataan fasilitas dan layanan kesehatan dan pendidikan di masyarakat.”

Ibu Rini Handayani selaku Asdep Perlindungan Anak Kementerian PP-PA menyampaikan bahwa seluruh dinas terkait tidak boleh bekerja sendiri-sendiri dan harus dapat bekerja sama dan berkordinasi dalam upaya penghapusan pekerja anak. Beliau juga menjelaskan bahwa sudah ada upaya dari pemerintah untuk tetap melakukan regulasi melalui kebijakan terkait kekerasan terhadap anak. Selain itu, memberikan penguatan pada keluarga juga dianggap perlu, agar keluarga menganggap bahwa anak adalah investasi masa depan, jadi harus dilindungi dan dijaga agar anak tetap mendapat pendidikan dan terhindar dari eksploitasi dan kekerasan. (*)
 

Share:

Saturday, 29 April 2017

Azalea Hijab Dating Medan - Tempatnya Ngobrolin Masalah Rambut Cewek Berhijab


Dialog santai bareng beauty blogger medan...

Sebenernya, ikutan acara ini karena ditawarin temen. Udah lumayan lama sih sebenernya, tapi nggak lama-lama amat jugak :D

Nah, pas dikabarin buat ikutan acara ini, saya langsung tertarik. Kenapa? Sebenernya karena judulnya sih, “hijab dating” lucu-lucu gimana kan? Jujur saja, saya jadi agak penasaran dengan acara yang diusung oleh salah satu brand produk shampo ini.

Serius tapi santai..

Yes, acara ini memang digagas oleh Azalea Hijab Shampo yang konon kabarnya dibuat dengan bahan-bahan alami dan bisa mengatasi permasalahan seputar kulit kepala. Secara saya memang punya permasalahan yang lumayan menyebalkan kalau berkaitan dengan rambut dan kawan-kawannya. Mulai dari rambut kering kerontang, ketombe dan gatal-gatal kalau sudah berhijab seharian. Nah, ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba lah undangan ini untuk saya..

Azalea Hijab Dating ini berlangsung di tanggal 15 April 2017, di White Hous cafe & bistro jl. K.H Wahid Hasyim No.27. Nah, perjalanan menuju lokasi juga ada romansanya, secara saya kan angkoters dan lokasi yang dimaksud bukan jalur angkot, jadilah saya berputar-putar bersama becak dan pada akhirnya telat tiba dan salah kostum pula. Sudahlah, perkara salah kostum ini memang konsekuensi saya karna tidak punya baju bernuansa hijau tosca seperti yang dimaksud.


Tapi tidak mengapa, meskipun agak terlambat tiba dilokasi, namun saya masih bisa mengikuti acara dengan asik. Peserta lain yang diundang rata-rata blogger juga dan cantik-cantik, setelah beramah-tamah, saya baru menyadari bahwa mereka kebanyakan berasal dari komunitas medan beauty blogger #wow...

Seperti judulnya, Azalea Hijab Dating ini berlangsung santai dan asik. Blogger-blogger cantik disekeliling saya secara bergantian saling bertukar informasi tentang permasalahan yang melanda rambut dan kulit kepala serta solusi yang menyertainya. Salah satunya tentang penggunaan jilbab yang sebaiknya jangan menggunakan bahan spandek, tapi bahan kaos yang menyerap keringat agar kulit kepala tidak lembab dan rambut tidak menjadi lepek.

Desainnya bikin seger mata :D
Namun begitu, permasalah yang paling banyak muncul ternyata adalah ketombe dan rambut rontok (saya langsung bersorak dalam hati : ternyata bukan hanya saya... #Eh..)

Mbak Dita, selaku narasumber dalam acara ini pun berkomentar bahwa Azalea Hijab Shampo dapat dijadikan solusi bagi muslimah yang hampir seharian aktif beraktifitas karena mengandung bahan-bahan alami termasuk daun mint yang sudah sangat terbukti dapat memberi kesejukan dan kesegaran.


Pada Kesempatan kali ini, produk yang diperkenalkan sebenarnya ada 2, hair shampo dan hair mist . Saya sebenarnya paling suka sama hair mist-nya Azalea karena praktis dan sangat usufull untuk keseharian saya. Setelah acara berlangsung, saya mulai mengaplikasikan hair mist Azalea, Jadi ceritanya, si hair mist ini saya bawa-bawa setiap hari di dalam ransel dan saat kulit kepala gerah, saya mulai menyemprotkannya tanpa harus repot membuka hijab. And voila, benar saja, tidak ada bercak-bercak di jilbab saya dan kepala saya juga jadi lebih segar.

Oh ya, buat kawan-kawan yang tertarik buat nyobaiin Azalea Hair Shampo ataupun Azalea Hair Mist, nggak perlu khawatir karena sekarang Azalea sudah dapat dibeli di Suzuya dan Smarco Medan. Kalau sudah nyobain, bagi-bagi pengalamannya sama saya yah....
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Suara Anak "Tolak Pekerja Anak"

Dua puluh lima anak terlihat sibuk dengan beragam aktifitas di Aula Dinas DP3APM Kota Medan, seluruh anak tampak mengenakan kaos putih ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

Featured Posts

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts