Author Info

Wednesday, 18 July 2012

PERNAK-PERNIK LUCU, Murah & Meriah


Buat kawan-kawan yang suka aksesoris lucu, mungkin tertarik dengan gantungan kunci dan gantungan HP warna-warni yang terbuat dari benang wool ini. Berhubung harganya murah, bisa suja dijadikan ucapan terima kasih untuk acara pernikahan.

1. Gantungan Handphone Rainbow Valley 


Harga Satuan   : Rp 2.000,-
Minimal Order : 12 pcs
Kemasan         : Plastik

Harga Grocery   : Rp 1.700,-
Minimal Order   : 100 pcs
Kemasan           : Plastik

1. Gantungan Kunci Rainbow 




Harga Satuan   : Rp 3.000,-
Minimal Order : 12 pcs
Kemasan         : Plastik

Harga Grocery   : Rp 2.500,-
Minimal Order   : 100 pcs
Kemasan           : Plastik

1. Gantungan Handphone Smile Monkey & Smile Sheep


Harga Satuan   : Rp 3.000,-
Minimal Order : 12 pcs
Kemasan         : Plastik

Harga Grocery   : Rp 2.500,-
Minimal Order   : 100 pcs
Kemasan           : Plastik

Untuk informasi lebih lanjut & Pemesanan dapat menghubungi Ayu (081348942776 atau 087869395713)

Share:

Mengulas Terbitan Mataniari Publisher


3. Menuju Kontemporer
Layaknya loncatan-loncatan ion yang dinamis, manusia dalam segala bentuk interaksi di kehidupannya juga mengalami loncatan perubahan yang dinamis pula, sebab pada prinsipnya manusia bukanlah batu. Hasrat perubahan ini kemudian mendorong manusia untuk memunculkan sesuatu yang baru, yang berbeda, yang tidak terikat pada batasan-batasan yang telah ditentukan sebelumnya. Manusia, adalah makhluk “pembosan” yang selalu bergejolak untuk menemukan, menciptakan dan merasakan hal-hal baru sebagai bentuk ungkapan dari interpretasinya terhadap sebuah keadaan yang cenderung statis.
Perubahan yang terjadi kemudian akan mempengaruhi pola pikir, pola rasa dan pola gerak manusia yang pada akhirnya akan turut merubah segala bentuk hasil produk karya ciptanya.
Sebab dunia sastra merupakan salah satu wadah eksplorasi imaji yang menjanjikan ruang kebebasan bagi manusia untuk berkspresi, maka, dunia sastra pun menjadi salah satu “wilayah jajahan” empuk bagi perubahan-perubahan yang dilakukan manusia.
Sastra kontemporer merupakan buah karya dari gejolak yang terjadi di dalam dunia sastra. Sastra dalam konteks kekinian lebih bersifat eksperimental dan tidak lagi tunduk patuh pada konvensi-konvensi sastra yang berlaku biasa atau umum yang dianggap sudah beku dan cenderung monoton.
Sastra dalam konteks kekinian sepertinya tengah menghadapi masa pubertasnya. Satu persatu “gaun” yang dulu dipakaikan padanya mulai tanggal, sementara “gaun” baru belum terjahit dengan sempurna. Kebebasan bereksperimen yang ditawarkan oleh dunia sastra kekinian membuka peluang yang besar bagi manusia untuk menemukan, menciptakan hingga merasakan sesuatu yang baru. Tetapi dilain sisi, kebebasan ini pula mengandung perangkap yang dapat membuat manusia terjebak dalam “pusaran halusinasi”. Dari sisi pekarya ”pusaran halusinasi” itu akan menjebak para penggiat sastra dalam perdebatan tentang rumusan-rumusan definisi dan aturan antara sastra lama dan sastra kontemporer.
Buku “Menuju kontemporer” ini adalah sebuah potret transformasi para pekarya sastra yang hendak “bermigrasi” menuju dunia sastra kontemporer. Sebuah proses migrasi yang memungkinkan bagi para pekarya untuk dapat menjejak dunia sastra kontemporer atau malah tersesat di dalam “pusaran halusinasi”.



2. Balada Perempuan (Rp 40.000,-)
Menguak senandung balada perempuan
Dani Sukma AS*

“Adalah kebebasan memagut kata hingga jadi cerita
Karena kita: perempuan yang berbalada
Balada Perempuan - Koper Indie”
***
KETIKA perempuan bicara, kata-katanya mampu membungkam dunia dan selama masih ada perempuan maka masih ada kisah kehidupan. Setidaknya, hal tersebut dibuktikan dalam sekumpulan kisah Balada Perempuan yang disuguhkan dalam buku ini.
Memang benar, ketika suara-suara perempuan diperdengarkan sesungguhnya akan menjadi kegaiban yang mesti kita kuak dengan nurani, sebab suara perempuan ialah bahasa sanubari. Suara perempuan bukan semata ucap, tetapi juga bahasa jiwa yang merapal kedalaman hasrat membingkai impian, harapan, cinta dan cita-cita, menjadi syair kehidupan.
Mari kita jenguk sebuah Dunia di Bawah Meja yang diciptakan suara perempuan bernama Ayoe Lestari. Ada pergolakan batin yang sukar ditafsir dengan kesederhanaan kata-kata pada kisahnya. Lewat sesosok gadis yang tak bernama, ia menciptakan sebuah dunia yang tak terjamah; Dunia impian! Memang benar adanya, cara termudah mengubah dunia adalah dengan tak berhenti bermimpi, sebab kita bebas mengubah dunia sesuka hati kita tanpa ada yang mengusik.
Gadis kecil itu merangkak ke bawah meja. Meja bundar dengan taplak yang lebar. Lalu telentang sambil melukis awan. Awan biru muda berdampingan dengan sebuah pelangi serupa senyum yang melengkung. Gadis kecil dengan rambut keriting kecil berantakan, menutup mata lalu tersenyum. Dibayangkannya sebuah matahari, tepat di sudut langit berbentuk persegi empat.
Jika anda punya keberanian, masukilah dunia yang diciptakan sang gadis, kanvaslah dunia yang anda inginkan lalu rasakan betapa indahnya melukis dunia, sebab kita bebas menciptakan warna dunia sekehendak hati kita. Seperti yang dilakukan sang gadis, ia ciptakan keajaiban yang mustahil terwujud jika bukan dalam impian.
Matahari bundar itu berpendar, cahayanya bukan putih melainkan hitam. Langit remang-remang di siang hari...
Bukankah sangat menakjubkan, apabila dunia yang kita ciptakan mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Sesungguhnya dalam dunia impian, kita bisa menjamah apapun yang kita kehendaki. Lalu kita menikmati dunia itu sekehendak hati kita, meramu bahagia di dalamnya.  Seperti sang gadis, yang asyik bermain-main di dalam dunianya; Dunia di Bawah Meja.
Begitulah, suara Ayoe Lestari yang diperdengarkan kepada kita. Lewat seluncur kata-katanya, ia seolah mengucapkan mantera pengubah dunia. Maka beranilah melukis dunia impian: Karena menciptakan dunia yang disuka lebih menyenangkan daripada menikmati apa yang ada.
Kali ini, kita mesti mohon pamit kepada Ayoe Lestari dari dunianya. Ada baiknya kita teruskan perjalanan kita, sebab masih ada suara-suara perempuan lain yang memangil-mangil. Ada suara ketegasan yang diperdengarkan Novita Sari Simamora, dengan lantang ia berujar Hidupku Pilihanku! Ya, hidup adalah pilihan, sebab Tuhan telah memilih kita untuk menjalani kehidupan maka kita juga harus berani memilih menjalani kehidupan dengan segala keberanian. Perihal hidup, 99% keberhasilan adalah keberanian kita untuk fokus pada pilihan, sisanya 1% adalah hak Tuhan untuk menentukan.
Benar apa yang telah dikatakan oleh orang yang terlebih dahulu lahir dariku, bahwa hidup adalah pilihan Yah… layaknya hidupku ini. Dan diam itu pun juga pilihan.
Sungguh, kita patut terhenyak, ternyata di balik lembutnya suara perempuan tetap ada ketegasan. Kita tak perlu bersibantah apabila ada sebuah idiom yang menyatakan bahwa suara perempuan ialah mayoritas suara dunia. Bahkan dalam diam pun, perempuan ternyata masih bersuara. “Diam adalah pilihan”, ini salah satu suara yang diperdengarkan Novita Sari Simamora. Faktanya memang benar demikian, perempuan yang marah dengan diam lebih menakutkan daripada melalui omelan. Siapa yang mampu menerka bahasa diam? Sukar dibahasakan bukan? Tetapi ternyata, diam adalah suara perempuan yang mesti kita dengar dan semayupnya  digaungkan dalam Balada Perempuan.
.....Aku makan bukan hanya untuk bertahan hidup
Aku mencari makan dengan cara apapun  juga bukan hanya karena ingin bertahan hidup
Tak ada kata menyerah
Mencoba segala cara untuk maju
Untuk kesekian kali perempuan membuktikan bahwa suaranya mesti kita dengarkan dengan seksama, bagaimana Novita Sari Simamora yang lantang bersuara bahwa tak ada kata menyerah untuk mencoba segala cara untuk maju.  
Meski dirinya menempuh pendidikan di bidang keguruan, tetapi ia punya pilihan lain; Suara hatinya memilih menjadi wartawati. Ia merasa bahwa guru yang paling berharga ialah pengalaman, maka ia berguru pada kehidupan. Harapannya cuma satu; menjadi wanita tangguh! walaupun ia merasa belum menjadi tangguh, namun ia tak akan berhenti berusaha untuk menjadi gadis tangguh, dewasa, bijaksana, jujur dan mandiri.
Berbicara perihal perempuan, maka tak bisa lepas dari perkara cinta. Demikian pula suara sebagian besar yang diperdengarkan dalam Balada Perempuan. Untuk persoalan cinta, diwakilkan saja oleh suara Yama Kaze dan Dwifani. Lewat sajaknya yang berjudul Sosokmu, Yama Kaze berkisah tentang sosok yang begitu ia dambakan, meski tiada terlihat namun sosok itulah yang mampu mengisi hatinya.
.....Meski mataku tak mampu melihat kehadiranmu
Namun hatiku mampu merasakan bayangmu
Sosok yang mengisi hatiku.
Begitulah kekuatan cinta, bisa menjadikan apa yang tak terlihat menjadi terlihat, bisa mengubah yang tiada menjadi ada, sebab cinta adalah penglihatan sejati dan cinta adalah prasasti yang abadi.
Bahkan dalam sajak Sketsa Malam, Dwifani mengalunkan simfoni perasaan. Mencoba menemukan debur rindu yang menjelma ombak dalam badai keheningan di lindapnya malam.
Inilah sketsa malam
Kan kulebur kata bersama cinta
Kan kuletakkan bimbang bersama ragu
Agar rasa menyatu bersama rindu....
Suara-suara tentang cinta yang diperdengarkan keduanya membuat kita terharu, cinta memang penuh warna. Tetapi sesungguhnya, cinta tak bisa dilukiskan seperti pelangi, sebab keindahan cinta melebihi tujuh warna keabadian. Meski ada duka yang menyesak apabila berujung pada kegagalan, namun cinta selalu menyisakan kenangan yang sukar untuk dilupakan.
Mendengar alunan suara perempuan dalam Balada Perempuan sungguh begitu memengaruhi pikiran, kita tidak akan berhenti pada persoalan impian, harapan dan cinta, tengok saja yang dikisahkan Quelle Idee. Perempuan yang satu ini lebih memilih bersuara tentang politik. Lewat sajak Tahun Panas, ia menyindir para penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya.    
…Ini tahun panas
Bokong-bokong panas menduduki kursi panas
yang dibeli dengan uang jelata
Uang dingin yang menjadi panas karena
diperebutkan yang bukan pemiliknya…
Tegas dan berani, karakter ini bukan hanya milik lelaki tetapi juga milik seorang perempuan. Lewat sajaknya, Quelle Idee telah membuktikan. Dengan tegas ia mengkritik penguasa yang tidak becus mengurusi rakyat. Secara berani pula ia menyebut penguasa hanya memanaskan bokong-bokongnya di kursi pemerintahan dengan modal uang rakyat jelata. Lalu perut para penguasa membuncit, sebab telah mati hati bersebab ambisi diri. Sajak yang begitu panas ini pun meramaikan tahun panas. Tahun yang dilanda konflik politik, penuh intrik dan taktik licik para ahli politik.
Begitu banyak kisah, begitu banyak suara, ketika perempuan-perempuan menghadirkan balada. Mereka ingin didengar, sebab mereka yakin suara-suara mereka punya arti. Jika kita menerima suara mereka sebagai irama kehidupan, niscaya kita akan menemu senandung karunia hidup yang dipenuhi syukur, dan kunci itu semua adalah selalu berpikir positif, agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Ya! berpikir positif menjadikan kita bisa menelaah hidup agar menjadi pribadi yang lebih baik, seperti yang disuarakan Riendytha Nasution dalam Catatan Bengak-Bengak, walau terkesan bermain-main namun apa yang disuarakannya adalah kebenaran. Dengan mengambil contoh sederhana, ia menguraikan tentang proses penerimaan diri dan mengimbau untuk selalu berpikir positif.
…”Kalo memang manusia itu adalah makhluk paling sempurna, kenapa kekayaanku gak sesempurna Abu Rizal Bakrie, atau pinomat (minimal, red) jadi kayak anaknya lah. Apa aku bukan manusia?” Bahkan orang seperti ini sampe’ meragukan entitasnya sebagai manusia. Parah ya kan?
…Hidup ini relatif loh, kawan. Tergantung kau mau menyentuh bagian yang mana. Saat kau memilih untuk menyentuh sisi positif untuk menjadi bahagia dengan apapun keadaan hidupmu, ya insyaallah kau akan bahagia.
Masih ada suara-suara lain yang diperdengarkan Riendytha Nasution, namun satu yang pasti hidup adalah jalan menuju kebahagiaan, dan yang berhak menentukan kebahagiaan adalah kita sendiri maka berpikir positiflah untuk meraih kebahagiaan, niscaya Tuhan besertamu. Jangan berpaling dari suara hatimu, sebab Sang Raja Semesta akan menuntunmu pada jalan kebenaran untuk menjangkau niscaya bahagia dalam relung jiwa.
Jika suara hatimu sedang dibungkam resah. Maka mengadulah pada Sang Raja Semesta, sebab adakalanya meski kita telah berpikir positif untuk melakukan yang terbaik bagi diri kita dan orang-orang yang kita sayangi, namun berujung pada kepedihan. Meski bagi perempuan, air mata juga menyimpan beragam suara pada tiap bulirnya, namun bersuara pada Tuhan akan meringankan segala beban, seperti yang dilakukan Wulantsubaki, melalui sepenggal kisah Perjanjian dengan Raja Semesta untuk Peri Kecilku, ia menumpahkan perasaan yang berkecamuk dalam batinnya.
…Jika waktu mempecundangi hidupnya, ijinkan aku melindunginya dari jarum jam yang menusuk.
Jika arah angin membuatnya tidak tahu arah kemana kaki melangkah, ijinkan aku membantunya untuk membawanya ke arah angin yang mencipta mimpi…
…Tapi Kau Tahu, dia menghempaskanku hingga terjatuh. Dia mengatakan padaku itu hanya kebohongan belaka untuk menjebaknya. Aku hanya terdiam saat itu, kakiku tidak kuat lagi untuk berpijak ke tanah. Air mataku akhirnya tumpah juga ketika menghadap Raja Semesta di malam kemudian. Aku limbung…
Begitulah adanya, sekelumit suara-suara perempuan telah diperdengarkan, maka siapa dapat mendustai bahwa Balada Perempuan merupakan syair hidup yang diiringi nada-nada indah dan menawan. Namun, jika hendak berkalam jujur. Masih ada irama sumbang yang mengalun di dalamnya, kesahajaan kata-kata masih banyak yang belum terjaga. Semoga Balada Perempuan akan menjadi suara yang lebih merdu dan selalu dinantikan untuk berkumandang dalam jejak kehidupan
***
“Aku perempuan
Perempuan yang dapat mengubah duka menjadi suka,
tangis jadi tawa, benci menjadi cinta
dan kematian menjadi kehidupan
Balada Perempuan – Koper Indie”
Serambi KOMPAK, 15 Maret 2012

*Penulis adalah pembelajar sastra dan pendiri Komunitas
Penulis Anak Kampus (KOMPAK). Karyanya termaktub dalam beberapa antologi sastra dan dimuat di beberapa media massa.



1. Topeng "Sejauh Mana Kau Mampu Menyembunyikan Wajah" (Rp 20.000,-)
SASTRA merupakan alat ampuh untuk menyampaikan pesan kepada publiknya. Ia tidak hanya dapat mengubah sikap manusia, namun sekaligus menjadi corong ideologi manusia itu sendiri. Tidak heran jika orang bijak mengatakan, “Orang berbudaya harus membaca sastra”. Sebab sastra adalah produk yang dihasilkan oleh kebudayaan itu sendiri.

Tidak dapat kita pungkiri lagi, bahwa saat ini karya sastra terus berkembang seiring dengan majunya teknologi dan informasi. Saat ini, begitu banyak penulis-penulis yang menghasilkan karya sastra yang begitu berkualitas dengan genre yang begitu beragam. Semua itu adalah kekayaan yang harus tetap dijaga, sebab karya sastra adalah aset yang sangat berharga.
Alhamdulillah, setelah begitu lama berproses, akhirnya penerbit meluncurkan sebuah novel perdana yang begitu memukau hasil karya anak Medan, Quelle Idee.     
Topeng, adalah novel yang kaya akan konflik, menyajikan carut-marut kehidupan tokoh-tokohnya. Konflik antar tokoh dan orang-orang yang ada di sekitarnya begitu menyentuh. Novel ini mengajarkan manusia untuk menjadi diri sendiri dalam menjalani kehidupan.
Topeng adalah novel pertama yang diterbitkan oleh Mataniari Publisher. Sebagai karya perdana, penerbit sangat bangga atas kreativitas penulis yang menyajikan sebuah fakta yang terbalut dalam kisah-kisah lugu, lucu, dan begitu memukau.
Puji dan syukur selalu kami penjatkan kepada Allah SWT, Sang Pencipta yang begitu agung, yang memberikan nafas kehidupan untuk setiap mahluknya. Atas rahmat-Nyalah, akhirnya penerbit bisa meluncurkan Topeng untuk para penikmat sastra di mana pun berada. Kepada penulis, juga kepada para penikmat sastra yang terus eksis dalam menikmati sastra, penerbit mengucapkan terimakasih yang tak terhingga.    
Semoga karya perdana ini memberikan banyak manfaat kepada para penikmat sastra. Seyogiyanya, Topeng kelak akan menjadi pematik api sastra yang dapat membangkitkan gairah berkarya untuk setiap pelaku sastra. Selamat membaca.


Untuk informasi lebih lanjut & Pemesanan dapat menghubungi Ayu (081348942776 atau 087869395713)
Share:

Sunday, 15 July 2012

Bantai Kejenuhan Saat Menulis







Sabtu sore tanggal 14 Juli kemarin, akhirnya Penerbit Mataniari berhasil menyelenggarakan pelatihan penulisan pertama dari rangkaian program Mataniari Creative Writing 2012. Tema yang pertama kali diangkat adalah mengatasi kejenuhan dalam menulis.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kejenuhan adalah musuh utama setiap penulis. Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhinya, mulai dari kehabisan ide, bingung menentukan alur cerita, sampai  masalah mood yang tidak stabil.
Pada pelatihan perdana ini, segala bentuk kejenuhan diulas dan didiskusikan jalan keluarnya. Salah satu metode yang ditawarkan oleh Tedy Wahyudy Pasaribu selaku mediator diskusi adalah menentukan kerangka tulisan. Menurut lelaki kurus tinggi yang biasa disapa Tedy ini, Kerangka tulisan dapat membantu penulis untuk tetap fokus pada tema tulisan yang sedang digarapnya.
Menulis sendiri adalah proses kreatif yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Kuncinya hanya dua, banyak membaca referensi dan terus dilakukan terus-menerus, sedangkan ide dapat di temukan di mana saja.
Tentang Mataniari
Mataniari Publisher adalah penerbit lokal yang berbasis di kota medan. Sampai saat ini, mataniari telah meluncurkan tiga terbitan diantaranya Topeng (novel), Balada Perempuan (kumpulan cerpen dan Puisi, kerja sama dengan Komunitas Perempuan Indie) dan Menuju Kontemporer (Kumpulan puisi kontemporer, kerjasama dengan mahasiswa Universitas Nomensen Medan).
Mataniari sendiri menawarkan beberapa bentuk kerja sama dengan penulis dalam rangka meningkatkan minat tulis di kota medan, diantaranya Self Publishing, Corporate Publishing dan Royalti.
Menjelang 1 tahun berdirinya Mataniari Publisher, Penerbitan ini menggalakkan program Mataniari Creative Writing, yang merupakan rangkaian diskusi penulisan dan pelatihan menulis yang bertujuan untuk memudahkan kawan-kawan penulis yang berminat untuk menerbitkan buku.
Tanggal 28 Juli 2012 mendatang, Mataniari Publisher akan melaksanakan diskusi ke dua yang akan membahas kerangka tulisan secara lebih mendalam. Bagi kawan-kawan yang berminat, biaya registrasinya hanya Rp 25.000,- (gratis 1 eks Novel Topeng dan gratis mengikuti diskusi-diskusi lanjutan mataniari yang masih mengusung program Mataniari Creative Writing).

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Mataniari Publisher, dapat menghubungi Ayu (081348942776 atau 087869395713) atau datang langsung ke kantor penerbitan mataniari di Jl HM Joni, Perumahan Puri Teladan, Block Catellia No 4. Samping Kampus Harapan
Share:

Tuesday, 10 July 2012

Antara Pantai Labu dan Kota Tua

Agustus, dua tahun lalu
“Aku ingin kita menikah, la.” Bisiknya.
Aku Cuma bisa diam, merenungi keterbatasan kami. Menyesali takdirku yang terlahir di keluarga yang begitu mementingkan nama dan reputasi untuk segala jenis keputusan.
“Aku tidak bisa, lan.”
“Kenapa? Kau tidak benar-benar mencintaiku?” Ada rasa getir dalam suara pria itu, aku sadar dia terluka.
Aku menggeleng perlahan, dadaku sesak. Hamparan pantai membentang dengan riak-riak ombak yang sesekali menjilati ujung jemari kaki kami. Bibirku tak kuasa jujur untuk sekedar mengatakan bahwa ibu dan saudara sekandungku melabeli diriku yang sudah sarjana ini dengan tarif sekurangnya dua puluh juta sebagai mahar. Belum lagi biaya pesta dan ini-itu yang menyertainya.
“Lan, tunggulah setahun lagi. Aku ingin bekerja, ingin membuktikan bahwa sekolahku selama ini ada gunanya di kampung kita. Setidaknya sebuah koperasi agar masyarakat tidak melulu menjual hasil melaut pada tengkulak.”
“Aku bukan lelaki yang mengharuskan perempuannya berpingit di rumah, La. Meski aku cuma tamatan sekolah rendah.” Alan berang, tubuhnya bergetar, suaranya menyimpan marah yang kian besar.
Aku menelan ludah, maghfum dengan temperamen Alan yang gampang tersinggung. Dulu dia tidak begitu. Hubungan kami yang membuatnya berubah, tepatnya keluargaku yang tidak bisa menerima Alan yang membuatnya  berubah.
Aku hanya bisa menghela nafas, tak lagi menemukan kata. Sebenarnya, aku hanya ingin mengundur waktu, agar mahar dapat di penuhi meskipun sepertiganya berasal dari tabunganku.
“Besok, akan ku temui orang tua mu. Akan ku buktikan bahwa aku serius mencintaimu.” Alan menghampiri jalanya yang tergeletak bisu di batas pantai. Meninggalkan ku yang tak lagi mampu melahirkan kata.

*****
Agustus, setahun lalu
Dari ambang jendela kamar ku yang penuh aroma kamboja, masih dapat terdengar bunyi ombak yang menyapu pantai. Sudah seminggu ini laut tak ramah pada nelayan, ombak bergelung-gelung nakal sementara tetes hujan tak berkesudahan mengguyur kampung.
Malam sudah jauh, wajar jika udara begitu dingin menerobos lapisan kemeja tipis yang membebat tubuh ku. Tiba-tiba saja, aku ingat Alan. Lelaki yang diusir keluarga ku setahun lalu. Lelaki bodoh yang tak mau harga dirinya diinjak meski alasannya cinta.
“Sudah ku putuskan, La.” Ujarnya saat itu, tepat seminggu setelah lamarannya dikotakkan kakak tertua ku.
“Jangan Lan. Aku nggak sanggup pisah. Kita menabung saja dulu, setahun ini pasti terkumpul.” Ku tatap matanya yang lelah. “Dan jika tidak juga direstui, aku bersedia minggat dari rumah dan kawin lari dengan mu.”
Lelaki berperawakan kurus dengan tinggi hanya sebatas dahiku itu menggeleng lemah. “Aku ingin melamarmu dengan uang ku sendiri, hasil jerih payahku.”
Hari itu aku nelangsa, sekawanan burung –ntah dari mana asalnya– melintas diatas kepala kami. Mungkin mengabarkan bahwa lelaki ku itu tak akan pernah kembali. Dia akan pergi ke suatu tempat dimana dentum musik menjadi penghias malam, bukan ombak. Dimana lampu-lampu kota berwarna kuning kemerahan mengganti pendar cahaya suar dan bohlam.
Aroma kamboja kembali menguar, membuyarkan ingatan tentang Alan. Ah, andai saja lelaki keras kepala itu mau mendengar ucapanku, mungkin kini kami tengah bercengkrama menentukan tanggal pernikahan.
Tadi, di tempat dimana Alan pernah dicaci maki ibu dan kakak, seorang lelaki yang mengaku bernama Alan kembali melamarku. Namun dia bukan lelaki ku, dia rekan membangun koperasi kampung yang kini menjadi pusat perdagangan warga, terutama nelayan. Dia ambisius, pintar, pekerja keras dan juga keras kepala, persis sama seperti Alan ku. Anehnya, ibu tidak menolak, sama halnya dengan kakak-kakak ku yang tersenyum puas seolah berhasil menjual barang dengan harga yang mereka inginkan. Apa mungkin karena Alan yang satu ini datang dengan mengantongi mahar dua puluh juta beserta syarat ini-itu yang lainnya.
Yang pasti aku menolak, karena aku perempuan.

******
Agustus, tahun ini
Duduk ditemani secangkir kopi pahit. Masih memandang laut, ditemani langit senja kemerahan dan camar yang juga masih setia terbang. Hanya saja, perahu nelayan telah berganti phinisi, kapal yang meruncing pada salah satu ujungnya. Aku menghela nafas panjang, entah sejak kapan, namun indahnya senja yang terhampar di depan mata membuatku rindu rumah. Sudah seminggu ini Ila Rayana seorang sarjana ekonomi yang lebih memilih membangun koperasi nelayan menjalani hari-hari membosankan sebagai pemateri dalam diskusi pengembangan potensi daerah bersama mahasiswa ekonomi seluruh Indonesia.
Mahasiswa-mahasiswa itu, hanya sebagian yang merefleksikan ide dengan kenyataan, kemungkinan, dan Tenaga satu orang. Kenyataan bahwa di negri ini semua orang ingin untung besar dengan modal kecil. Kemungkinan penolakan dan waktu pengerjaan yang relatif. Dan Tenaga satu orang yang sederhananya, kotakkan saja ijazah S1 mu, persetan dengan teori di buku. Intinya Cuma satu, kau mau kerja, mau kotor dan siap dicaci-maki. Itu saja.
“Melamun mbak ila?”
Aku menoleh ke arah asal suara. Ternyata Bona, pemuda dua puluh dua tahun yang sangat mengingatkan ku pada diri ku dulu. Penuh semangat dan harapan, hanya saja rapuh dan merasa sangat bersalah jika melakukan kesalahan.
“Mbak suka suasana pantai?”
Aku menahan gelak saat pria bertubuh mini itu bertanya dan memutuskan duduk disamping ku. Pertanyaan itu jelas bodoh, bukankah aku gadis pantai??
“Kamu pernah ke Medan?” aku balik bertanya tanpa melepas pandang pada sebuah titik hitam yang ku yakini perahu nelayan.
“Belum, tapi saya punya teman di sana.”
“Saya gadis dari pesisir nya. Sebuah tempat yang jarang di kenal orang. Suasananya sama seperti disini, hanya di sana jauh lebih amis.” Pria disampingku itu mengerutkan dahi.
“Di sana jauh lebih banyak nelayan ikan dibanding gelondongan kayu. Lebih cocok untuk merealisasikan ide  tentang pasar ikan internasionalmu.”
“Yah, tapi sunda kelapa ini memang indah ya mbak.” Bona mengalihkan pembicaraan. Aku sadar dia malu pada ku, terlebih pada idenya sendiri. Karna ide itu terlahir dari ambisi individu, dan tidak mempertimbangkan warga yang bergantung hidup padanya. Padahal, nafas dari sebuah ide adalah masyarakat yang bermukin di tempat di mana ide itu akan diterapkan.
“Ya.” Lalu senyap diantara kami sebelum akhirnya bunyi alat berat pengangkut kayu memecah hening.
“Saya agak laper, mau cari cemilan. Mbak mau ikut?”
Aku menggeleng, “Masih pengen di sini, Seminggu ini agak melelahkan.”
“Mbak memang agak lain saya lihat. Kurang rileks.” Pemuda itu malah mengurungkan niatnya untuk beranjak dan kembali duduk di sampingku. “Pasti selama seminggu ini mbak nggak pernah keliling buat refreshing?”
Sebenarnya aku ingin tergelak mendengar pernyataannya. Ini yang kedua kali dia mengatakan sesuatu yang menurutku sangat lucu. Bukankah aku datang ke kota ini untuk berdiskusi dan mengikuti serentetan seminar dan pelatihan? Lalu mengapa perkataan semacam itu harus lahir dari bibirnya. Aku memilih diam, tapi pemuda jebolan universitas elit Jakarta ini tidak.
“Saya saranin satu tempat bagus buat mbak kunjungi. Nggak jauh kok. Kalau dari sini, jalan kaki juga bisa. Yuk, saya antar.”
Ntah apa maksud pemuda ini. Merayu ku? Tapi untuk apa? Menjebak ku? Apa untungnya untuk dia. Atau mungkin, anak muda satu ini memang ingin membantu ku, menghilangkan kegundahan hati.
“Saya kurang suka keramaian, sendiri jauh lebih bisa menenangkan.” tolak ku halus, takut juga terlalu ketus di kampung orang.
“Ya sudah kalau begitu, tapi kalau mbak berubah fikiran, coba saja susuri jalan itu.” Tawarnya sambil menunjuk salah satu jalan, “Nah, nanti tinggal Tanya-tanya saja sama pedagang atau pejalan kaki, pasti pada tau. Sebut saja kota tua. Gimana?!”
Aku hanya mengangguk mendengar tawaran nya, sama sekali tidak berniat untuk beranjak.
Namun saat Senja sudah jauh pergi, meninggalkan malam pekat tanpa bintang. Aku berubah fikiran. Tiba-tiba saja keinginan itu muncul, sesaat setelah sebuah sedan hitam meluncur tepat dihadapan ku. Ku sempatkan bertukar sapa dengan beberapa pedagang disekitar sunda kelapa. Mereka bilang, tempat itu memang tidak jauh. Jadi, di sinilah aku. Menapaki terotoar sembari menikmati kekosongan yang ada dikepalaku.
Sudah lama rasanya, tidak menikmati waktu. Memaknai tiap detik yang tersisa sebelum Tuhan menjemput untuk pulang. Mungkin sejak kepergian Alan, karna hanya bersamanya waktu seakan henti, dan kekosongan itu malah mendekatkan hati kami.

*****
Kota Tua
Kharismatik, itu perasaan yang dapat ku tangkap. Bersama kerlap-kerlip lampu yang berasal dari café-café bergaya elegan dan santai. Aku memutuskan memasuki salah satunya dan memesan secangkir kopi pahit.
Aku memang mengidolakan minuman satu ini, ntah sejak kapan. Tapi mungkin sejak kepergian Alan.
Kopi terhidang, dan aku kembali tenggelam dalam lamunan sebelum akhirnya seorang pria muda dengan penampilan eksekutif muda meminta diri untuk duduk disampingku. Meski sedikit kikuk, ku iya kan saja permintaannya.
“Sendirian Mbak?”
“Ya.”
“Saya Lukman. Baru pertama kali ke sini?”
Aku mengangguk.
“Tempat ini memang bagus. Mbak nggak akan kecewa.”
Aku tersenyum hambar, lelaki di depan ku ini mirip sales kartu kredit gayanya.
“Kalau saya nggak salah tebak, pasti mbak ini sedang nyari hiburan untuk selingan rutinitas yang melelahkan!” Pria di depan ku itu menegakkan duduknya.
Aku semakin yakin jika makhluk di depan ku ini memang punya maksud terselubung, jadi ku jawab asal saja pertanyaannya. Hampir satu jam kami berbincang ngalor-ngidul tak jelas, hingga akhirnya tercetuslah pertanyaan itu.
“Coba mbak lihat, pria yang sedang melukis di dekat trotoar itu. Sepertinya cocok kalau jalan sama mbak.”
Aku kaget mendengar ucapan lelaki itu, berani benar dia. “Maksud anda apa?”
“Dia humoris dan cukup pandai memperlakukan wanita, anda pasti suka!”
tentu saja aku merengut. Ternyata ia berjualan manusia dan berharap aku mau menjadi salah satu pelanggannya. “Maaf, Saya tidak berminat.”
Lalu aku meninggalkannya begitu saja. Meski samar masih ku dengar umpatannya “Duduk di café ini sendirian dengan mata liar memandangi laki-laki, tapi tidak mengaku. Dasar munafik.”
Ingin sekali ku gampar mulutnya, tapi sudah lah. Aku berjalan menjauhi tempat itu, berharap ada taksi untuk kembali ke penginapan. Sambil berdiri resah dengan kaki yang sesekali ku ayun-ayunkan. Mata ini menangkap sesosok tubuh wanita menghampiri pria yang baru saja di tawarkan padaku. Mereka berbincang sejenak, lalu beranjak. Pria itu santai saja mengikuti wanita di depannya, menuju mobil yang secara sangat kebetulan-mungkin ditakdirkan tuhan-berada tepat di depan ku.
Dan aku tak mungkin salah mengenali. Mata yang selalu menatapku di ujung senja pantai kami. Bibir yang pernah beberapa kali mencium puncak kepala ku. Hanya wajah itu tak setirus dulu. Wajah yang selama dua tahun ini ku rindukan.
“Alan.” Meski tidak ada hujan, namun bibir ku getar menyebut namanya.
Lelaki itu menoleh, wanita itu juga. Ada gurat kecewa di wajahnya. Ada kepedihan di matanya. Namun aku yakin dia mengenaliku. Bahkan seandainya tak ada lampu, pun jika bulan dan bintang berhenti berpijar malam itu, kuyakin dia pasti mengenaliku. Cukup lama kami terdiam. Sebelum akhirnya wanita yang sedang bersamanya itu menggamit lengan Alan dan menggiringnya masuk ke mobil. Sempat ku tangkap bait-bait pisah yang meluncur lewat mata Alan. Sebelum akhirnya lelakiku yang kini menjadi lelaki wanita itu memutuskan untuk beranjak pergi dan benar-benar meninggalkan ku. Memilih untuk tidak kembali pada ku. Mungkin karena dia lelaki.
Medan, 9 Agustus 2010
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts