Author Info

Friday, 13 June 2014

Hallyu Wave Terkait Budaya dan Karakter Anak Muda (Sekedar Opini)

Hallyu Wave atau jika kita indonesiakan maknanya menjadi gelombang Hallyu –hallyu sendiri mengacu pada budaya korea–. Nah umumnya di Indonesia, hallyu wave ini diartikan bebas menjadi upaya penyebaran budaya korea melalui dunia entertain, baik itu film, drama dan musik.

Di Indonesia sendiri, Hallyu Wave ini kerap menjadi kontroversi. Sebagian orang merasa bahwa masuknya budaya lain (korea) dapat mengikis kepedulian bangsa Indonesia terhadap budayanya sendiri. Sebagian teman dekat saya bahkan mengolok-olok bahwa idol korea hanya menjual tampang, sering lypsinc di panggung dan hanya bisa mengumbar gerakan tubuh yang erotis.

Padahal, jika saya telaah lebih dalam, fenomena Hallyu wave ini dapat menjadi cerminan bagi Negara-negara lain yang berniat untuk merubah posisi dari Negara berkembang menjadi Negara maju.

Menurut pandangan saya, korea tidak serta-merta sukses menempatkan dunia industri musik dan film mereka tanpa perencanaan yang matang. Sudah sejak awal tahun 2000an, korea memperkenalkan industri entertain mereka, namun gelombang dahsyat terjadi justru di awal tahun 2009. Bukankah ini menunjukkan kerja keras dan semangat pantang menyerah yang dimiliki si artis dan manajemen yang menaungi mereka?

Pemerintah korea juga cukup cerdas menyikapi fenomena ini. Mereka memasukkan unsur-unsur budaya korea (misalnya makanan, hanbok, tempat wisata dsb) ke dalam cuplikan drama maupun video musik yang mereka rilis. Hingga perlahan-lahan penonton memahami dan terbiasa dengan budaya yang mereka miliki. Lihat saja, siapa yang tidak mengetahui pulau jeju, Bulgogi, Hanbok, Pulau Nami, kimchi dan kimbab. Nama-nama itu sama terkenalnya dengan nama Super Junior, CN Blue, Ft Island, lee min ho, yo seung ho dan artis-artis papan atas korea lainnya.

Mengapa? Karena dalam tayangan drama dan film bahkan reality show, seringkali si artis terlihat tengah menikmati makanan-makanan itu dengan dengan rasa puas yang mendalam. Bahkan beberapa artis dipercaya untuk mengendorse tempat wisata, duta makanan dan sebagainya.

Nah, untuk bintang hallyunya pun tidak sembarang comot dan sembarang ganteng. Kita pasti sering mendengar istilah trainee, nah si artis ini sebelum di orbitkan akan diseleksi terlebih dahulu, setelah itu mereka akan menjalani masa-masa trainee. Pada masa- masa ini, tidak semua member yang ditrainee akan didebutkan dan masa traine itu tidak pernah ada yang pasti (ada yang setahun, dua tahun bahkan, tapi ada juga yang hanya beberapa bulan) tergantung kemampuan si artis yang bersangkutan. 

Dengan pengorbanan dan upaya seperti itulah, bisnis entertain korea merengsek dan mulai mendominasi perhatian dunia. Menurut saya korea Negara yang sangat cerdas. Jika kita telaah lebih lanjut, apakah keistimewaan yang dimiliki oleh korea? Apakah korea memiliki sumber mineral yang dapat dijadikan lahan pertambangan? Apakah korea memiliki tanah yang cukup subur dan luas untuk diolah menjadi industry pertanianan perkebunan? Apakah korea memilki destinasi wisata seperti green canyon, kastil-kastil yang megah seperti di inggris dan hutan hujan tropis dan pegunungan yang menantang seperti di Indonesia?
Jawabannya tidak.

Namun korea melihat adanya peluang dan mereka minciptakannya, membangunnya sedemikian rupa sehingga menjadi pondasi yang cukup kuat, perlahan-lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan sehingga kita menganggap budaya yang mereka sampaikan adalah juga menjadi bagian dari budaya kita sendiri. Sangat cerdas.

Hallyu wave sudah menyebar secara menyeluruh di Indonesia. Siapa yang tidak kenal super junior, A pink, running man, full house bahkan kita mengenal silsilah pemerintahan monarki mereka melalui drama King Two Heart.

Saya pernah berdebat dengan seorang sahabat perkara hallyu wave ini. Mereka bersikeras bahwa
kegandrungan saya terhadap artis korea dan budayanya adalah manifestasi dari kegagalan saya mempertahankan jati diri saya sebagai bangsa Indonesia hingga akhirnya mereka mengatakan bahwa karakter saya telah terdegradasi dan nantinya akan muncul remajang memiliki kepribadian seperti saya yang lebih mengenal pulau jeju dari pada Pulau Mursala, gangnam daripada sunda kelapa, kimbab daripada rendang, kimchi daripada soto dan lee min ho dari pada Jendral Sudirman. Dan dia juga berpendapat bahwa generasi seperti ini akan menjadi generasi yang tidak bisa diandalkan dan sepenuhnya bertransformaasi menjadi masyarakat hedonis dan materialistis.

Saat itu saya tidak ingin membalas perkataannya secara langsung, karena saya menghargai setiap orang berhak memiliki pendapat. Namun saya akhirnya mengajak seorang teman untuk membuktikan teori saya mengenai perbedaan pola fikir yang kita tanamkan, karena apa yang disampaikannya bisa saja benar jika dilihat dari sudut pandang yang negatif. Kami lantas sering mengadakan gathering dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap budaya korea. Lantas kami berupaya untuk mewujudkan suatu pertunjukan yang dapat menduetkan/mencampurkan dua budaya yang kami cintai, korea-indonesia.

Dan terbukti, remaja-remaja yang menggandrungi kpop bukanlah orang-orang yang bodoh. Mereka cerdas dan imaginatif. Mereka merespon niat itu dengan sangat baik. Meskipun pertunjukan budaya itu belum terlaksana, namun diskusi yang sering kami lakukan membawa saya pada satu buah kesimpulan, bahwa masukknya suatu budaya asing tidak boleh dijadikan momok, karena bagaimanapun dunia ini berputar dengan sangat cepat. Kita tidak akan kuat hanya dengan kekuatan sendiri, budaya lain dapat kita kombinasikan, kita senergikan sehingga kita tidak tertinggal, namun dapat bersama-sama maju menjadi sebuah Negara yang berpikiran terbuka terhadap perubahan.  
Share:

Sunday, 8 June 2014

Garage Sale Versi Kamarkedua

Hallo....
welcome to my blog yang baru diaktifkan kembali setelah hiatus bertahun-tahun. Postingan ini dibuat karena saya sudah pusing memikirkan baju bekas titipan mamak yang sudah bertumpuk di kamar kos sejak beberapa bulan yang lalu.

jadi ceritanya mamak saya jualan baju bekas dan dia minta saya buat masarin juga, nah saya bingung mau jual ke mana. ini saya coba share fhoto dan harga mana tau ada yang minat bisa hubungi ke email kamarkedua@gmail.com (087867576234 - ayu)

Kalau mau ambil banyak bisa didiskon, kalau mau ambil semua, bisa ambil harga borong (sekitar 200an potong) harga nego aja lah, saya juga bingung mau nentuin harganya. (saya domisili di Medan ya)

Yang ini Harganya 10.000/pcs

Yang ini Harganya 10.000/pcs

Yang ini Harganya 10.000/pcs

Yang ini Harganya 10.000/pcs

Yang ini Harganya 10.000/pcs

Ini model kemeja jadi agak mahal, 25.000/pcs

Kalau Rok Harganya 15.000/pcs

Ini detail bahan pakaian

Share:

MAKAN (cerpen)

“Lapar kak.” anak lelaki itu bergelung dibalik selimut.
Seorang wanita muda membawakan sepiring nasi yang masih mengepul. Ditangan kirinya, dia menggenggam sebotol kecap dan seplastik kerupuk ikan berwarna putih.
“Kerupuknya jangan dihabiskan ya. Sisakan untuk besok.” Anak laki-laki itu mengangguk. “Kalau besok nggak hujan. Mungkin banyak yang beli es bikinan kakak.” Lagi-lagi lawan bicaranya hanya mengangguk.

*****
“Jangan dimakan.” Teriakanku ternyata mengejutkan si bungsu. Kue kering ditangannya jatuh, tepat dibawah genangan lumpur berwarna kecoklatan. Matanya menyiratkan pertanyaan.
“Kue itu sudah jorok. Nanti kamu sakit perut.”
“Tapi aku lapar, Mak.”
“Sebentar lagi kita sampai.” ucapku memberi semangat. Jalan yang kami lalui memang agak becek. Hujan berkepanjangan di kota ini menyebabkan genangan air dimana-mana, bahkan, banjir. Seminggu yang lalu, kampung kami di kepung air. Lalu seketika rumah-rumah tergenang termasuk tempat tinggal kami.
“Capek Mak.”
“Rumahnya sudah dekat. Di sana kita bisa makan.” tegas ku. Sejak banjir, kondisi keluarga kami yang susah jadi bertambah susah. Panganan yang biasanya mudah di jumpai seolah bersembunyi. Sudah dua hari anak ku ini tidak makan. Bagaimana tidak, sumber makanan terendam banjir. Buah-buahan membusuk, roti berjamur. Dan kemarin, aku memergoki bungsu yang sedang mengunyah nasi yang sudah beraroma asam.
Sebagai seorang ibu, hatiku pedih melihatnya. Aku seolah tidak memiliki pilihan. Dan disinilah kami akhirnya, menapaki jalanan becek menuju pemukiman terdekat untuk memncoba peruntungan.
Rumah di depan kami tidak besar. Bentuknya menyerupai kotak sabun, sedangkan dindingnya sudah berjamur. Aku mendahului anak ku, berdiri sejenak di depan pintu.
Aku menguatkan diri bahwa apa yang ku lakukan tidak salah. Pilihan ini kuambil agar anak ku tidak kelaparan dan mati. Aku kembali menguatkan diri dan menahan tangis yang hampir mengalir. Bungsu mendekati ku, bersembunyi dibalik bokong.
“Jangan ribut bisik ku.” Bungsu mengangguk.
Aku berjalan setengah berlari, mengendap-endap memasuki rumah itu. Seorang anak laki-laki terlihat sedang menulisi sebuah buku kucel berwarna kecoklatan. Noda air di buku itu jelas terlihat bahkan dari tempat ku melihat. Kami melewatinya.
Di dapur, seorang wanita muda sedang mencapur air dengan cairan berwarna merah dari dalam sebuah botol kaca. Aku menghentikan langkah, membuat bungsu menabrak punggung ku. Aku sudah akan marah, jika saja tidak melihat matanya yang sembab.
“Kenapa?” bisik ku
Bungsu menggeleng. “Takut Mak.”
“Tidak apa. Jangan takut. Kamu tunggu di luar saja. Biar mamak yang ambil makanannya.” Ujarku masih berbisik. Bungsu menggeleng. Dari tatapannya, aku tahu. Dia lebih takut ditinggal di luar. Karna bukan manusia-manusia itu yang ditakutinya. Tapi dia pasti tidak rela dan kuat melihat ku tertangkap.
Ku tatap matanya lekat-lekat. Saat ini, aku tidak takut apapun dan siapapun. Asalkan anak ku bisa makan, itu saja.

******
“Kak.” Anak laki-laki berwajah lonjong mendatangi kakaknya yang tengah mengolah es.
“Sudah selesai ngerjain PR?”
Bocah yang ditanya itu hanya menggeleng. “Besok, uang sekolah harus lunas kak. Yang belum lunas, nggak boleh ikut ujian.”
“Nanti kakak usahakan ya. Kalau nggak ada, bayar separuh saja dulu.”
Si bocah diam. Duduk pada kursi yang berada si samping kakaknya. “Kenapa lagi?”
“Kalau belum lunas, nggak boleh ujian.”
Si kakak memandang bocah sebelas tahun di hadapannya. Antara kesal dan iba. Tapi yang mereka punya saat itu hanya sekaleng beras, kerupuk ikan sisa semalam dan sebotol kecap.
Dua puluh dua ribub lima ratus biaya sekolah sebulan. Dikalikan tiga karena sudah menunggak. Enam puluh tujuh ribu lima ratus jumlahnya. Ntah harus dicarinya kemana. Sementara awan hitam datang lagi. Dan es di dalam teko mulai mencair.
“Kakak usahakan.” Gadis itu tidak ingin lemah dihadapan si bocah.
“Sekarang pergi mandi dan ganti baju. Setelah itu makan.” Bocah lelaki itu mengangguk. “Nanti kita berangkat sama-sama.”
*******
Di dalam lemari makan berdaki itu, hanya ada semangkuk nasi dan kerupuk ikan di dalam pelastik panjang yang masih terikat erat. Dari pantulan kaca, aku  melihat bocah itu. Begitu kurus dan kerdil. Dia sedang mematut-matut wajahnya yang kuyu pada sepotong kaca retak yang rekat di dinding. Kakaknya ntah ada dimana. Terakhir, aku melihatnya membawa dua baskom silinder yang masing-masing berisi cairan es dan pecahan bongkahan es yang pastinya sudah mulai mencair.
Lalu pandangan ku beralih pada si bungsu. Wajahnya sembab dan kelihatan kurang gizi. Matanya besar dan selalu berarir. Jari-jarinya kurus dan mengeriput. Dia harus makan hari ini.
Pada saat seperti ini, aku biasanya murka. Menyesali hidup yang harus mencuri. Sering kali, aku memilih mengais tong sampah dan memakan remah-remah nasi bungkus. Jika beruntung, aku akan menemukan sebongkah paha ayam yang baru dimakan setengah. Meski kurang sehat, makanan itu terasa nikmat.
Tapi hari ini berbeda. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, banjir menenggelamkan semuanya. Bukan hanya kami yang kesusahan. Tapi juga manusia, yang hidup berdampingan dengan kami. Tong sampah hanya berisi bangkai busuk dengan bau yang menusuk. Tidak ada remah makanan, pun sisa-sisa sayuran. Karna mereka pun pastinya kelaparan.
Aku melamum untuk sepersekian detik yang berharga. Masih melamun jika bungsu tidak memberi tanda. Bocah kurus mendekati lemari makan -tempat dimana saat ini aku berada-, Aku kalap. Ku julurkan jari-jariku menyentuh bulir-bulir nasi. Pintu lemari makan terbuka. Bungsu menutup mata.

*******
“Kak ada tikus di nasi.” Anak lelaki bertubuh kurus menjerit, memanggil kakaknya.
Terdengar suara langkah tergopoh-gopoh menuju dapur. Seekor tikus tanah seukuran kepalan tangan melompat dari dalam lemari. Terguling saat menyentuh ubin yang dingin.
Wanita muda sampai di dapur tepat disaat tikus itu berhasil kembali berdiri. Dengan keempat kakinya yang kurus, tikus itu melewati tungkai kaki si gadis, disusul tikus lain yang jauh lebih kecil. Keduanya berlari menuju jalan setapak.
“Kak, nasinya sudah dimakan tikus.” Si bocah berdiri mematung sambil mendekap piring plastik di dadanya.
“Nggak apa-apa. Masih bisa dimakan.” Si gadis menyendokkan nasi pada piring adiknya. Petir pecah, hujan turun. *****

Ayoe Lestari
April 2011



Cerpen ini pernah dimuat di Harian Analisa Medan
Share:

Saturday, 7 June 2014

Tentang Buku yang Baru Saja Kubaca

Tulisan ini masuk kategori curhat kali ya? nggak ngerti lah, yang pasti abis baca novel karya ken terate ini saya jadi emosional. Pertama jelas karena ceritanya nggak sebaik yang saya bayangkan. Kedua karena karakter-kareakter yang ditampilkan terlalu dangkal dan kesannya jadi nggak ngena di hati.

Novel yang bikin nyesek ini judulnya pieces of joy (ini sebenarnya teenlit, lucu juga karena saya menaggapinya dengan serius), satu dari serinya my friend my dreams. Nah saya kan udah baca dua yang terdahulu, dan paling tertarik dengan karakter joy. Dan saat tau Ken meluncurkan satu seri khusus buat nyeritain joy, saya jadi blingsatan dan pengen beli.

Dan saya kecewa berat, kesan joy yang tangguh berpikiran terbuka dan menyenangkan jadi ilang. Joy malah jadi cewek cengeng yang gampang terinterfensi oleh lingkungan sekitar. Stink, cowok yang berhasil mengembalikan keceriaan joy di buku kedua (marshmellow chocolate) juga jadi aneh di buku ini. Stink berubah jadi cowok menyebalkan dan kesannya nggak bisa memahami tanggung jawab joy sebagai pelajar.
Dan munculnya tokoh baru, membuat buku ini menjadi kisah cinta segitiga yang basi.

Tapi lebih dari semua itu, saya kecewa dengan gagasan yang dibangun penulis di buku ini. Tanpa kita sadari, penulis adalah brainstormer yang sangat ampuh dan kita harus hati-hati memasukkan gagasan dalam buku kita, karna gagasan itu akan dibaca oleh ribuan orang. Di buku ini, Ken terlalu mendeskreditkan Stink (saya jadi kasihan sama nasib si stink ini).

Orang-orang yang punya ekonomi kelas menengah ke bawah kan memang agak sarkas dan sinis memandang kekayaan orang berada. sering kita dengar pengendara motor mengumpat "dasar orang kaya!" saat ada mobil bening menyalip kendaraan mereka, dan itu manusiawi menurut saya. karena tekanan hiduplah yang membuat mereka berpandangan seperti itu.

Lantas pengamen, apankah mengamen itu pekerjaan yang hina? sebagaian orang mungkin menganggap begitu, tapi di tengah kehidupan yang sulit begini, susah cari kerja tapi kebutuhan untuk makan dan bertahan hidup tidak bisa dinegasikan? (saya menganggap karakter joy yang saya sukai bisa menerimanya, anggaplah dia kecewa, itu wajar karena dia masih remaja. Tapi yang kita bahas ini Joy, karakter yang sudah pernah mengalami satu fase pendewasaan karena orang tuanya bercerai dan ditolak mentah-mentah sama cowok yang suka sama temannya yang super cantik)

Saya fikir, kekecewaan joy bisa diatasinya dengan cerewet nanya ini itu ke kawan-kawannya, bukannya malah nangis bombai gak jelas. Stink juga jadi karakter yang menyedihkan, di buku kedua stink itu ibarat lakon pendukung yang charming dan punya daya tarik kuat meskipun tidak serupa dengan tokoh cowok kebanyakan yang identik dengan cakep, pintar, kaya dsb-dsb. Stink lebih sederhana dan manusiawi dengan selera humor dan keapa-adaannya.

Perbedaan dan ketidak puasan terhadap pasangan setelah kita mengetahui karakter aslinya memang wajar. Apalagi perbedaan usia antara stink dan Joy juga lumayan, joy kelas 2 SMA dan stink kuliah. tapi ane rasa, novel ini akan lebih hidup dan punya nafas kalau yang dibahas itu upaya-upaya yang mereka lakukan dalam menjalani hubungan dan menerima karakter pasangan.

Masalah yang dihadapi stink juga absurd, terlalu kompleks dan tanpa alasan. berulang-ulang disebutkan bahwa stink orang yang pengin bebas. tapi di ambang berakhirnya cerita teman sekerjanya bilang kalau stink itu anaknya moody tapi kalau udah ketemu orang yang dia sukai dia akan berusaha yang terbaik dan mau mencoba untuk memperbaiki kesalahannya meski gagal.

Semestinya karakter stink bisa lebih digali, jadi pembaca bisa benar-benar yakin, apakah stink memang pemalas menyebalkan yang tidak peduli pacarnya lulus sekolah atau tidak. Atau stink hanya salah satu orang sarkastik yang menganggap dunia ini sudah sangat tidak adil dan dia udah nggak punya kesempatan untuk menjadi bagian dalam kegilaan yang diciptakan oleh dunia ini.

Jujur saja saya jadi kasian sama tokoh Joy dan Stink. Bukan kasian seperti saat kita menonton hunger games dan kita kasian sama katnis dan peta yang harus jadi tribute atau kasian sama jack di film titanic karena dia musti mengorbankan diri untuk menyelamatkan rose, atau kasian sama anak-anak tuna rungu yang kalah dipengadilan melawan kepala yayasan mereka di film silence. Tapi kasian karena mereka dijejali konflik dalam sebuah kisah, tapi kesannya mereka tidak melakukan apa-apa dan terlihat konyol sampai akhir. Saya yang membacanya saja jadi kesal. Maaf mungkin ini karena saya agak memahami apa yang dirasakan stink dan Joy kali ya...

  
Share:

AIR TERJUN ‘17 TINGKAT’ SANGKAPANE (Kuala Simpang – Aceh Tamiang)

Berawal dari cerita seorang kawan bernama Putra yang berasal dari Bandar Pusaka, Aceh Tamiang tentang air terjun bertingkat-tingkat yang bisa kita susuri hingga tingkat teratasnya. Saya dan kelima sahabat yang tertarik untuk membuktikan cerita itu memutuskan untuk tracking ke tempat tersebut yang biasa disebut Air Terjun Sangkapane oleh penduduk setempat.
Kami berenam bertolak dari stasiun Pinang Baris menuju Kuala Simpang menggunakan bus. Tapi perjalanan masih panjang, setelah berkendara selama lebih dari dua jam, kami kembali melanjutkan perjalanan dari Kuala simpang menuju Bandar Pusaka. Kali ini Putra sudah menyertai kami, dia langsung menjemput saat kami memberi kabar bahwa rombongan sudah tiba di Kuala Simpang.
Setelah melepas penat sejenak di kediaman Putra, kami kembali melanjutkan perjalanan menggunakan truk engkel. Kali ini rombungan sudah bertambah banyak, karena teman-teman putra yang sudah lebih sering mendatangi air terjun Sangkapane bersedia untuk ikut dan menjadi pemandu.
Tidak butuh waktu lama, rumah-rumah penduduk yang kami lewati sudah berganti pohon-pohon sawit. Jalan yang awalnya lurus, mulai berkelok dan tidak rata. Setelah satu jam terguncang-guncang di dalam bak truk, perjalan harus dihentikan karena jalan yang dilalui sudah sangat becek dan berlubang. Kamipun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Untuk sampai di Air Terjun Sangkapane, kami harus menyusuri sungai yang berada di dalam hutan di lereng gunung. Perjalanan tidak bisa dibilang mudah, tapi karena rasa penasaran yang besar dan rombongan yang lumayan ceria, saya merasa cukup nyaman melewati perjalan ini.
Dua Jam perjalanan dengan baju basah dan sesekali menemukan kotoran gajah, kami akhirnya tiba di tingkat pertama air terjun sangkapane tersebut. Saya berucap syukur dan subhanallah sebelum akhirnya larut dalam euphoria melihat pemandangan yang sungguh indah tersebut. Tidak menunggu waktu lama, kami menapaki batu-batu untuk merengsek naik menuju tingkat kedua.
Sebagian rombongan, terutama yang sudah berkali-kali ke tempat ini, memutuskan untuk menunggu ditingkat pertama. Namun saya dan kawan-kawan dari medan masih sangat antusias bisa berdiri di tingkat teratas air terjun. Tapi stamina yang sudah terkuras diawal perjalanan hanya mampu membawa kami hingga separuh jalan. Kami menyerah di tingkat kesepuluh dan memutuskan untuk mengabadikan keberadaan kami di tempat itu dengan berfoto.
Sebelum kembali menyusuri sungai untuk pulang, kawan-kawan dari Aceh Tamiang menawari kami makan ikan pancing yang kami sambut dengan antusias. Mereka menyiapkan tombak dan kail lalu duduk dibatu ceper yang terletak dimuara tingkat pertama air terjun. Beberapa orang yang lebih berani, malah menceburkan diri ke air dan mulai menombaki ikan. Meski ikan yang berhasil ditangkap ukurannya relative kecil, namun rasanya sangat manis. Apalagi kami menikmatinya diantara gemericik suara air yang menghantam batu, gesekan daun yang di goyangkan angin dan pakaian lembab.
Sambil menikmati santapan, putra bercerita tentang gajah dan harimau yang sesekali masih terlihat di hutan ini. Meski begitu, hewan-hewan liar itu lebih senang berada jauh di perut hutan dan tidak akan menghiraukan manusia jika tidak diganggu lebih dulu. Meskipun saya tertantang untuk melihat hewan-hewan itu dari dekat, tapi saya merasa agak bersyukur juga tidak berpapasan dengan mereka selama perjalanan ini.
Meskipun saya sempat keseleo dan basah kuyup selama perjalanan, tapi menurut saya itu harga yang pas untuk menikmati keindahan alam yang masih sangat alami. Putra dan kawan-kawannya yang menamakan diri mereka sangkapane green institute bercita-cita untuk mengembangkan dan memperkenalkan objek wisata yang ada di Aceh Tamiang. Dan saya sangat mendukung hal itu, karena dengan akses transportasi dan akomodasi yang lebih baik, tempat wisata seperti Air Terjun Sangkapane tentu akan menjadi pilihan wisata yang bukan hanya akan menghilangkan jenuh namun juga membangkitkan gairah hidup dan rasa syukur atas kehidupan yang kita miliki.

________

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Lovely Holiday 
Share:

Friday, 6 June 2014

Pangeran Ikan dan Permasyuri Sultan (dongeng)


Zaman dahulu, di sebuah negeri Arab, memerintah lah seorang sultan. Sultan gemar bersantap dengan makanan yang lezat-lezat. Suatu hari, sultan ingin hidangan yang dimasak dari ikan. Maka dikerahkanlah nelayan-nelayan untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya, dan mengumpulkannya di dapur istana.
Seorang pelayan melihat ada ikan kecil yang manis sekali diantara tumpukan ikan di dapur. Dan ikan tersebut masih hidup. Pelayan itu merasa kasihan.
“Ah, Sultan tak kan kehilangan kalau ikan ini kuambil.” Pikirnya. Lalu dimasukkannya ikan itu ke dalam jambangan.
Beberapa hari kemudian permasyuri melihat ikan itu. Beliau sangat tertarik. Dibawanya ikan ikan itu ke istana dan dijadikannya binatang kesayangan.
Seminggu kemudian, ikan itu sudah bertambah besar. Jambangannya sudah tak muat lagi. Terpaksa permaisuri memasukkannya ke dalam akuarium.
Untuk sementara cukup. Tapi beberapa hari kemudian, ikan itu tak bisa lagi berenang dalam akuarium. Ia sudah lebih panjang dari panjangnya akuarium. Terpaksa ia dipindahkan ke akuarium yang lebih besar. Begitu seterusnya. Seminggu sekali ikan tersebut harus dipindahkan ke akuarium yang lebih besar.
Akhirnya permaisuri memindahkan ikan itu ke dalam kolam di taman istana. Dengan upacara meriah, ikan itu dipindahkan ke kolam istana. Dan ikan tersebut ternyata senang dan tubuhnya tumbuh semakin besar.
Sayang, ikan yang awalnya mungil itu akhirnya menjadi makhluk yang menyeramkan. Ketika sudah tidak bertambah besar lagi, dia selalu tampak merenung di sudut kolam. Tak berminat untuk berenang-renang.
Permaisuri amat sayang padanya. Beliau sendiri yang member makan ikan itu, dua kali sehari.
“Ada yang kau pikirkan?” tanya permaisuri suatu hari. “Keliahatannya kau sedih benar?”
Beliau agak kaget ketiga ikan itu menjawab, meskipun pada zaman itu hewan-hewan memang bisa berbicara.
Ikan itu mengangkat hidungnya dan menjawab “ aku bosan sendirian di dalam kolam ini, tak ada yang bisa kukerjakan. Aku ingin punya kawan. Aku ingin kawin, tapi aku tak ingin kawin dengan ikan. Aku ingin kawin dengan seorang gadis muda.”
Sekarang permaisuri benar-benar kaget. Tak pernah dia membayangkan bahwa ikannya akan meminta kawin. Bagaimanapun permintaannya itu tidak aneh, andai saja dia ingin kawin dengan sesame ikan, bukannya dengan seorang gadis.
Kendati begitu, permaisuri berminat memenuhi permintaan ikan kesayangannya. Meskipun dia tidak yakin aka nada seorang gadis yang bersedia kawin dengan ikan.
Punggawa-punggawa istana diutus keseluruh penjuru kerajaan untuk menyiarkan pengumuman. Hadiah berlimpah akan diberikan kepada orang tua yang putrinya bersedia dinikahkan dengan ikan kesayangan permaisuri.
Dan tidak ada yang bersedia. Tentu saja!!
Sementara itu, jauh di negeri utara, tinggallah seorang janda tua yang kejam. Dia mendengar kabar tentang pengumuman sang permaisuri.
Janda ini punya seorang anak kandung, seorang gadis bertampang jelek dan berkelakuan buruk. Dia juga punya anak tiri, anak mendiang suaminga. Anak tirinya adalah seorang gadis yang cantik dan lemah lembut bernama Karin.
Setiap hari Karin merasa sedih. Dia tahu bahwa ibu dan saudara tirinya tidak menyukainya. Mereka selalau memperlakukannya dengan kejam.
Ketika utusan sultan mengunjungi rumah mereka, si ibu tiri merasa gembira. Dia berfikir bahwa inilah kesempatan untuk menyingkirkan Karin dan memperoleh hadiah.
“kau akan berkesempatan untuk menaikkan derajatmu, Karin.” Kata janda tua itu. “Pergilah ke sungai, cuci semua pakaianmu. Setelah itu berkemaslah untuk suatu perjalanan yang jauh. Kau akan hidup mewah di istana dan aku akan mendapat hadiah banyak sekali. Ingat, kau harus menuruti perintah permaisuri di sana. Kau harus menikah dengan ikan kesayangannya. Yah.. dia mungkin bukan jodoh yang kau impikan. Tapi anak yatim seperti kau ini harus bersyukur bisa tinggal di istana raja.”
Karin tahu, tak ada gunanya membantah ibu tirinya. Dia pergi ke sungai dan mencuci pakaiannya sambil menangis.
Seekor katak melompat dari balik batu dan bertanya mengapa dia menangis. Dan ketika Karin menceritakan nasibnya yang malang, katak itu malahan tertawa.
“Anak manis,” katanya “Jangan sedih dan bingung. Ikan itu sesungguhnya adalah pangeran tampan yang terkena sihir. Mari kuberitahukan rahasianya supaya segala sesuatunya berubah menyenangkan bagimu.”
Katak itu memberikan tiga butir kerikil kepada Karin.
“sebelum menikah dengan ikan itu, kau harus duduk di tepi kolam. Dia akan muncul ke permukaan.” Katak itu menerangkan. “Jika dia muncul, cepat masukkan sebutir kerikil ini ke dalam mulutnya. Dia takkan bisa menelanmu. Tapi awas, jangan sampai kau tertidur di tepi kolam.”
Dengan gembira Karin menerima tiga butir kerikil itu. Dibawanya keranjang cucian kembali ke rumah.
Karin tak menyesal meninggalkan rumah ibu tirinya. Sampai di istana, ia disambut dengan meriah. Diberi pakaian yang indah-indah, perhiasan dan sebuah pondok mungil di tepi kolam.
Kemudian permaisuri berkata, “ kau harus duduk sendirian di tepi kolam. Ikanku akan keluar melihat calon istrinya.”
Dengan cemas Karin duduk di tepi kolam. Tiba-tiba muncullah sebuah kepala yang mengerikan bentuknya. Secepat kilat dilemparkannya sebutir kerikil ke dalam mulut ikan yang menganga lebar. Ikan itu menyelam.
Tapi beberapa menit kemudian, dia muncul kembali. Untuk kedua kalinya, Karin melemparkan kerikil ke dalam mulut ikan tersebut dan ikan pun menyelam kembali.
Sekarang hanya tinggal sebutir kerikil lagi. Apa yang harus dilakukan Karin jika kerikilnya habis?
Tak lama kemudia, ikan itu muncul lagi ke permukaan. Sekuat tenaga Karin melemparkan kerikil terakhir ke mulut ikan. Namun kali ini si ikan tidak kembali menyelam. Terdengar suara menggelegar dan di hadapan Karin berdiri berdiri seorang pangeran yang sangat tampan.
Kutukan sihir telah musnah. Dan dengan bantuan permaisuri, kedua muda-mudi yang bahagia itu dinikahkan dan diantarkan ke Negara asal sang pangeran. Da keduanya pun hidup bahagia. Kumpulan Dongeng Sedunia

Komentar saiya: Cerinya agak mirip pangeran kodok cuma beda setting. Dongeng model begini gampang ditebak tapi paling disukai anak-anak perempuan. Meskipun ada pelajaran yang terkandung di dalamnya, misalnya nggak boleh dengki sama orang lain kayak si ibu tiri.
Yang aneh di sini, si pangeran ikan kan di sihir, tapi pembaca gak dikasi tahu kenapa dia disihir dan kalau gak dikasi kerikil bisa jadi si ikan bakalan makan si gadis kan? Berarti si ikan brutal donk. Padahal dalam tubuh ikan dia sudah berfikir seperti manusia, buktinya dia minta dikawinin sama manusia, bukannya sama ikan.


Share:

Penyanyi dari Bremen (Dongeng)

Adalah seekor keledai yang diusir oleh tuannya, padahal dia sudah bekerja untuk tuannya itu selama bertahun-tahun.
“Kau sudah tua, tidak berguna lagi untukku. Enyahlah dari sini!”
Si keledai sakit hati. Dia pergi mengadu nasib di kota Bremen. Dia mendengar kabar bahwa walikota Bremen sedang mencari penyanyi untuk orkes kota.
Di jalan, ia bertemu dengan anjing, kucing dan ayam jago. Ketiganya berkata bahwa mereka pun diusir oleh tuannya masing-masing setelah bekerja bertahun-tahun. Ketiga binatang itupun bermaksud pergi ke Bremen.
Keempat binatang itu sepakat untuk bekerja sama. Mereka sama-sama senang menyanyi. Anjing punya suara bas yang dalam. Kucing punya suara baritone, sedangkan ayam jago suara tenor yang jernih. Maka berangkatlah keempat binatang itu. Tapi kota Bremen jauh sekali. Ketika malam tiba, mereka masih berada di dalam hutan.
Di kejauhan mereka melihat ada cahaya. Samar- samar di sela-sela lebatnya pepohonan. Segera mereka menuju ke sana. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah pondok. Keledai mengintip dari jendela. Apa yang dilihatnya membuatnya gemetar ketakutan. Di dalam, duduk mengelilingi meja yang penuh hidangan lezat, ada beberapa orang penyamun bertampang seram, lengkap dengan senjatanya.
Binatang-binatang itu sangat lapar dan capek. Sayang kalau kesempatan baik itu dilewatkan begitu saja. Mula-mula keledai meletakkan kaki depannya di ambang jendela. Lalu anjing naik ke punggungnya. Kucing naik ke punggun anjing, dan ayam jago naik ke punggung kucing.
Dalam cahaya suram, keempat binatang itu Nampak seperti sesosok makhluk yang menyeramkan, lebih-lebih ketika mereka mulai bernyanyi.
Penyamun-penyamun itu mengira ada setan datang membuntuti mereka. Tunggang langgang mereka melarikan diri.
Dengan puas keempat binatang itu duduk mengelilingi meja makan. Piring-piring makanan yang lezat segera menjadi licin tandas. Setelah kenyang keempat binatang itu tidur pulas.
Malam makin larut. Para penyamun kedinginan. Lewat tengah malam mereka mengendap-endap mendekati pondok. Yang paling berani diantara mereka masuk ke dalam.
Dalam pondok yang gelap, penyamun itu mengira ada dua cawan menyala. Padahal yang dilihatnya adalah sepasang mata kucing. Dia mendekat karena ingin tahu. Tak sengaja kakinya menendang si kucing. Kucing melompat marah dan mencakar wajah si penyamun.
Waktu berbalik dan bermaksud hendak melarikan diri, terinjak olehnya anjing yang sedang tidur. Plak! Kaki anjing menendangnya. Lepas dari tempelengan anjing, dia menubruk keledai yang kemudian menyepaknya dengan kaki belakang. Mendengar hal itu, ayam jago terbangun dan berkokok keras-keras.
Sekarang penyamun-penyamun itu yakin, pondok mereka memang telah dihuni setan. Mereka tidak mau lagi tinggal di sana.
Keesokan harinya, keempat binatang itu memeriksa gudang bawah tanah dan menemukan banyak sekali harta curian yang di simpan di sana. Sejak itu mereka hidup senang meskipun batal menjadi penyanyi di kota Bremen.


Komentar saiya: Dongeng ini termasuk fabel karena menjadikan hewan sebagai tokoh utama. Ceritanya cukup mendidik, karena digambarkan bahwa kita tidak boleh menyerah dan harus menggunakan akal jika ingin memperoleh kemenangan, seperti yang dilakukan oleh kuda dan kawan-kawannya ketika menghadapi penyamun.

Ada juga pesan tersirat yang mengajarkan kita agar tidak lupa kacang pada kulitnya seperti yang dilakukakan oleh pemilik hewan yang mengabaikan peliharaannya ketika si peliharaan sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan.
Share:

Thursday, 5 June 2014

Crush into You


Novel ini sebenarnya klise, tentang cewek dan cowok yang terjebak dalam permusuhan sejak kecil lalu terpisah belasan tahun. Saat bertemu kembali mereka terlibat kejadiannya yang membuat keduanya berfikir kembali tentang permusuhan mereka selama ini.

Nadia seorang wanita muda dengan pekerjaan sebagai seorang web desaigner. Menghabiskan liburan dengan kedua sahabatnya di salah satu pub hotel di Bali. Karena kebanyakan minum, nadia mabuk dan teler hingga tidak mampu menemukan kedua sahabatnya dan dia ternyata lupa membawa kunci kamarnya. Saat di lift, dia bertemu dengan Kafka yang akhirnya membawa Nadia ke kamarnya sendiri. selengkapnya
Share:

Panduan ke Pantai di Serdang Bedagai




Serdang Bedagai adalah salah satu daerah di Sumatera Utara, hanya beberapa kilometer (kira-kira 60 menit) dari Medan. Ada beberapa pantai yang berjejer disepanjang jalan dan dapat dikunjungi diantaranya: 

Pantai-pantai di serdang bedagai
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts