Author Info

Friday, 6 June 2014

Pangeran Ikan dan Permasyuri Sultan (dongeng)


Zaman dahulu, di sebuah negeri Arab, memerintah lah seorang sultan. Sultan gemar bersantap dengan makanan yang lezat-lezat. Suatu hari, sultan ingin hidangan yang dimasak dari ikan. Maka dikerahkanlah nelayan-nelayan untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya, dan mengumpulkannya di dapur istana.
Seorang pelayan melihat ada ikan kecil yang manis sekali diantara tumpukan ikan di dapur. Dan ikan tersebut masih hidup. Pelayan itu merasa kasihan.
“Ah, Sultan tak kan kehilangan kalau ikan ini kuambil.” Pikirnya. Lalu dimasukkannya ikan itu ke dalam jambangan.
Beberapa hari kemudian permasyuri melihat ikan itu. Beliau sangat tertarik. Dibawanya ikan ikan itu ke istana dan dijadikannya binatang kesayangan.
Seminggu kemudian, ikan itu sudah bertambah besar. Jambangannya sudah tak muat lagi. Terpaksa permaisuri memasukkannya ke dalam akuarium.
Untuk sementara cukup. Tapi beberapa hari kemudian, ikan itu tak bisa lagi berenang dalam akuarium. Ia sudah lebih panjang dari panjangnya akuarium. Terpaksa ia dipindahkan ke akuarium yang lebih besar. Begitu seterusnya. Seminggu sekali ikan tersebut harus dipindahkan ke akuarium yang lebih besar.
Akhirnya permaisuri memindahkan ikan itu ke dalam kolam di taman istana. Dengan upacara meriah, ikan itu dipindahkan ke kolam istana. Dan ikan tersebut ternyata senang dan tubuhnya tumbuh semakin besar.
Sayang, ikan yang awalnya mungil itu akhirnya menjadi makhluk yang menyeramkan. Ketika sudah tidak bertambah besar lagi, dia selalu tampak merenung di sudut kolam. Tak berminat untuk berenang-renang.
Permaisuri amat sayang padanya. Beliau sendiri yang member makan ikan itu, dua kali sehari.
“Ada yang kau pikirkan?” tanya permaisuri suatu hari. “Keliahatannya kau sedih benar?”
Beliau agak kaget ketiga ikan itu menjawab, meskipun pada zaman itu hewan-hewan memang bisa berbicara.
Ikan itu mengangkat hidungnya dan menjawab “ aku bosan sendirian di dalam kolam ini, tak ada yang bisa kukerjakan. Aku ingin punya kawan. Aku ingin kawin, tapi aku tak ingin kawin dengan ikan. Aku ingin kawin dengan seorang gadis muda.”
Sekarang permaisuri benar-benar kaget. Tak pernah dia membayangkan bahwa ikannya akan meminta kawin. Bagaimanapun permintaannya itu tidak aneh, andai saja dia ingin kawin dengan sesame ikan, bukannya dengan seorang gadis.
Kendati begitu, permaisuri berminat memenuhi permintaan ikan kesayangannya. Meskipun dia tidak yakin aka nada seorang gadis yang bersedia kawin dengan ikan.
Punggawa-punggawa istana diutus keseluruh penjuru kerajaan untuk menyiarkan pengumuman. Hadiah berlimpah akan diberikan kepada orang tua yang putrinya bersedia dinikahkan dengan ikan kesayangan permaisuri.
Dan tidak ada yang bersedia. Tentu saja!!
Sementara itu, jauh di negeri utara, tinggallah seorang janda tua yang kejam. Dia mendengar kabar tentang pengumuman sang permaisuri.
Janda ini punya seorang anak kandung, seorang gadis bertampang jelek dan berkelakuan buruk. Dia juga punya anak tiri, anak mendiang suaminga. Anak tirinya adalah seorang gadis yang cantik dan lemah lembut bernama Karin.
Setiap hari Karin merasa sedih. Dia tahu bahwa ibu dan saudara tirinya tidak menyukainya. Mereka selalau memperlakukannya dengan kejam.
Ketika utusan sultan mengunjungi rumah mereka, si ibu tiri merasa gembira. Dia berfikir bahwa inilah kesempatan untuk menyingkirkan Karin dan memperoleh hadiah.
“kau akan berkesempatan untuk menaikkan derajatmu, Karin.” Kata janda tua itu. “Pergilah ke sungai, cuci semua pakaianmu. Setelah itu berkemaslah untuk suatu perjalanan yang jauh. Kau akan hidup mewah di istana dan aku akan mendapat hadiah banyak sekali. Ingat, kau harus menuruti perintah permaisuri di sana. Kau harus menikah dengan ikan kesayangannya. Yah.. dia mungkin bukan jodoh yang kau impikan. Tapi anak yatim seperti kau ini harus bersyukur bisa tinggal di istana raja.”
Karin tahu, tak ada gunanya membantah ibu tirinya. Dia pergi ke sungai dan mencuci pakaiannya sambil menangis.
Seekor katak melompat dari balik batu dan bertanya mengapa dia menangis. Dan ketika Karin menceritakan nasibnya yang malang, katak itu malahan tertawa.
“Anak manis,” katanya “Jangan sedih dan bingung. Ikan itu sesungguhnya adalah pangeran tampan yang terkena sihir. Mari kuberitahukan rahasianya supaya segala sesuatunya berubah menyenangkan bagimu.”
Katak itu memberikan tiga butir kerikil kepada Karin.
“sebelum menikah dengan ikan itu, kau harus duduk di tepi kolam. Dia akan muncul ke permukaan.” Katak itu menerangkan. “Jika dia muncul, cepat masukkan sebutir kerikil ini ke dalam mulutnya. Dia takkan bisa menelanmu. Tapi awas, jangan sampai kau tertidur di tepi kolam.”
Dengan gembira Karin menerima tiga butir kerikil itu. Dibawanya keranjang cucian kembali ke rumah.
Karin tak menyesal meninggalkan rumah ibu tirinya. Sampai di istana, ia disambut dengan meriah. Diberi pakaian yang indah-indah, perhiasan dan sebuah pondok mungil di tepi kolam.
Kemudian permaisuri berkata, “ kau harus duduk sendirian di tepi kolam. Ikanku akan keluar melihat calon istrinya.”
Dengan cemas Karin duduk di tepi kolam. Tiba-tiba muncullah sebuah kepala yang mengerikan bentuknya. Secepat kilat dilemparkannya sebutir kerikil ke dalam mulut ikan yang menganga lebar. Ikan itu menyelam.
Tapi beberapa menit kemudian, dia muncul kembali. Untuk kedua kalinya, Karin melemparkan kerikil ke dalam mulut ikan tersebut dan ikan pun menyelam kembali.
Sekarang hanya tinggal sebutir kerikil lagi. Apa yang harus dilakukan Karin jika kerikilnya habis?
Tak lama kemudia, ikan itu muncul lagi ke permukaan. Sekuat tenaga Karin melemparkan kerikil terakhir ke mulut ikan. Namun kali ini si ikan tidak kembali menyelam. Terdengar suara menggelegar dan di hadapan Karin berdiri berdiri seorang pangeran yang sangat tampan.
Kutukan sihir telah musnah. Dan dengan bantuan permaisuri, kedua muda-mudi yang bahagia itu dinikahkan dan diantarkan ke Negara asal sang pangeran. Da keduanya pun hidup bahagia. Kumpulan Dongeng Sedunia

Komentar saiya: Cerinya agak mirip pangeran kodok cuma beda setting. Dongeng model begini gampang ditebak tapi paling disukai anak-anak perempuan. Meskipun ada pelajaran yang terkandung di dalamnya, misalnya nggak boleh dengki sama orang lain kayak si ibu tiri.
Yang aneh di sini, si pangeran ikan kan di sihir, tapi pembaca gak dikasi tahu kenapa dia disihir dan kalau gak dikasi kerikil bisa jadi si ikan bakalan makan si gadis kan? Berarti si ikan brutal donk. Padahal dalam tubuh ikan dia sudah berfikir seperti manusia, buktinya dia minta dikawinin sama manusia, bukannya sama ikan.


Share:

1 comment:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts