Author Info

Friday, 6 June 2014

Penyanyi dari Bremen (Dongeng)

Adalah seekor keledai yang diusir oleh tuannya, padahal dia sudah bekerja untuk tuannya itu selama bertahun-tahun.
“Kau sudah tua, tidak berguna lagi untukku. Enyahlah dari sini!”
Si keledai sakit hati. Dia pergi mengadu nasib di kota Bremen. Dia mendengar kabar bahwa walikota Bremen sedang mencari penyanyi untuk orkes kota.
Di jalan, ia bertemu dengan anjing, kucing dan ayam jago. Ketiganya berkata bahwa mereka pun diusir oleh tuannya masing-masing setelah bekerja bertahun-tahun. Ketiga binatang itupun bermaksud pergi ke Bremen.
Keempat binatang itu sepakat untuk bekerja sama. Mereka sama-sama senang menyanyi. Anjing punya suara bas yang dalam. Kucing punya suara baritone, sedangkan ayam jago suara tenor yang jernih. Maka berangkatlah keempat binatang itu. Tapi kota Bremen jauh sekali. Ketika malam tiba, mereka masih berada di dalam hutan.
Di kejauhan mereka melihat ada cahaya. Samar- samar di sela-sela lebatnya pepohonan. Segera mereka menuju ke sana. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah pondok. Keledai mengintip dari jendela. Apa yang dilihatnya membuatnya gemetar ketakutan. Di dalam, duduk mengelilingi meja yang penuh hidangan lezat, ada beberapa orang penyamun bertampang seram, lengkap dengan senjatanya.
Binatang-binatang itu sangat lapar dan capek. Sayang kalau kesempatan baik itu dilewatkan begitu saja. Mula-mula keledai meletakkan kaki depannya di ambang jendela. Lalu anjing naik ke punggungnya. Kucing naik ke punggun anjing, dan ayam jago naik ke punggung kucing.
Dalam cahaya suram, keempat binatang itu Nampak seperti sesosok makhluk yang menyeramkan, lebih-lebih ketika mereka mulai bernyanyi.
Penyamun-penyamun itu mengira ada setan datang membuntuti mereka. Tunggang langgang mereka melarikan diri.
Dengan puas keempat binatang itu duduk mengelilingi meja makan. Piring-piring makanan yang lezat segera menjadi licin tandas. Setelah kenyang keempat binatang itu tidur pulas.
Malam makin larut. Para penyamun kedinginan. Lewat tengah malam mereka mengendap-endap mendekati pondok. Yang paling berani diantara mereka masuk ke dalam.
Dalam pondok yang gelap, penyamun itu mengira ada dua cawan menyala. Padahal yang dilihatnya adalah sepasang mata kucing. Dia mendekat karena ingin tahu. Tak sengaja kakinya menendang si kucing. Kucing melompat marah dan mencakar wajah si penyamun.
Waktu berbalik dan bermaksud hendak melarikan diri, terinjak olehnya anjing yang sedang tidur. Plak! Kaki anjing menendangnya. Lepas dari tempelengan anjing, dia menubruk keledai yang kemudian menyepaknya dengan kaki belakang. Mendengar hal itu, ayam jago terbangun dan berkokok keras-keras.
Sekarang penyamun-penyamun itu yakin, pondok mereka memang telah dihuni setan. Mereka tidak mau lagi tinggal di sana.
Keesokan harinya, keempat binatang itu memeriksa gudang bawah tanah dan menemukan banyak sekali harta curian yang di simpan di sana. Sejak itu mereka hidup senang meskipun batal menjadi penyanyi di kota Bremen.


Komentar saiya: Dongeng ini termasuk fabel karena menjadikan hewan sebagai tokoh utama. Ceritanya cukup mendidik, karena digambarkan bahwa kita tidak boleh menyerah dan harus menggunakan akal jika ingin memperoleh kemenangan, seperti yang dilakukan oleh kuda dan kawan-kawannya ketika menghadapi penyamun.

Ada juga pesan tersirat yang mengajarkan kita agar tidak lupa kacang pada kulitnya seperti yang dilakukakan oleh pemilik hewan yang mengabaikan peliharaannya ketika si peliharaan sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan.
Share:

0 comments:

Post a comment

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts