Author Info

Saturday, 15 November 2014

Jong Jin rilis album dengan judul Sallang

Add caption
Tadi kan lagi iseng aja ngebacain blognya yesung, terus ngedonlotin foto-foto selcanya si abang. terus ada dua status dia yang kayaknya menarik. yang satu statusnya "i am doing fine" pake foto siluet berdiri latarnya laut, langit dan matahari terbenam. Yang entah kenapa berasa jadi status sedih padahal doing fine kan ya?? *okeh abaikan ke-kepo-an saya*

Yang kedua status ngeshare lagunya jong jin yang judulnya sallang. Percaya nggak percaya gitu pas ngebuka linknya, dan pas ngedengerin......
Tada.... suaranya Jongjin qute, beda kali lah sama suaranya Yesung yang berat-berat bikin nangis.

Jongjin kan duet sama Lovey, nah suara cewek ini juga nge-match gitu. Jadinya berasa jatuh cinta lagi, berasa kencan pertama lagi, berasa balik ke masa SMA lagi.... *padahal blom tau arti liriknya kan ya*

Kok bisa ya, bg Yeye nyembunyiin adeknya yang punya suara manis begini. Jadi kepengen denger lagu yang laen....



Share:

Seberkas Senja Di Mata Tua

Pagi yang sangat biasa, diawali hunusan matahari yang menebas belantara kabut sisa semalam. Seorang tua telah terjaga cukup lama dari tidurnya, membereskan kasur yang isinya bukan kapuk melainkan perca-perca goni yang dipungutinya dari tempat pembuangan pabrik tepung, tiga kilometer dari rumahnya.

Dengan tangan yang gemetar, pria kurus kerempeng itu menyiapkan sarapan istimewanya, segelas teh hangat tanpa gula dan kue rasidah yang juga tanpa gula. Dia bukan takut diabetesnya kumat atau kadar kolesterolnya meningkat, toh dia tak pernah ke rumah sakit meski paru-parunya tak lagi sehat. Dia hanya tak punya uang untuk segenggam gula. Upah membajak sawah semalam hanya cukup ditukarkan tepung roti dan segenggam bawang merah.

Apalagi hari ini dia harus absen mencumbui padi-padi milik juragan haji. Meski dia sudah bersikeras, toh juragan tetap maghfum dengan maklumat kepala desa yang mengharuskan seluruh kegiatan kampung di nonaktifkan selama sehari penuh untuk keperluan pencoblosan di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Pria tua dengan baju bertambal-tambal perca dan satu sobekan dibawah ketiak, menyesap sisa teh yang tertinggal di cangkir porselennya. Cangkir porselen itu hitam warnanya, dengan sumbing disekeliling bibir dan tangkai yang retak saat pertama kali istrinya meuangkan air panas ke cawannya. Benda itu satu-satunya keindahan yang tertinggal di rumah berdinding kayu lapuk itu. Setelah anaknya meninggal satu demi satu karna tak mampu menahan terjangan diare. Disusul istriny yang penyabar, namun hengkang karna tak sanggup dijejali rasidah tanpa gula dan ubi rebus setiap hari.

Lelah tergambar diwajah tuanya. Dibasuhnya cangkir porselen dan piring kaleng bekas makan sebelum pergi ke tempat pemungutan suara, seperti yang telah berulang-ulang di teriakkan lewat toa di kantor kepala desa.

Jalan-jalan sudah ramai, masyarakat berduyun-duyun membopong anak dan keluarga menuju lapangan sepak bola, tempat dimana bilik-bilik persegi empat berdiri lantang menentang hamparan langit terbuka. Memang sudah menjadi tradisi kampong untuk berbonding-bondong mengangkuti keluarganya dari rumah jika ada perhelatan di lapangan sepak bola. Mau itu layar tancap, jaran kepang, kenduri anak tertua kepala desa, imunisasi, penyuluhan atau sekedar pemungutan suara seperti hari ini. Tak ada warga desa yang rela melewatkan kegiatan-kegiatan yang berlangsung dilapanga terbuka itu karna jarang-jarang keluarga mereka mendapat tontonan gratis.

Si bapak tua berjalan ke arah meja panjang, tempat kertas-kertas berisi deretan wajah manusia dibagikan. Diambilnya selembar kertas dari seorang wanita cantik dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya lupa dikaitkan. Senyum wanita itu mengingatkannya pada istri yang tak sanggup dicekoki ubi rebus setiap hari.

Seorang pemuda bertampang brengsek mendesaknya untuk segera meninggalkan antrean. Terpaksalah dileburnya dulu ingatan tentang senyum istri yang sangat mirip dengan wanita pelupa yang teledor mengaitkan kancing kemejanya itu.

Didalam bilik suara, pak tua nanar memandang sederet wajah manusia yang tidak dia kenal. Di rumahnya tidak ada televisi dan sehari harinya hanya dihabiskan disawah. Sedang wajah-wajah di kertas itu sama sekali tidak mirip tetangganya udin yang beranak empat, ataupun aminah yang jualan kopi di belakang rumah. Wajah-wajah itu tampak bugar dengan senyum melengkung lebar. Rambut mereka klimis, pasti sudah di kasi tanco sebelum berfoto.

Sebenarnya otak tuanya sedang bingung memilih, karna diantara berpuluh foto itu tidak ada yang terlihat dapat dipercaya. Dia seorang petani penggarap sawah orang yang sudah uzur, tidak bersanak keluarga dan tinggal menunggu mati. Tak jadi soal siapa yang akhirnya terpilih jadi pemimpin. Tapi dia peduli dengan nasib Suryo, Sulaiman, Alit, Banjar dan pemuda kampong lainnya yang sudah berikhtiar meneruskan jejak-jejak bapak mereka sebagai penggarap sawah. Setidaknya pemimpin terpilih kelak harus layak membimbing pemuda-pemuda yang sudah punya itikad baik itu.

Tapi masalahnya, tak satu pun wajah dalam foto yang ada di tangannya layak jadi pemimpin. Bayangkan, mana mungkin wajah-wajah cakap itu mampu membajak sawah, mengawon kambing, membangun tanggul pengairan atau sekedar berpanas-panas menjaga padi yang hampir masak agar tidak jadi kudapan gagak. Bapak tua itu mendengus, pemuda di desanya tidak butuh  pemimpin yang Cuma bisa bicara, mereka butuh pemimpin yang bisa mengajari caranya membajak sawah. Supaya panen mereka bisa lebih bagus tahun depan.


Pak tua itu mendengus, kesal karna masih belum bisa menentukan pilihan. Tiba-tiba dia tersadar, sebelum meningglkan rumah, dia lupa memberi tiga ekor ayamnya makan. Ditinggalkannya saja kertas suara dalam keadaan terbuka. Lalu buru-buru pulang, takut ayam-ayamnya lupa bertelur karna kelaparan.(***)
Share:

Cinta Seekor Tarantula

Aku Cuma bisa bungkam, dalam genggamanku ada jemari keriput yang erat mencengkram. Tak ingin berpisah meski dalam diam. Terbujur didepanku, sesosok tubuh menggelambir yang dilengan kanannya tersulur selang putih berisi cairan bening kemerahan, sedang lewat hidungnya nafas berat menyesakkan di hembuskan. Dadanya turun-naik, kadang cepat, tak jarang amat lambat, sedangkan rambutnya yang keperakan tergerai tutupi bantal.
Tak seorangpun tau, dan aku tak peduli ada yang tau atau tidak. Cintaku pada tubuh tua di atas ranjang berseprai putih itu laksana jejaring laba-laba yang menggantung membentuk jelaga. Jauh tak terjangkau, tipis tak terlihat, namun kuat melekat membenam nun jauh di sel-sel sensorik, juga motorik tubuh. Melilit hatinya yang merapuh, membingkai ingatan yang melapuk.
Aku masih menggenggam jemari keriput itu, saat pintu berdecit dan seorang wanita berpenampilan menarik perlahan masuk. Tangan kanannya menjinjing kantong plastik berwarna putih. Dingin dilemparnya sekilas pandang kearah ku. Namun sial baginya, aku sedang malas disapa meski hanya dengan kerling tak sengaja.
Di depanku, mata tua ibu mulai membuka. Ada selapis cairan kental kekuningan menggantung di ujungnya. Aku coba tersenyum membelai rambutnya, lalu menganbil selembar tissue basah untuk membersihkan kotoran disudut matanya. kulakukan itu, dengan tetap menggenggam jemari keriput ibu.
“Ibu udah kau kasi makan, Yan?” wanita berpenampilan menarik yang kini tengah membaca majalah di sudut kamar mengagetkanku.
“Ibu nggak mau makan.” Itu saja  jawabanku, singkat.
“ Jelas ibu nggak mau makan kalau yang nyuapin kamu.” Wanita itu mencibir “Udah jarang pulang, jarang nengokin ibu, denger ibu sakit juga nggak langsung balik. Ntar ibu meninggal, baru kau nyesal.”
Aku Cuma diam mendengar celoteh kakak keduaku itu. Nyatanya memang benar, aku jarang pulang dan nggak langsung pulang saat penyakit ibu tambah parah dan akhirnya harus dibawa kerumah sakit. Kakak ku perlahan mendekat, membancuh bubur instant dengan air hangat. Lalu dia menyuapkan gumpalan bubur berwarna kuning kecoklatan itu ke mulut ibu. Tapi nyatanya, mulut itu tak jua menganga, bahkan tambah erat terkatup. Tatapan ibu kosong, berkaca-kaca meski aku yakin tak ada air mata disana.
Saat ibu tetap tak mau makan, wanita cantik berkemeja krem itu membanting piring ditangannya. “Pasti ibu mual karna ada kau di sini, biasanya ibu paling senang ku suapi.”
Lama ku pandangi wajah ibu, sementara kakakku sudah pergi tanpa permisi padaku. Tiba-tiba pintu kamar berdecit lagi, kakak pertamaku masuk sementara kelopak mata ibu sudah kembali mengatup. Dia tampak terperanjat melihatku duduk disamping ranjang ibu. Lalu, ntah sadar atau tidak Tanya terlontar dari bibir tipisnya “Kapan datang?”
“Lepas subuh.” Jawabku cepat, seolah jawabab itu tabu tuk aku ucapkan.
“Mau berapa hari disini?” kakak tertuaku melepas jaket tipisnya lalu beranjak menata buah dan roti yang di bawa kakaku nomer dua.
“Lepas maghrib juga udah balik. Ada tugas nggak bisa ditunda.” Jawabku.
“Kau itu, pergi-pulang mirip tamu hotel saja kelakuanmu. Udah nggak sayang kau sama ibu?”
Aku diam, hanya diam. Biar saja tidak ada yang tau. Cintaku pada ibu memang hanya segumpal jejaring laba-laba. Tak apa, tak apa, aku yakin ibu pasti maklum. Ku genggam jemari keriput itu, kubawa ke sisi pipi kanan, lalu kebenamkan dalam kecupan yang dalam.

******
Kelopak mata ibu tengah mengatup saat aku kembali datang , kutatap lekat kewajah ibu, lalu beranjak menuju meja disamping tempat tidurnya. Ku keluarkan barang-barang yang yang barusan ku beli tanpa mengacuhkan  tatapan heran kakak-kakak ku. Bedak tabur, minyak angin serta setumpuk kertas yang awalnya tergeletak berantakan diatas meja , ku selusupkan dalam laci dibawahnya. Perlahan ku  sapu permukaan meja kayu itu dengan kain basah, lalu kulapisi dengan taplak warna merah. Ditengahnya kuletakkan sebuah guci kecil berisi tiga tangkai mawar.
“Apa-apaan kau, Yan?” kakak tertuaku berang
“Mengganti suasana kamar ibu. Biasanya baik untuk masa penyembuhan.” Jawabku gamblang.
“Kau mau bilang, kalau kami nggak becus ngejagain ibu?” kakak keduaku angkat suara “Tau apa kau soal ibu? Kami yang lebih lama ngejagain ibu, kami jauh lebih tau.”
Nafas kedua kakak ku tersengal-sengal, sedangkan aku sedikitpun tak berniat memberi tanggapan. Untunglah seorang perawat dengan baskom air  hangat ditangannya masuk ke ruangan, membuat kami bertiga seketika bungkam.
“Saya saja.” Kuambil baskom dan lap basah dari tangan perawat, sedang kakak ku masih terlihat masam di depan kusen jendela yang menghadap jalan raya.
Perlahan ku usapkan kain basah ke lengan ibu, lalu menjalar menuju dadanya yang menggelambir, sebelum berhenti di ujung jemari tangannya. Kulalukan berulang-ulang hingga lipatan-lipatan kulit yang kenyal dan lembek itu bersih dari daki-daki debu jalan. Meski tak ku tampik, sesekali aku takut mengoyak kulit yang lembek itu.
Ku usapkan minyak angin ke sekujur tubuhnya sebelum menaburkan bedak bubuk. Lalu ku selubungkan sepotong selimut merah hati untuk menutupi tubuh renta itu. Lama kupandangi wajah tuanya yang tak pernah tersenyum menatapku, ku genggam jemarinya yang bebas dari selusur infus berisi cairan merah bening. Ku baringkan kepala ke lengannya yang mengisut dari hari ke hari. Tak sadar, sebongkah kristal bening terjun bebas dari kelopak mataku.
Saat ini, aku hanya ingin ibu bangun. Menatapku meski tanpa sorot cinta, menyentuhku meski tanpa kasih, memanggil namaku meski dalam amarah yang meluap. Aku hanya ingin ibu bangun lalu menghardikku pergi.
Tak lama berselang, pintu kamar terkuak lebar. Serombongan wanita berkerudung  dengan pakaian muslimah berwarna mencolok memasuki kamar. Tanpa menggubrisku, mereka menyeruak dalam pelukan kakak pertamaku. Saling menyapa, bertanya kabar, lalu mengungkapkan keprihatinan yang klise dan terdengar memuakkan.
“ Dia adikmu, yah?” seorang wanita berkerudung kuning bertanya pada kakak pertamaku.
Kakak hanya mengangguk. Ntah apa yang pernah diceritakan kakak pada mereka. Pastinya semua memandangku dingin, jijik bahkan sebagian langsung memalingkan mata.
Terserah, aku tak peduli. Diriku memang terlihat menakutkan. Biar saja mereka takut, biar saja mereka enggan. Aku memang suka sendirian. Sangat suka sendirian.
” Ngapain dia kesini, Yah?” Tanya yang lain
“ Ngeliat ibu. Paling Cuma bentar udah pergi lagi. Mana mau dia capek-capek ngejaga ibu.” Kakak ku menjawab lugas
Aku terdiam, hanya bisa diam. Biar saja mereka mengataiku macam-macam. Aku memang mengerikan, bahkan cintaku pun tak pantas diperlihatkan. Biar saja. benang merah yang menghubungkanku dengan kakak pertama terputus tiba-tiba.

*********
“Dian mau mobil-mobilan, Bu.” Air mataku menggenang.
Tapi ibu tak menatapku, dia berjalan setengah berlari mendatangi kasir sambil maembawa tiga buah boneka dengan bentuk yang sama namun warnanya berbeda. Aku berlari menyusulnya, tapi kaki kananku yang terkilir membatasi gerakanku.
Ibu tak pernah menuruti keinginanku, tak pernah peduli bahwa sesungguhnya aku lelaki. Tambahan lagi, ayahku meninggal tak lama setelah aku lahir, jadilah aku tinggal dalam keluarga yang semuanya perempuan.
Aku tak pernah diizinkan keluar rumah, ibu takut aku berkelahi dengan anak tetangga. Ibu takut, aku mengikuti jejak ayah yang selalu menyusahkannya dengan segala judi dan mabuk-mabukan. Ibu tak juga pernah mengijinkanku bermain mobil-mobilan dan pedang-pedangan, lagi-lagi dia takut aku menjadi keras kepala dan pemberontak seperti ayah. Wanita itu lebih suka aku tumbuh di dapur dan bermain boneka seperti kedua kakak ku, dia berharap aku tumbuh menjadi pemuda berhati lembut  dan penyayang. Aku tau, bahkan jauh sebelum dia mengatakannya, bahwa dia menyayangiku meski dengan cara yang berbeda.
Hingga akhirnya tiga tahun yang lalu, tetangga dan keluarga membuatnya resah. Karna hingga saat itu, aku tak pernah bergaul dengan wanita. Dipaksa dengan cara apapun aku tetap tak bisa. Bukan aku tak ingin, tapi naluri kelelakianku sudah mati suri. Ntah karna begitu rindunya aku pada wujud lelaki yang tak pernah mampu ku miliki, atau karna pribadi wanita yang telah mengakar dihati, perlahan namun kusadari aku jatuh cinta pada jenis ku sendiri.
Sering aku bertafakur dengan mukena yang menutupi kepala. Bertanya pada tuhan, siapa yang harus kupersalahkan. Ayah yang telah begitu banyak menyakiti ibu, hingga dia mendidikku seperti wanita. Atau ibu yang begitu mencintaiku hingga dia tak ingin aku terluka. Mungkin juga kakak-kakak ku yang selalau menyalahkan, atau aku sendiri yang tak mampu membentengi diri.
Tapi ayah sudah lama berbaring tenang, ibu juga tak mungkin kupersalahkan hanya karna dia terlalu mencintaiku. Ah, naif jika ku persalahkan orang lain, tapi aku juga tak rela dipersalahkan atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan

*******
Duhai wanitaku,
Tlah ku gadaikan kaki
Tuk sejajari kepak sayapmu
Tuk dapat menangkap harum kasturi
Dari sorot matamu
Ku juga tanggalkan jubah jejaka
Tuk menatap sore
Di lengkung senyum mu

Tapi kau malah remukkan sayapku
Saat diri tak lagi mampu berdiri
Kau pinta ku berlari
Saat tak lagi punya kaki

Duhai Ibu,
Mengapa lengkung senyum mu
Tak pernah rebah dimataku

Terpasung hati melihat segunduk tanah merah didepanku. Tanah merah yang masih basah, tertutupi helai-helai kamboja yang gugur tertiup angin. Banyak orang disekelilingku, berselendang hitam, berkopiah hitam, membawa Al-quran mini di tangan atau sekedar menjinjing bunga dalam keranjang. Banyak orang, namun aku merasa sendirian. Aku membeku dalam diam berkepanjangan, aku rapuh dalam kosong yang mencekam.
Tanah merah itu ku genggang erat-erat, ingin rasanya membongkar makam itu, mencumbui jasad yang terbaring kaku di dalamnya. Ingin ku cabut nisan itu, lalu ku benamkan dalam genangan kolam di belakang taman. Tapi aku terlalu kuyu, terlalu lemah, terlalu bodoh, bahkan untuk menghadapi diriku sendiri.
“Pulang, Yan?” kakak kedua ku menyentuh pundakku perlahan.
Aku menggeleng.
“Apa pula ini? Kau mau minggat lagi?” wanita itu berubah berang “Belum lepas sehari pemakaman ibu, dan kau mau minggat lagi? Meninggalkan kami dengan rentetan pertanyaan tetangga tentang anak laki-laki ibu yang biseksual?”
Aku menatap matanya lekat “Aku toh cukup menyusahkan selama ini. Kalian ingin aku pergi kan? Sekarang aku akan pergi.”
“Kami maunya kau berubah, Yan.”suara kakakku melunak
“Berubah? Setelah lima belas tahun dibesarkan sebagai seorang perempuan, diajari berlakon sebagai perempuan, kalian suruh aku kembali normal?” aku menatap matanya, tajam. Tiba-tiba saja ada hantu bersayap hitam beterbangan di atas kepalaku.
“Ibu ingin kau berubah, yan.”
“Ibu ingin,” aku menelan ludah “Semua anaknya perempuan.”
Kakak menatapku tajam, seperti ada pisau meluncur lewat matanya. “Ibu ingin kau kembali normal, Ibu saying kau,Yan.”
Aku tertunduk, terpekur menatap tanah, menatap gundukan merah yang dipenuhi bunga kamboja. “ Aku Sayang Ibu, sayang sekali.”
“Berubahlah, Yan.” Wajah wanita itu mendekat, hingga hembusan nafasnya yang basah menepel ke pipiku.
Aku menggeleng pelan, bahkan amat pelan. Tapi ntah mengapa, itu membuatnya berang. Di dorongnya aku hingga mencium tanah. “Dasar keras kepala. Benar kata kakak, kau itu payah. Aku masih berbaik hati memberimu kesempatan untuk berubah. Tapi kalau itu menyusahkanmu, pergi saja jangan pulang-pulang. Ingat, sekali kau melangkah pergi, jangan pernah kembali jika kau belum bisa berubah. Asal kau tau, ibu pun mungkin senang kalau kau nggak kembali pulang. Kau tau, hidupmu cuma mencoreng nama keluarga.”

Dia pergi, tanpa berpaling lagi. Sementara aku mencengkram gundukan tanah ibu, menempelkan tubuhku di tanah basah itu. Berandai-andai, sekali lagi saja, ibu mau memelukku. Memelukku hangat, memelukku sambil membelai rambutku yang tertutupi kerudung hitam.***
________________

Harian Analisa Medan
Share:

Bulan Merah Darah Di Matanya

Aku berpacu dalam langkah yang semakin memburu. Sementara malam mengungkung menyesaki rongga mata.
Dalam keremangan dan ketakutan yang menyiksa,aku terjerambab. Langkahku dihentikan segunduk tanah bekas galian. Darah mengucur dari lubang hidung, menguarkan bau amis yang bercampur lumpur dan kotoran anjing. Ku coba bertumpu pada dua kaki yang sudah lelah. Tapi gagal, aku tersungkur lagi. Saat itulah mataku menangkap lukisan langit hitam kelam seperti kopi pahit kesukaan ayah. Terpatri diatasnya, seonggok bulan merah darah yang menyusupkan rasa ngeri di ubun-ubun otakku.
Tersentak dari lamunan, ekor mata menangkap sesosok bayangan hitam mendekat. Tiap detik semakin rapat, detak jantung kian cepat. Tak kan ku berikan nyawa ini untuk psikopat gila sepertinya, aku membatin. Karnanya, tungkai kaki ini ku paksa menegak, meski sakitnya menikam ulu hati. Terseret-seret langkahku, dengan darah yang masih mengucur perlahan lewat lubang hidung.
Langkah-langkah itu masih memburu, padahal nafasku tinggal satu-satu. Percuma jika aku terus berlari, langkah-langkah itu pasti mampu menyusulku. Saat ini, yang ku bisa hanya berjudi dengan nasib. Ku picingkan mata, mencoba mencari celah untuk meloloskan diri. Tidak ada apapun yang bisa ku jadikan tempat sembunyi kecuali parit di salah satu sisi trotoar. Tapi parit itu berair dan penuh kotoran, aku takkan sanggup bertahan meski hanya seperempat jam. Aku menggeleng perlahan, jika memang harus begini, jika memang harus berakhir di sini, ku pejamkan kedua mata, lalu dengan satu hentakan tiba-tiba, ku bawa tubuh kecil ini menyusup dalam parit busuk yang dipenuhi sampah busuk dan cairan kental mirip kotoran itu. Seketika tubuhku meremang, dingin merasuk hingga rongga tulang. Kubenamkan tubuhku perlahan hingga sebatas leher. Aroma busuk menyeruak masuk dan langsung menyerang kepingan-kepingan inti otak.
Lalu membisu, membeku, terus bisu di susul beku.
Perlahan langkah-langkah itu menjauh, seiring dengan kesadaranku yang hilang satu-satu.

*****

Setelah dua minggu
Ibu menatapku dengan mata kuyunya yang lelah. Wanita berwajah coklat gelap itu sudah pasrah, melihat ku yang kian hari bertambah parah. Tak mau makan dan mengurung diri di kamar.
Kadang aku tercenung seperti orang tanpa ingatan, atau malah berteriak-teriak mirip orang kesurupan, tak jarang disusul tangis sesenggukan. Apalagi saat malam melingkupkan jubah pekatnya. Kegilaanku akan semakin parah saja. Ingatan akan dua minggu lalu seolah kembali terproyeksi di rongga mata. Saat tiba-tiba bayangan hitam itu menghadang langkahku dan ragil di trotoar kota.
Aku masih ingat bagaimana dia menerjang ragil dan melarikannya. Ketakutan menelanku saat itu, hingga akhirnya kutinggalkan saja jeritan ragil yang mengoyak malam. Masih teringat jelas di benak ku, jubah hitamnya yang sewarna langit malam itu, dan sorot mata merahnya yang persis sama seperti bulan merah darah.
Belaian jemari ibu membangunkanku dari ingatan malam itu. Tapi siluet wajah di bingkai ungu, tepat di samping tempat tidur membuatku ingat ragil. Terngiang di gendang telinga teriakannya malam itu, seolah membelah malam dengan belati keputusasaan. Tapi aku, sahabatnya. Malah berlari karna takut tertangkap oleh sepasang bola mata sewarna bulan merah darah. Aku berlari membawa segenggam kepengecutan dan membiarkan bola mata itu menggagahi tubuhnya yang renta.
Selusur air mata menjembatani kedua belah pipi ku. Ibu sudah berlalu. Tinggal aku yang meringkuk di balik selimut beku, memandang lukisan wajah ragil yang membayang di tirai hujan.
“ Bulan depan aku tunangan, Ning. Kamu datang, ya!” ucapan ragil sebulan lalu menggema di telingaku. Andai tragedi itu tidak menimpanya. Jika saja psikopat bermata setan itu tidak melayangkan nyawanya, hari ini ragil pasti menjadi gadis paling bahagia di dunia.
Pintu kamarku terbuka sedikit, sesosok tubuh berkemeja kelabu menyeruak masuk. Langsung saja dia jatuhkan tubuhnya di kasur, lalu sigap punggung tanganya menghapus jejak-jejak tangis ku. “Sudahlah, Ning. Jangan nangis terus, kamu nggak salah. Jangan terus nyalahin diri hanya karna kamu nggak mati malam itu.” Jemari abangku menyelusup membelai puncak kepala. Bukannya tenang, tangis ku malah semakin brutal, mencoba kalahkan guntur yang baru saja menggelegar.
“ Mungkin itu karma, Ning. Karna Ragil merebut Dimas darimu.” Abangku sat-satunya itu melanjutkan ucapannya. Sontak ku tatap matanya, lalu ku tepis jemarinya yang masih bermain di rambutku. Aku jijik mendengar ucapannya. Ragil, sahabatku. Tak mungkin aku brfikir sepicik itu. Toh, ragil memilih dimas pun atas rekomendasi dari ku.
Aku ngeloyor ke kamar mandi meninggalkan abangku yang terdiam. Lalu kubenamkan badan dalam bak penampungan, berharap penyesalan mampu mencair bersama air.

*****
Malam, setelah satu bulan
Aku meringkuk dalam dekapan hangat Ndaru, abangku. Menyelusup dibalik jaket hitamnya, mencoba membentengi diri lewat rengkuhannya. Penglihatanku mengabur, disusul perih karna kabut putih yang berasal dari rokok yang menyala sejak sejam yang lalu. Di depanku, sebuah meja bertengger kaku, dibelakangnya seorang pria berseragam sekitar empat puluh tahunan tengah menatapku tajam. Tatapannya seolah menelanjangiku yang telah benar-benar memeluk pinggang abang. Di sekelilingnya, tiga leleki lain juga menatapku tak kalah seram.
Mereka semua mungkin marah, karna setiap pertanyaan mereka hanya ku jawab dengan tangis. Bagaimana mungkin aku bisa memaparkan kejadian tragis yang selama ini menghantui tidurku. Tak kan mungkin aku bisa melukiskan wajah setan yang telah merebut satu-satunya sahabat yang mampu ku percaya. Terlebih diharuskan menjelaskan caraku keluar dari cengkraman si mata merah darah, karna sesungguhnya itu penyesalan terbesar yang pernah ku lakukan.
Jadi tak salah bila aku hanya bisa menangis dan terpuruk di belakang abang, satu-satunya orang yang saat ini bisa ku andalkan. Aku juga takkan heran jika sebulan lagi orang-orang menjebluskanku ke rumah sakit jiwa. Karna saat ini, tak lagi mampu ku bedakan benar dan salah. Yang ku tahu, Ragil diperkosa dan dianiaya pria berjubah hitam dengan mata menyerupai bulan yang memancarkan sinar berwarna semerah darah. Lalu Dimas tunangannya dijadikan tersangka karna jubah hitam si mata setan ditemukan mendekam dalam tong sampah tepat di depan rumah kontrakanya. Kembali air mata menderai, sementara bang Ndaru masih setia membelai puncak kepalaku, berusaha menahan tangis yang tak henti mengucur.
Setelah lima jam dan aku tetap bungkam. Petugas-petugas berwajah sangar itu melepasku pergi. Diiringi tatapan sebal, aku meninggalkan ruangan pengap penuh asap rokok itu. Saat pintu terbuka, mata sembabku menangkap cahaya temaram yang berpendar dibalik jendela. Langit di atas sana hitam pekat, persis malam keparat itu. Terlukis di atasnya bulan sewarna darah yang juga persis malam itu. Tungkai kakiku melemas, aku terjatuh dalam pelukan bang Ndaru.

Tapi saat ku tengadah, jantungku berpacu kian cepat. Mata abangku berubah semerah darah. Terburu-buru aku mundur, hingga akhirnya menyenggol keranjang sampah dan terjatuh ke sisi pintu. Daun pintu berdecit tak mampu menahan berat tubuhku, namun saat ku berusaha bangkit, terlihat jelas. Semua mata yang ada diruangan itu, ruangan tempat ku habiskan lima jam dalam ketakutan, semua mata mereka berwarna semerah darah. Aku memekik perlahan. Bang ndaru mencoba membantuku berdiri, tapi dengan sepasang mata pembunuh yang terlukis di wajah cemas, membuatnya sempurna mengerikan. Ku tarik tubuhku mundur, tapi pemandangan selanjutnya membuatku tak lagi mampu bersuara. Semua lelaki di tempat itu, baik berseragam maupun tidak memandangku lewat mata semerah darah. Kecuali satu, yang meringkuk dalam gelap dibalik terali sementara yang terletak dipojok ruangan, pria itu menatapku lewat senyum, Dimas. 
Share:

BATU (cerpen)

Ilustrasi - Doc Kreatif
Dalam dunia 8x10 meter aku terdiam, membeku, tak lagi mampu memburu waktu. Sekelilingku juga sama, jiwa-jiwa yang tlah membatu dan tak mampu memburu waktu. Dalam satu garis horizontal kami bertemu, membentang busur pandang di satu titik temu.

Sekelebat cahaya mendistorsi ingatanku, menarik-narik nalar ke lorong waktu, dimana dulu jiwaku belum jadi batu. Dimana sulur-sulur nadi yang berdetak, dialiri nafsu tuk berburu masa depan.Tapi sekarang aku tlah bertransformasi jadi batu, dan batu adalah batu, tak mampu apa-apa kecuali memandang di satu titik semu.

Sepuluh hari, empat minggu, enam bulan, satu tahun, dua bulan, tiga minggu, empat hari, aku mulai lelah. Lelah karna hanya memandang tak mampu bicara, lelah karna selalu salah meski tak ucapkan apa-apa, lelah karna berfikir sesuai fakta pun sudah tak bisa. Tapi aku resah, sekelilingku tak ada yang berubah. Batu-batu disekelilingku tak ada yang terlihat lelah, mereka bahkan nyaman memandang di satu titik semu yang tak pernah berubah.

Duhai Tuhan, seluruh persendianku benar-benar telah lelah. Ingin ku palingkan wajah menuju sudut diagonal yang selama ini hanya mampu ku lirik resah. Tapi urat leherku terlalu lama terdiam hingga lupa caranya digerakkan. Hingga akhirnya aku kembali diam, diam dalam keterbiasaan. Karna aku takut ditertawakan, aku takut jadi bahan ledekan, takut juga meninggalkan prinsip kebatuan yang selama ini ditanamkan leluhur-leluhurku sesama batu. Terlebih aku takut dikucilkan hanya karna ingin suarakan hak bicaraku yang selama ini terpasung ketakutan. Akhirnya  kembalilah aku menjadi batu dalam detik-detik kejemuan.

Waktu kembali berputar, jarum jam tak henti mendetakkan keraguan. Dalam rentang waktu yang tak lagi mampu ku hitung tangan, kulalui semua dalam diam. Ku lirik sekitar, jiwa-jiwa yang mengelilingiku benar-benar tlah membatu dibentuk zaman. Tapi aneh, dulu masih ku mengerti bahasa mereka, hingga terkadang bisa menangis bersama. Kini semua tak lagi sama, bukan hanya diam membatu, mereka juga tak lagi peduli pada dunia luar selain dunia yang 8x10 meter itu.  Ku lirik jemu pada batu-batu yang tak lagi mengenali suaraku. Tapi aku bisa apa, karna aku pun cuma batu, dan batu hanya mampu memandang di satu titik semu.

Hingga akhirnya aku terperangah, batu di ujung jendela dihantam godam hingga berderai, impiannya berhamburan tutupi lantai. Duniaku jadi gaduh, meski batu tak mampu bergerak dan teriak, tak urung kami tersentak. Tiba-tiba saja teman kami berhamburan, tiba-tiba saja kami kehilangan.

Dari tempatku membatu, kupandangi godam yang mematroli batu-batu. Seiring waktu, dia mulai menghantami teman-teman ku. Duniaku jadi bertambah lapang, batu-batu berhamburan dilantai dan godam tampak seperti setan. Akhirnya aku membatu. Sedang zaman terus berputar, butuh lebih banyak ruang untuk kumpulkan jiwa-jiwa baru yang harus dibatukan. Bukankah tak ada yang takuti batu, tak juga ada yang peduli pada batu dan tentu saja, tak ada yang butuhkan batu. Karena batu adalah batu, yang mampunya hanya memandang di satu titik semu.

Tiba-tiba aku tersentak,memandang serpihan batu yang banyak berserak. Aku tak bersedia menunggu untuk utuh membatu, bila nantinya hanya akan dileburkan sebagai penutup lantai. Ku paksa lenganku menggapai udara, ku paksa mulutku bicara, bahkan ku haruskan leherku memandang sudut diagonal yang selama ini hanya mampu kulirik ragu. Anehnya, tawa yang selama ini ku takutkan, tak lagi penting dalam sebongkah keyakinan.

Ditengah sakit yang menggila atas pergerakan tiba-tiba, jantungku mulai berdetak. Detak pertama membuat godam menoleh resah, detak kedua mengharuskan dia mempercepat langkah, dan detak ketiga membuatnya yakin untuk membuatku bersimbah darah.

Darah?? Aku berdarah, bukankah batu tak berdarah??
Duhai Tuhan, Aku bahagia berakhir begini. Hanya satu saja sesalku, selama ini untuk apa aku menunggu?


Ketika kebenaran dibelenggu, dan kita hanya bisa diam
______________

Majalah Pers Mahasiswa Kreatif Unimed
Share:

Friday, 14 November 2014

Rinduku pada Ayah

Rindu ku pada ayah,
Rindu hati pada nurani
Rindu sentuhan pada jemari

Rindu ku pada ayah,
Rindu bulan pada malam
Rindu siang pada mentari

Rindu ku pada ayah
Selaksa doa yang tak sampai
Segenggam rindu terlanjur karam
Penggalan kisah yang tak khatam

Rindu ku pada ayah,

Rindu pungguk nantikan bulan

___

Balada Perempuan - 2012
Share:

Rindu

Ku kabar kan pada mu lewat angin
Bahwa aku masih di sini seperti dulu
Merenung di bilik persegi
Tempat kita dulu menertawakan waktu

Masih ku berharap
Kau disampingku menemani resah
Yang menjelma kekosongan

Karna mimpi ku tak lagi nyata
Ia serupa kabut yang membelit mata
Tak ku sanggup lagi sepertinya
Namun hutang ini harus lunas

Dan aku masih ingat
Kau kata di samping telingaku yang hampir tuli
Kita disini bukan hanya untuk kita
Tapi untuk janji yang terlanjur membelit jantung
                                                                Unimed, 29 Februari 2012


____

Balada Perempuan - 2012
Share:

Perempuan-perempuan dalam pelukan malam

Menari diiringi desau nafas yang birahi
Bergelinjangan seperti ombak murka di bibir pantai
Terkapar diatas ranjang sewarna malam

Dalam remang, perempuan telanjang
Menanggalkan malu, cinta, dunia, bahkan
Luka

Luka mati suri dalam diri yang sudah khatam
Pun, nadi masih berdenyut

Untuk Dia yang menanti pulang.

_____

Balada Perempuan - 2012
Share:

Paradoks

Pagi sudah usang
Sejuk berangsur hilang

Aku memandang langit
Lewat jendela kamar
Menggenggam koran
yang isinya cuma bualan

____

Balada Perempuan - 2012
Share:

Wednesday, 12 November 2014

Menyusuri Eksotisme Gua Kampret

Liburan kali ini, saya dan beberapa teman dari medan  memutuskan untuk mencari suasana baru. Jika biasanya kami menghabiskan akhir pekan dengan menjajal kemampuan menaklukan gunung, air terjun atau sekedar bersantai di pesisir pantai, kali ini kami mencoba menyusuri gua.

Pilihan kami jatuh pada gua kampret (bat cave), alasannya tentu saja karena tertarik untuk melihat kampret atau biasa juga disebut kalelawar dari jarak dekat. Seperti yang kita ketahui, kalelawar adalah hewan nocturnal yang sangat menyukai tempat-tempat gelap dan lembab, dia juga terbiasa berburu di malam hari.

Dengan menggunakan tiga sepeda motor, saya dan teman-teman pun bertolak dari medan. Sekitar pukul dua belas siang, kami tiba di pintu gerbang (loketing) bukit lawang. Sekedar informasi, di bukit lawang terdapat banyak sekali pungutan liar. Jangan lupa meminta tiket masuk setelah membayar di gerbang kedatangan, karena jika tidak diminta maka petugas terkadang lupa memberikan tiket masuk, alhasil kita akan dimintai uang registrasi untuk kedua kalinya ketika akan parkir.

Setelah makan siang, saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan. Setelah memarkirkan sepeda motor di parkiran Ecolodge Bukit Lawang, kami masih harus menempuh perjalanan lebih kurang 2 kilo meter. Sepanjang perjalanan kami melewati penginapan-penginapan dan perkebunan sawit dan karet penduduk.

Perjalanan tidak terlalu sulit karena banyak petunjuk arah di sepanjang jalan, namun ada baiknya tetap bertegur sapa dan memastikan jalur yang kita ambil benar jika berpapasan dengan penduduk yang terkadang melintas.

Setelah menpuh perjalanan selama dua puluh menit, kami berenam sampai di pintu gua yang dijaga oleh seorang bapak paruh baya yang tengah duduk di dipan kayu beratap nipah. Kami harus membayar biaya masuk sebesar sepuluh ribu rupiah per orang. Kami berasumsi bahwa biaya itu digunakan untuk biaya perawatan dan kebersihan.

Hal pertama yang saya rasakan begitu melewati pintu gua adalah temperatur udara yang lebih rendah. Cahaya hanya berasal dari pintu gua dan senter kepala yang kami gunakan. Semakin dalam melangkah, batu-batu yang kami lalui semakin besar dan licin namun  belum terlihat tanda-tanda kehidupan kalelawar.

Semaikin jauh ke perut gua, kondisi semakin gelap dan kami hanya bisa mengandalkan senter. Stalagtit dan stalagmite yang mencuat dari lantai dan langit-langit gua semakin banyak terlihat. Batuan mineral itu memancarkan cahaya berkilau-kilau ditimpa cahaya senter.

“Awas terpeleset, batunya licin.” Ancha mencoba mengingatkan teman-teman yang mulai asik berfoto dan memperhatikan stalagtit dan stalagmit yang berpendar beragam warna, mulai dari putih seperti garam halus hingga hijau dan coklat.

Di sepertiga perjalanan menyusuri gua, suara-suara mencicit yang berasal dari kalelawar mulai terdengar bersahut-sahutan, ancha yang sudah lebih berpengalaman untuk trecking seperti ini mengingatkamenjadi pengap.
n kami untuk meredupkan nyala senter agar tidak menakuti kalelawar. Udara di sekitar kami juga terasa lebih lembab, selain oksigen yang yang mulai berkurang kotoran kalelawar juga membuat udara 
Saat suara kalelawar terdengar semakin melengking, perlahan-lahan saya mengarahkan senter ke langit-langit gua. “Subhanallah.” Ratusan bahkan ribuan kalelawar bergelantungan di langit-langit gua. Tidak seperti yang saya bayangkan, ukuran kalelawar itu kecil namun berdempetan satu dan lainnya. Beberapa yang mungkin agak terganggu dengan kehadiran kami beterbahan di atas kepala.
Semakin dalam, gua semakin terasa basah, batu-batu besar digantikan aliran air bening yang merembes di dinding gua. Menurut cerita penduduk, gua ini dulunya dijadikan tempat persembunyian gerilyawan. Jauh di ujung gua, kami menemukan semacam muara aliran air yang berisi ikan –ikan kecil dan kodok hijau.


Menurut saya, gua kalelawar ini sangat unik, bukan hanya karena spesies hewan yang memutuskan untuk menjadikannya rumah, namun juga endapan batu mineral yang sangat unik yang pastinya terbentuk setelah ratusan tahun. Namun sayang, banyak bagian gua yang mulai keropos, bahkan langit-langit gua dibagian tengah sudah runtuh. Hal ini tidah hanya membahayakan pengunjung namun juga merusak fungsi gua. Masih menurut warga sekitar, kalelawar yang menempati gua sudah jauh berkurang sejak beberapa tahun yang lalu. Padahal jika dirawat dengan baik, gua kampret ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata.

                            

Tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah Lovely Holiday
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts