Author Info

Saturday, 15 November 2014

Bulan Merah Darah Di Matanya

Aku berpacu dalam langkah yang semakin memburu. Sementara malam mengungkung menyesaki rongga mata.
Dalam keremangan dan ketakutan yang menyiksa,aku terjerambab. Langkahku dihentikan segunduk tanah bekas galian. Darah mengucur dari lubang hidung, menguarkan bau amis yang bercampur lumpur dan kotoran anjing. Ku coba bertumpu pada dua kaki yang sudah lelah. Tapi gagal, aku tersungkur lagi. Saat itulah mataku menangkap lukisan langit hitam kelam seperti kopi pahit kesukaan ayah. Terpatri diatasnya, seonggok bulan merah darah yang menyusupkan rasa ngeri di ubun-ubun otakku.
Tersentak dari lamunan, ekor mata menangkap sesosok bayangan hitam mendekat. Tiap detik semakin rapat, detak jantung kian cepat. Tak kan ku berikan nyawa ini untuk psikopat gila sepertinya, aku membatin. Karnanya, tungkai kaki ini ku paksa menegak, meski sakitnya menikam ulu hati. Terseret-seret langkahku, dengan darah yang masih mengucur perlahan lewat lubang hidung.
Langkah-langkah itu masih memburu, padahal nafasku tinggal satu-satu. Percuma jika aku terus berlari, langkah-langkah itu pasti mampu menyusulku. Saat ini, yang ku bisa hanya berjudi dengan nasib. Ku picingkan mata, mencoba mencari celah untuk meloloskan diri. Tidak ada apapun yang bisa ku jadikan tempat sembunyi kecuali parit di salah satu sisi trotoar. Tapi parit itu berair dan penuh kotoran, aku takkan sanggup bertahan meski hanya seperempat jam. Aku menggeleng perlahan, jika memang harus begini, jika memang harus berakhir di sini, ku pejamkan kedua mata, lalu dengan satu hentakan tiba-tiba, ku bawa tubuh kecil ini menyusup dalam parit busuk yang dipenuhi sampah busuk dan cairan kental mirip kotoran itu. Seketika tubuhku meremang, dingin merasuk hingga rongga tulang. Kubenamkan tubuhku perlahan hingga sebatas leher. Aroma busuk menyeruak masuk dan langsung menyerang kepingan-kepingan inti otak.
Lalu membisu, membeku, terus bisu di susul beku.
Perlahan langkah-langkah itu menjauh, seiring dengan kesadaranku yang hilang satu-satu.

*****

Setelah dua minggu
Ibu menatapku dengan mata kuyunya yang lelah. Wanita berwajah coklat gelap itu sudah pasrah, melihat ku yang kian hari bertambah parah. Tak mau makan dan mengurung diri di kamar.
Kadang aku tercenung seperti orang tanpa ingatan, atau malah berteriak-teriak mirip orang kesurupan, tak jarang disusul tangis sesenggukan. Apalagi saat malam melingkupkan jubah pekatnya. Kegilaanku akan semakin parah saja. Ingatan akan dua minggu lalu seolah kembali terproyeksi di rongga mata. Saat tiba-tiba bayangan hitam itu menghadang langkahku dan ragil di trotoar kota.
Aku masih ingat bagaimana dia menerjang ragil dan melarikannya. Ketakutan menelanku saat itu, hingga akhirnya kutinggalkan saja jeritan ragil yang mengoyak malam. Masih teringat jelas di benak ku, jubah hitamnya yang sewarna langit malam itu, dan sorot mata merahnya yang persis sama seperti bulan merah darah.
Belaian jemari ibu membangunkanku dari ingatan malam itu. Tapi siluet wajah di bingkai ungu, tepat di samping tempat tidur membuatku ingat ragil. Terngiang di gendang telinga teriakannya malam itu, seolah membelah malam dengan belati keputusasaan. Tapi aku, sahabatnya. Malah berlari karna takut tertangkap oleh sepasang bola mata sewarna bulan merah darah. Aku berlari membawa segenggam kepengecutan dan membiarkan bola mata itu menggagahi tubuhnya yang renta.
Selusur air mata menjembatani kedua belah pipi ku. Ibu sudah berlalu. Tinggal aku yang meringkuk di balik selimut beku, memandang lukisan wajah ragil yang membayang di tirai hujan.
“ Bulan depan aku tunangan, Ning. Kamu datang, ya!” ucapan ragil sebulan lalu menggema di telingaku. Andai tragedi itu tidak menimpanya. Jika saja psikopat bermata setan itu tidak melayangkan nyawanya, hari ini ragil pasti menjadi gadis paling bahagia di dunia.
Pintu kamarku terbuka sedikit, sesosok tubuh berkemeja kelabu menyeruak masuk. Langsung saja dia jatuhkan tubuhnya di kasur, lalu sigap punggung tanganya menghapus jejak-jejak tangis ku. “Sudahlah, Ning. Jangan nangis terus, kamu nggak salah. Jangan terus nyalahin diri hanya karna kamu nggak mati malam itu.” Jemari abangku menyelusup membelai puncak kepala. Bukannya tenang, tangis ku malah semakin brutal, mencoba kalahkan guntur yang baru saja menggelegar.
“ Mungkin itu karma, Ning. Karna Ragil merebut Dimas darimu.” Abangku sat-satunya itu melanjutkan ucapannya. Sontak ku tatap matanya, lalu ku tepis jemarinya yang masih bermain di rambutku. Aku jijik mendengar ucapannya. Ragil, sahabatku. Tak mungkin aku brfikir sepicik itu. Toh, ragil memilih dimas pun atas rekomendasi dari ku.
Aku ngeloyor ke kamar mandi meninggalkan abangku yang terdiam. Lalu kubenamkan badan dalam bak penampungan, berharap penyesalan mampu mencair bersama air.

*****
Malam, setelah satu bulan
Aku meringkuk dalam dekapan hangat Ndaru, abangku. Menyelusup dibalik jaket hitamnya, mencoba membentengi diri lewat rengkuhannya. Penglihatanku mengabur, disusul perih karna kabut putih yang berasal dari rokok yang menyala sejak sejam yang lalu. Di depanku, sebuah meja bertengger kaku, dibelakangnya seorang pria berseragam sekitar empat puluh tahunan tengah menatapku tajam. Tatapannya seolah menelanjangiku yang telah benar-benar memeluk pinggang abang. Di sekelilingnya, tiga leleki lain juga menatapku tak kalah seram.
Mereka semua mungkin marah, karna setiap pertanyaan mereka hanya ku jawab dengan tangis. Bagaimana mungkin aku bisa memaparkan kejadian tragis yang selama ini menghantui tidurku. Tak kan mungkin aku bisa melukiskan wajah setan yang telah merebut satu-satunya sahabat yang mampu ku percaya. Terlebih diharuskan menjelaskan caraku keluar dari cengkraman si mata merah darah, karna sesungguhnya itu penyesalan terbesar yang pernah ku lakukan.
Jadi tak salah bila aku hanya bisa menangis dan terpuruk di belakang abang, satu-satunya orang yang saat ini bisa ku andalkan. Aku juga takkan heran jika sebulan lagi orang-orang menjebluskanku ke rumah sakit jiwa. Karna saat ini, tak lagi mampu ku bedakan benar dan salah. Yang ku tahu, Ragil diperkosa dan dianiaya pria berjubah hitam dengan mata menyerupai bulan yang memancarkan sinar berwarna semerah darah. Lalu Dimas tunangannya dijadikan tersangka karna jubah hitam si mata setan ditemukan mendekam dalam tong sampah tepat di depan rumah kontrakanya. Kembali air mata menderai, sementara bang Ndaru masih setia membelai puncak kepalaku, berusaha menahan tangis yang tak henti mengucur.
Setelah lima jam dan aku tetap bungkam. Petugas-petugas berwajah sangar itu melepasku pergi. Diiringi tatapan sebal, aku meninggalkan ruangan pengap penuh asap rokok itu. Saat pintu terbuka, mata sembabku menangkap cahaya temaram yang berpendar dibalik jendela. Langit di atas sana hitam pekat, persis malam keparat itu. Terlukis di atasnya bulan sewarna darah yang juga persis malam itu. Tungkai kakiku melemas, aku terjatuh dalam pelukan bang Ndaru.

Tapi saat ku tengadah, jantungku berpacu kian cepat. Mata abangku berubah semerah darah. Terburu-buru aku mundur, hingga akhirnya menyenggol keranjang sampah dan terjatuh ke sisi pintu. Daun pintu berdecit tak mampu menahan berat tubuhku, namun saat ku berusaha bangkit, terlihat jelas. Semua mata yang ada diruangan itu, ruangan tempat ku habiskan lima jam dalam ketakutan, semua mata mereka berwarna semerah darah. Aku memekik perlahan. Bang ndaru mencoba membantuku berdiri, tapi dengan sepasang mata pembunuh yang terlukis di wajah cemas, membuatnya sempurna mengerikan. Ku tarik tubuhku mundur, tapi pemandangan selanjutnya membuatku tak lagi mampu bersuara. Semua lelaki di tempat itu, baik berseragam maupun tidak memandangku lewat mata semerah darah. Kecuali satu, yang meringkuk dalam gelap dibalik terali sementara yang terletak dipojok ruangan, pria itu menatapku lewat senyum, Dimas. 
Share:

1 comment:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts