Author Info

Saturday, 15 November 2014

Seberkas Senja Di Mata Tua

Pagi yang sangat biasa, diawali hunusan matahari yang menebas belantara kabut sisa semalam. Seorang tua telah terjaga cukup lama dari tidurnya, membereskan kasur yang isinya bukan kapuk melainkan perca-perca goni yang dipungutinya dari tempat pembuangan pabrik tepung, tiga kilometer dari rumahnya.

Dengan tangan yang gemetar, pria kurus kerempeng itu menyiapkan sarapan istimewanya, segelas teh hangat tanpa gula dan kue rasidah yang juga tanpa gula. Dia bukan takut diabetesnya kumat atau kadar kolesterolnya meningkat, toh dia tak pernah ke rumah sakit meski paru-parunya tak lagi sehat. Dia hanya tak punya uang untuk segenggam gula. Upah membajak sawah semalam hanya cukup ditukarkan tepung roti dan segenggam bawang merah.

Apalagi hari ini dia harus absen mencumbui padi-padi milik juragan haji. Meski dia sudah bersikeras, toh juragan tetap maghfum dengan maklumat kepala desa yang mengharuskan seluruh kegiatan kampung di nonaktifkan selama sehari penuh untuk keperluan pencoblosan di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Pria tua dengan baju bertambal-tambal perca dan satu sobekan dibawah ketiak, menyesap sisa teh yang tertinggal di cangkir porselennya. Cangkir porselen itu hitam warnanya, dengan sumbing disekeliling bibir dan tangkai yang retak saat pertama kali istrinya meuangkan air panas ke cawannya. Benda itu satu-satunya keindahan yang tertinggal di rumah berdinding kayu lapuk itu. Setelah anaknya meninggal satu demi satu karna tak mampu menahan terjangan diare. Disusul istriny yang penyabar, namun hengkang karna tak sanggup dijejali rasidah tanpa gula dan ubi rebus setiap hari.

Lelah tergambar diwajah tuanya. Dibasuhnya cangkir porselen dan piring kaleng bekas makan sebelum pergi ke tempat pemungutan suara, seperti yang telah berulang-ulang di teriakkan lewat toa di kantor kepala desa.

Jalan-jalan sudah ramai, masyarakat berduyun-duyun membopong anak dan keluarga menuju lapangan sepak bola, tempat dimana bilik-bilik persegi empat berdiri lantang menentang hamparan langit terbuka. Memang sudah menjadi tradisi kampong untuk berbonding-bondong mengangkuti keluarganya dari rumah jika ada perhelatan di lapangan sepak bola. Mau itu layar tancap, jaran kepang, kenduri anak tertua kepala desa, imunisasi, penyuluhan atau sekedar pemungutan suara seperti hari ini. Tak ada warga desa yang rela melewatkan kegiatan-kegiatan yang berlangsung dilapanga terbuka itu karna jarang-jarang keluarga mereka mendapat tontonan gratis.

Si bapak tua berjalan ke arah meja panjang, tempat kertas-kertas berisi deretan wajah manusia dibagikan. Diambilnya selembar kertas dari seorang wanita cantik dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya lupa dikaitkan. Senyum wanita itu mengingatkannya pada istri yang tak sanggup dicekoki ubi rebus setiap hari.

Seorang pemuda bertampang brengsek mendesaknya untuk segera meninggalkan antrean. Terpaksalah dileburnya dulu ingatan tentang senyum istri yang sangat mirip dengan wanita pelupa yang teledor mengaitkan kancing kemejanya itu.

Didalam bilik suara, pak tua nanar memandang sederet wajah manusia yang tidak dia kenal. Di rumahnya tidak ada televisi dan sehari harinya hanya dihabiskan disawah. Sedang wajah-wajah di kertas itu sama sekali tidak mirip tetangganya udin yang beranak empat, ataupun aminah yang jualan kopi di belakang rumah. Wajah-wajah itu tampak bugar dengan senyum melengkung lebar. Rambut mereka klimis, pasti sudah di kasi tanco sebelum berfoto.

Sebenarnya otak tuanya sedang bingung memilih, karna diantara berpuluh foto itu tidak ada yang terlihat dapat dipercaya. Dia seorang petani penggarap sawah orang yang sudah uzur, tidak bersanak keluarga dan tinggal menunggu mati. Tak jadi soal siapa yang akhirnya terpilih jadi pemimpin. Tapi dia peduli dengan nasib Suryo, Sulaiman, Alit, Banjar dan pemuda kampong lainnya yang sudah berikhtiar meneruskan jejak-jejak bapak mereka sebagai penggarap sawah. Setidaknya pemimpin terpilih kelak harus layak membimbing pemuda-pemuda yang sudah punya itikad baik itu.

Tapi masalahnya, tak satu pun wajah dalam foto yang ada di tangannya layak jadi pemimpin. Bayangkan, mana mungkin wajah-wajah cakap itu mampu membajak sawah, mengawon kambing, membangun tanggul pengairan atau sekedar berpanas-panas menjaga padi yang hampir masak agar tidak jadi kudapan gagak. Bapak tua itu mendengus, pemuda di desanya tidak butuh  pemimpin yang Cuma bisa bicara, mereka butuh pemimpin yang bisa mengajari caranya membajak sawah. Supaya panen mereka bisa lebih bagus tahun depan.


Pak tua itu mendengus, kesal karna masih belum bisa menentukan pilihan. Tiba-tiba dia tersadar, sebelum meningglkan rumah, dia lupa memberi tiga ekor ayamnya makan. Ditinggalkannya saja kertas suara dalam keadaan terbuka. Lalu buru-buru pulang, takut ayam-ayamnya lupa bertelur karna kelaparan.(***)
Share:

0 comments:

Post a comment

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts