Author Info

Friday, 4 December 2015

Travelling ke Pulau Banyak I (Pulau Balai dan Keragaman Budaya)

Berasa langit dan lautan menyatu kan ya?
 Saya dan teman-teman berangkat dari Medan pada pukul delapan malam. Namun perjalan kami agak terhambat dikarenakan macet parah. Putra, salah seorang teman yang ikut dalam perjalanan ini, baru bisa menyalurkan hasrat berkendaranya sesaat selelah melintasi kawasan Berastagi.

Namun perjalanan kami lagi-lagi melaju lambat saat kendaraan memasuki perbatasan Aceh Singkil dikarenakan kabut yang mulai tebal dan jalanan yang berkelok-kelok. Pada pukul tiga dini hari, kami tiba di Aceh singkil. Karena sudah terlalu larut malam, kami tidak bisa langsung menyebrang untuk menjelajahi Pulau Banyak. Namun jangan khawatir, ada banyak penginapan yang dapat dipilih sebagai alternative dengan harga seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah semalam. 

Tapi kali ini kami lebih memilih untuk menerima tawaran Acong, salah seorang teman yang kebetulan orang tuanya bermukin di dekat pelabuhan. Teh manis dan kue khas aceh singkil yang bentuknya menyerupai serabi menghangatkan obrolan kami dini hari itu. Orang tua acong menanggapi pertanyaan kami mengenai tempat yang akan kami tuju dengan ramah.

“Kalau mau ke sana, nyebrang pakai kapal. Empat jam lah, ongkosnya paling dua puluh ribu .” jelas ibu Acong

Dari penjelasan ibu Acong selanjutnya, kami lantas memutuskan untuk menyinggahi Pulau Balai terlebih dahulu, karena dari situlah para pengunjung dapat lebih mudah mengakses pulau-pulau yang lain. Karna pulau banyak adalah kepulauan yang terdiri atas 62 pulau, maka kami tidak mungkin mengunjungi semuanya sekaligus. Kali ini cukuplah saya puas mengunjungi beberapa diantaranya saja.
Batuan yang diduga kristal :D
Esoknya kami berangkat menuju Pulau Balai pada pukul sepuluh pagi menggunakan kapal yang lumayan besar. Namun karena saya dan teman-teman tidak terbiasa dan tidak mahir berenang, kami memutuskan untuk mengenakan life jacket yang memang kami persiapkan dari Medan. Akhirnya penampilan kami yang mungkin menurut warga setempat agak ‘ajaib’ itu menjadi tontonan dan membuat salah seorang ibu-ibu berkomentar “Ngapain pake-pake itu, dek? Aman ini. Kemaren pun pas kapal sekencang-kencangnya paling masuk aja air itu, nggak bikin terguling. Ombaknya memang tinggi tapi nggak pernah bikin terguling.”      

Luar biasanya, pada saat perjalanan itu kapal kami diikuti oleh lima ekor lumba-lumba, meskipun saya hanya sempat melihat bagian ekornya saja. Empat jam kami habiskan hingga akhirnya sampai ke Pulau Balai. Saya agak kaget saat melihat kerapian dan kebersihan penduduk di pulau ini, mengingat bahwa penduduk pulau ini didominasi oleh nelayan. Tampaknya sudah ada kesadaran akan wisata di tempat ini.

Namun satu hal yang saya sayangkan, saya melihat bahwa batu-batu yang diletakkkan di depan rumah kebanyakan adalah karang yang diambil dari laut, meskipun menurut warga karang-karang itu adalah karang mati yang diangkat oleh nelayan. Kebanyakan karang mati itu diakibatkan oleh pengeboman karang dan pukat-pukat besar yang dulu sering beroperasi di sekitaran pantai pulau Balai.
Kalau di Pulau Balai, ikat cincinnya pakai kayu bahar
Hal menarik lain dari pulau balai adalah penduduknya yang beragam. Dari sekitar 800 kepala keluarga yang menghuni pulau ini terdapat berbagai suku diantaranya suku aneuk jamee dan suku haloban yang memiliki bahasa yang cukup unik. Beberapa patah kata yang berasal dari suku aneuk jamee ini terkesan campuran antara bahasa suku padang dan melayu. 

Pantai di pulai Balai ini cukup tenang dan tidak berombak sehingga saya dapat melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang di pinggir pantai dengan mudah. Namum karang di pesisir pantai tidak terlalu bagus, pengunjung harus naik boat sekitar sepuluh menit baru bisa melihat karang-karang yang tidak terlalu rusak. Jadi bisa dikatakan pulau Balai ini tidak terlalu cocok untuk para pencinta snorkeling.

Terakhir yang menarik minat saya di Pulau ini adalah para pengrajin cincin. Tidak seperti cincin pada umumnya, alih-alih batu pengrajin di pulau ini menggunakan kerang beraneka warna sebagai mata cincin dan kayu bahar sebagai pengikatnya. Dibutuhkan tiga hari untuk menempah satu buah cincin dengan biaya delapan puluh ribu. 

Pulau Balai ini benar-benar tidak hanya menyajikan keindahan panorama pantai, namun juga keberagaman budaya lokal yang tidak di miliki semua tempat yang pernah saya kunjungi.
Share:

Friday, 13 November 2015

Saya, Cemara Asri dan Senja yang Absurd

Itu yang putih kecil-kecil bukan kapas ya, sebenernya itu bangau :D
Duduk selonjoran memandang rumput dan kubangan, 
di kiri dan kanan banyak  pasangan yang mungkin sedang pacaran  
dan sekelompok anak berlarian ditemani orang tua mereka yang sedang tidur-tiduran. 
Pengalaman seperti itulah yang akan teman-teman alami jika menikmati sore hari di taman berukuran mini berbentuk bundar yang berada di dalam kompleks perumahan cemara asri.
 
Ya, Cemara Asri memang terkenal dengan ratusan ekor burung bangau 
yang menjadi daya tarik utama pengunjung. Namun ada banyak hal lain yang 
tidak kalah menarik yang bisa diamati, salah satunya ya taman ini. 

Selain itu, kita juga bisa memberi makan ikan mas yang selalu tampak lapar, 
memperhatikan ular-ular sawah yang selalu tidur di dalam kandang, 
bahkan memngamati para pengunjung yang beraneka ragam.

Yah, Cemara Asri memang layak dijadikan tempat berlibur diakhir pekan, 
mengingat minimnya area publik yang ada di Medan. Selain tidak ada biaya retribusi 
untuk memasuki tempat ini, di Cemara Asri kita juga bisa memanjakan lidah 
dengan berwisata kuliner. Hampir semua jenis makanan tersedia, mulai dari yang mengandung protein 
hingga karbohidrat, yang jajanan pinggir jalan atau sekelas resto, semua ada.

Tapi terkadang, ada dua hal yang membuat saya bertanya tiap kali pelesiran ke tempat ini. 
Pertama, tiap kali ke Cemara Asri, saya serasa memasuki kota lain. 
Sebuah daerah yang bukan bagian dari medan, ecek-eceknya sebuah peradaban sendiri lah. 
Kenapa? Karena semua aspek yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kota, ada di tempat ini.

Namanya kompleks perumahan, masyarakatnya jelas ada donk. 
Nah masyarakat butuh makan kan? Tempat makan sudah pasti berserakan, tinggal pilih. 
Lalu aspek pendidikan? Pasti ada juga. Bahkan untuk konsultasi kesehatan dan kebugaran juga ada. 
Nah lho? Tinggal pilih peminpin aja, jadi kota di dalam kota lah tempat ini :D

Hal kedua yang saya pertanyakan adalah “siapa pengembang/developer Cemara Asri ini?” 
Konsep berbisnisnya luar biasa gila. Memanfaatkan letak geografis 
menjadi bahan jualan paling paten, bahkan tanpa modal yang terlalu besar.

Katakanlah saat membangun komples perumahan ini, 
pihak pengembang mulai menyadari bahwa daerah yang dibangunnya adalah jalur lalu lintas 
burung bangau dan berbagai jenis burung lain. Namanya juga jalur lintas, 
terkadang ditengah perjalanan si bangau akan transit terlebih dulu jika lelah. 
Nah, melihat opurtunity ini, pihak pengembang lantas membuatkan semacam kolam buatan 
agar para-bangau dan saudara-saudaranya lebih nyaman untuk singgah. 

Sama seperti efek domino yang berlaku pada proses transmigrasi, 
bangau yang melakukan ekspedisi mulai kembali dengan membawa keluarga dan tetangga. 
Dengan bertambahnya peminat, diperbesarlah kolam buatan untuk menampung lebih banyak pendatang.

Agar para bangau yang bermigrasi tidak kekurangan makanan, 
mungkin para pengembang ini melepaskan bibit ikan mas dan ikan lele ke dalam kolam buatan. 
Namanya juga makhluk hidup yang tidak mengenal program KB, para ikan ini pasti 
berkembang biak sesuka hati hingga terbentuklah ekosistem baru 
yang menarik banyak pengunjung seperti saya untuk datang dan menikmati teater alam 
yang pelakon utamanya adalah ribuaan burung bangau, ratusan ikan mas dan lele dumbo, 
segelintir burung belibis, puluhan kura-kura air payau dan beberapa ekor ular sawah.

Hebatnya, ekosistem ini bertumbuh dengan sendirinya. Hanya perlu diawasi dan 
tidak butuh modal yang terlalu besar namun berdampak sangat luar biasa bagi bisnis. 
Bayangkan, setelah pembuatan  kolam untuk komunitas burung dan menyebar bibit ikan,
 pengembang hanya perlu mengawasi proses terbentuknya ekosistem bagi hewan. 

Saat ekosistem sudah terbentuk, pengembang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memberi 
makan hewan-hewan. Polanya seperti ini, pengunjung membeli pelet untuk memberi makan ikan – 
ikan dimakan burung – burung dimakan ular – ular ditangkap dan dikerangkeng sebagai bahan tontonan untuk pengunjung. Namun para hewan ini mendatangkan banyak pengunjung, dan membuat para investor berlomba-lomba menyewa ruko dan bangunan semi permanen lain untuk dijadikan lokasi bisnis.

Luar biasa kan?
Ya, Luar biasa otak saya yang berfikir hingga seabsurd itu.
Sebelum saya melantur tambah parah, lebih baik saya akhiri saja.
Wassalam.
Share:

7 Hal Penghilang Stress

Sunset ala jepretan saya :D
Seperti halnya banyak list yang dibuat oleh blogger atau siapapun, 
list/daftar ini sifatnya juga subjektif, hanya berdasarkan pendapat saya :D

Kawan-kawan boleh setuju, boleh juga memberi masukan lain yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Kalau semisal ada yang sama atau mirip, boleh juga tambahi di kolom komentar :D

#1 Ruang Terbuka untuk Umum
Yah, kayak taman atau tempat santai-santai. Agak susah juga di Medan ini, 
kalau mau nongkrong musti di café. Padahal kota medan kan lumayan sumpek, masyarakat butuh media untuk melepas lelah, duduk santai sambil melihat langit :D

Beberapa yang saya tahu diantaranya : Cemara Asri, Lapangan Merdeka, Taman Beringin aka Taman Sudirman, dan Taman Tirta Kartika. Ada yang lain nggak ya?

kok berasa kayak ngiklanin kopi kalengan ya?
#2 Kopi
Oke, sebenarnya ini terlarang untuk saya, tapi kalau sudah penat dan stress, 
saya akan tetap meminumnya. Kopi banyak macamnya sih, biasanya kalau mengkonsumsi yang sachet, 
perut saya akan langsung berontak. Masih mendingan kalau minum kopi hitam, apalagi tanpa gula. 
Buat teman-teman yang punya masalah pada lambung namun maniak kopi juga, 
sebaiknya mengkonsumsi kopi hitam saja :D

*3 Mie Instant Pedas
Lagi-lagi ajaran menyesatkan. Untuk yang satu ini, sebaiknya jangan ditiru. Udah gitu aja…

#4 Matahari Terbenam
Siapa yang enggak suka? 

pamer koleksi yah :D
#5 Buku
Kalau mau dilist, bisa panjang urusannya. Tapi buku beneran bisa bikin healing, buat saya :D. Pernah kan, saya depresi berat terus nangis nggak bisa berhenti, lalu saya ambil buku (saya lupa judulnya) eh, nangisnya kelar. Nggak percaya? Coba deh, mungkin kita sama :D

#6 Makan
Asal jangan cemilan, makan saat stress wajar-wajar aja kan? 
Paling-paling musti jogging lebih lama…

#7 Nonton
Sewa DVD, nonton bioskop, panggil temen terus nonton bareng di depan laptop 
atau nonton layar tancep. Sekarang banyak warung kopi, café 
bahkan warung tenda yang nyediain fasilitas layar tancep. Filmnya juga beragam, 
box office, dangdutan, bahkan film P Ramlee juga ada.

Yang pasti, stress pasti pernah melanda siapa aja. Jangan berlarut dan hadapi aja. 
Edisi menyemangati diri sendiri, hahhahahaha :D
Share:

7 Hal yang Dibutuhkan untuk Bertahan Hidup

Seperti halnya banyak list yang dibuat oleh blogger atau siapapun, 
list/daftar ini sifatnya juga subjektif, hanya berdasarkan pendapat saya :D

Kawan-kawan boleh setuju, boleh juga memberi masukan lain yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Kalau semisal ada yang sama atau mirip, boleh juga tambahi di kolom komentar :D

#1 Air
Seperti dikutip dalam artikel di Howstuffworks, manusia bisa bertahan hingga 13-15 hari tanpa makanan, namun tanpa air manusia hanya mampu bertahan selama 3-5 hari. Bahkan jika udara sangat panas dan terjadi dehidrasi parah, manusia dapat meninggal hanya dalam satu jam tanpa air.

#2 Makanan
Penjelasannya sudah ada di point satu :D

#3 Pakaian
Oke, manusia minum dan makan lantas mampu bertahan hidup. Tapi tidak pakai baju? 
Sepertinya kita musti sepakat kalau baju berada di daftar no. 3, kecuali jika kita masih tinggal di zaman batu (tetanggaan sama flintstone :D)

#4 Tempat Tinggal
Buat point no. 4 ini, bisa diartikan macam-macam ya. 
Yang pasti tempat manusia terlindung dari panas dan hujan.

#5 Orang Lain
Kan enggak enak kalau tinggal sendirian. Semisal hanya jadi satu-satunya makhluk di bumi, mana ada enak nya kan? Orang lain ini, bisa diartikan keluarga atau teman, Siapa aja yang bisa kita ajak bersosialisasi.

#6 Pekerjaan/Aktivitas
Lakukan yang kita sukai ya. Segala sesuatu yang membuat kita punya tujuan dan menimbulkan semangat. Kalau semua orang bebas berekspresi dan berkreasi, pasti semua orang bisa bahagia.

#7 Buku (?)
Daftar yang terakhir ini sungguh sangat subjektif kan ya? 
Saya maniak buku…  Maafkan saya :D

Oke kan daftar yang saya buat? 
Ternyata manusia tidak butuh uang (andai saja masih ada sistem barter) 
dan manusia tidah butuh gelar S1 (karna pembuat daftarnya adalah saya).   
Maaf, tulisan ini tercipta karena pemilik blog sedang dilanda stress stadium akut :D
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts