Author Info

Friday, 30 January 2015

Budaya berburu madu, Benarkah hilang atau Dihilangkan?

Siapa ya yang nggak tahu tentang madu dan nyobain madu? Saya rasa hampir semua orang pernah ngerasain madu, bahkan madu juga dianjurkan oleh banyak dokter untuk dikonsumsi sebagai pengganti gula.

Salah satu Tulisan yang terdapat dalam Jurnal Strukturasi yang diterbitkan
oleh Prodi Antropologi Sosial, Pascasarjana Universitas Negeri Medan 
Nah, tapi nggak semua orang tahu dan paham bagaimana cara memperoleh madu, apalagi madu alami yang diburu di hutan. Karena khasiat dan rasanya pasti jauh berbeda dengan madu yang telah diternakkan.

Ternyata dulu sekali di hutan-hutan bakau daerah perlis Kabupaten langkat banyak terdapat sarang madu dan masyarakat setempat sering berburu madu sebagai lahan pencaharian. Namun akibat deforestasi perlahan-lahan mengakibatkan hutan bakau dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.
Saya jadi ingat, pertengahan tahun lalu saya pernah berkunjung dan menumpang boat untuk melihat sendiri pesisir sungai yang sudah gundul. Suangai-sungai itu bermuara ke laut, pada kedua sisinya yang seharusnya ditumbuhi bakau, sudah digantikan oleh tanaman lain. Ya benar, tentu saja itu sawit kawan-kawan.

Saat itu saya hanya berfikir bahwa akibat yang ditimbulkan hanya sebatas erosi air laut dan terganggunya ekosistem bakau. Paling-paling bangau dan burung liar yang berhabitat di situ akan kehilangan tempat tinggal, fikir saya saat itu.

Namun ternyata, tulisan abangda Tengku Zainuddin berjudul Kemana lagi kami nak berburu madu? Membuat saya tersadar bahwa yang hilang bukan hanya habitat bakau, namun sebuah tradisi, budaya dan diatas itu semua, yang hilang dan dipaksa berubah adalah kehidupan sekelompok masyarakat yang sudah hidup dan bergenerasi sejak berpuluh tahun yang lalu.

Lantas siapa yang berhak bertanggung jawab, bolehkah kita kambing hitamkan kapitalisasi? Namun mampukah perusahaan-perusahaan itu bergerak bebas tanpa campur tangan pemerintah? Dalam Focus group discussion yang bertajuk Budaya Berburu Madu yang Hilang, hasil penelitian Tengku Zainuddin, jumat kemarin, dipertemukanlah berbagai pihak mulai dari praktisi lingkungan, kumunitas yang bergerak di bidang lingkungan, budayawan, wartawan, masyarakat Perlis hingga Kepala Dinas Kabupaten Langkat.

Peserta Focus Group Discusion
Dalam diskusi itu didiskusikanlah mengapa terjadi permasalah ini dan jalan keluar yang mungkin dapat diambil. Semoga langkah tegas atas apa yang sudah didiskusikan hari ini cepat terwujud.
Salam Boemi Poetra, Salam Perubahan… 
Share:

Thursday, 29 January 2015

Cerita Tentang Boemi Poetra


Boemi Poetra memiliki cita-cita kehidupan berbangsa dan memiliki dasar berbangsa. Dan sekarang, dialah pemilik daripada bangsa. Boemi Poetra itu bahasa sansekerta, Boemi dan Poetra. Artinya anak tanah, Wikipedia mengatakan anak tanah itu adalah pribumi. Apa yang dimiliki oleh boemi poetra, yang dimiliki oleh boemi poetra itu budayanya. Budaya juga berasal dari sansekerta, Wikipedia juga mengatakan budi dan daya artinya budipekerti.
-Abangda Tengku Zainuddin-

Kutipan yang saya tulis di awal tulisan ini adalah pendapat abangda Tengku Zainuddin yang merupakan bagian dari cakap-cakap ringan kami di sebuah warung kopi selepas menggelar Deklarasi Gerakan Boemi Poetra hari minggu lalu. video obrolan tentang Boemi poetra

Deklarasi ini sendiri digelar dengan amat sederhana namun cukup khitmad menurut saya. Apalagi ada sesi pembacaan puisi oleh Bang Tedja purnama yang membuat pendengarnya kembali merenung apa sebenarnya makna berbangsa dan bertanah air? Apa sekedar tinggal dan bermukin di bumi Indonesia? Lantas setelah disebut berbangsa dan bernegara, lalu kita boleh seenak-enaknya mengeruk keuntungan tanpa memikirkan pihak-pihak lain? Lantas siapa yang pantas disebut bumi putra?

Saya juga sebenarnya masih awan sekali dengan isu seperti ini, namun saya harus jujur bahwa hal ini cukup menarik untuk didiskusikan. Dari apa yang saya dengar setelah beberapa kali berkumpul dalam diskusi boemi putra, dapat saya simpulkan bahwa gerakan ini adalah gerakan moral yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan. Gerakan boemi poetra maju dengan mengusung kebudayaan sebagai jembatan untuk menghubungkan manusia dengan segala aspek moralnya.

Saya jadi teringat teman-teman dan bahkan saya sendiri yang sangat mengagumi dan menyukai budaya dari Negara lain. Di sini saya mulai paham kekuatan budaya yang mengakar dalam diri lambat laun akan menggerakkan dan mempengaruhi orang lain secara sadar ataupun tidak.

Pada kesempatan yang lain Boemi Poetra memutuskan untuk menggelar sebuah forum diskusi untuk membahas salah satu permasalah yang menjadi rahasia umum bagi hampir seluruh masyarakat negeri ini, lahan bakau yang dialihfungsikan tanpa izin menjadi perkebunan sawit. FGD ini bertajuk Budaya Berburu madu yang hilang.

Semoga kedepannya kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan. Salam Boemi poetra, Salam Perubahan...

Share:

Monday, 19 January 2015

Sejenak Melepas Penat di Pantai Silalahi


Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk ikut dalam perjalanan kali ini. Selain karena jadwal keberangkatannya berbarengan dengan jadwal kuliah, kondisi kesehatan juga kurang baik. Namun bayangan bisa menghirup udara segar perbukitan membuat saya terhasut juga untuk mengunjungi salah satu pantai yang masih merupakan bagian dari kawasan pinggiran Danau Toba ini.

Saya dan keempat teman yang lain bertolak dari medan sekitar pukul sembilan pagi menuju Desa Silalahi, kecamatan Silalahi Sabungan di Kabupaten Dairi, sumatera Utara, tapi sebelumnya kami terlebih dahulu singgah di kebun jeruk seorang teman di Simpang Tiga Raja.

Cuaca agak berkabut hari itu, kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan makan siang di lokasi wisata Sipiso-piso karena hujan mulai turun di tengah perjalanan. Saat perjalanan dilanjutkan, hari sudah beranjak siang. Sekitar pukul dua siang rombongan kami memasuki kawasan Desa Silalahi. Di salah satu sisi mulai terlihat hamparan danau toba dari kejauhan. Semakin jauh mobil melaju, perbukitan terlihat semakin jelas. Bahkan batu-batuan yang berusia ratusan tahun terlihat bergelimpangan diantara sawah penduduk.

Menurut salah seorang teman yang ikut dalam rombongan kami, penduduk lokal masih banyak yang tidak memahami nilai usia batu-batuan itu. Namun sepertinya pemerintah mulai menaruh minat pada Desa Silalahi ini dan berencana menjadikannya salah satu lokasi geopark (taman bumi) yang merupakan salah satu aset wisata lokal.

Menurut masyarakat di Desa Silalahi, Desa ini awalnya adalah kerajaan yang dibangun oleh Raja Silalahisabungan. Itulah sebabnya terdapat sebuat tugu di pinggir jalan desa menuju Pantai Silalahi yang disebut Tugu Silalahi. Pada tugu ini terdapat relief yang menceritakan tentang kehidupan Raja Silalahisabungan, juga dijelaskan tentang seluruh silsilah pomparan (keturunan) Raja.

Pada tugu tersebut disebutkan bahwa Raja Silalahisabungan memiliki 2 istri yaitu, Pingganmatio Padangbatangari dan Siboru Nailing Boru Nairasaon dan memiliki delapan putra serta seorang putri. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk berhenti sejenak di Tugu Silalahi dan menikmati Relief indah yang terdapat pada tugu tersebut. Meski saat kami berkunjung tugu tengah mengalami pemugaran (pengecatan) namun hal ini tidak mengurangi kekaguman kami terhadap tradisi dan nilai budaya yang terdapat di Desa Silalahi ini.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, kami tiba di Pantai Silalahi menjelang sore. Cukup banyak kabut hari itu, sehingga perbukitan yang seharusnya terlihat dari batas pantai tidak tampak. Namun udara segar dan hamparan danau yang biru membuat hati terasa ringan dan sejenak kejenuhan menguap bersama angin.

Tidak seperti pantai kebanyakan yang merupakan bagian dari laut, Pantai Silalahi adalah bagian dari Danau Toba. Pantai ini juga sering disebut Tao Silalahi (Danau Silalahi) oleh warga setempat, tapi karena pinggiran danau yang memanjang hampir mencapai 28 km dan terlihat seperti pantai, maka pengunjung lebih mengenal tempat ini dengan sebutan Pantai Silalahi.

Pada bulan-bulan tertentu (Juni-Juli) angin bertiup sangat kencang hingga menimbulkan ombak yang cukup besar. Hal ini juga menjadi perhatian pemerintah, sehingga pemerintah mencanangkan untuk menjadikan Pantai Silalahi sebagai lokasi alternatif untuk olahraga air. Selain itu, di pantai ini juga terdapat Palung terdalam di dunia (jaraknya mencapai 905 m).


Pantai Silalahi dengan potensi wisata budaya dan geopark yang patut mendapat perhatian, bukan tidak mungkin dua hingga tiga tahun mendatang Desa yang begitu damai ini dapat menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang ingin sejenak melarikan diri dari kepenatan kota besar.
______________
Tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah lovely Magazine
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts