Author Info

Friday, 13 November 2015

Saya, Cemara Asri dan Senja yang Absurd

Itu yang putih kecil-kecil bukan kapas ya, sebenernya itu bangau :D
Duduk selonjoran memandang rumput dan kubangan, 
di kiri dan kanan banyak  pasangan yang mungkin sedang pacaran  
dan sekelompok anak berlarian ditemani orang tua mereka yang sedang tidur-tiduran. 
Pengalaman seperti itulah yang akan teman-teman alami jika menikmati sore hari di taman berukuran mini berbentuk bundar yang berada di dalam kompleks perumahan cemara asri.
 
Ya, Cemara Asri memang terkenal dengan ratusan ekor burung bangau 
yang menjadi daya tarik utama pengunjung. Namun ada banyak hal lain yang 
tidak kalah menarik yang bisa diamati, salah satunya ya taman ini. 

Selain itu, kita juga bisa memberi makan ikan mas yang selalu tampak lapar, 
memperhatikan ular-ular sawah yang selalu tidur di dalam kandang, 
bahkan memngamati para pengunjung yang beraneka ragam.

Yah, Cemara Asri memang layak dijadikan tempat berlibur diakhir pekan, 
mengingat minimnya area publik yang ada di Medan. Selain tidak ada biaya retribusi 
untuk memasuki tempat ini, di Cemara Asri kita juga bisa memanjakan lidah 
dengan berwisata kuliner. Hampir semua jenis makanan tersedia, mulai dari yang mengandung protein 
hingga karbohidrat, yang jajanan pinggir jalan atau sekelas resto, semua ada.

Tapi terkadang, ada dua hal yang membuat saya bertanya tiap kali pelesiran ke tempat ini. 
Pertama, tiap kali ke Cemara Asri, saya serasa memasuki kota lain. 
Sebuah daerah yang bukan bagian dari medan, ecek-eceknya sebuah peradaban sendiri lah. 
Kenapa? Karena semua aspek yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kota, ada di tempat ini.

Namanya kompleks perumahan, masyarakatnya jelas ada donk. 
Nah masyarakat butuh makan kan? Tempat makan sudah pasti berserakan, tinggal pilih. 
Lalu aspek pendidikan? Pasti ada juga. Bahkan untuk konsultasi kesehatan dan kebugaran juga ada. 
Nah lho? Tinggal pilih peminpin aja, jadi kota di dalam kota lah tempat ini :D

Hal kedua yang saya pertanyakan adalah “siapa pengembang/developer Cemara Asri ini?” 
Konsep berbisnisnya luar biasa gila. Memanfaatkan letak geografis 
menjadi bahan jualan paling paten, bahkan tanpa modal yang terlalu besar.

Katakanlah saat membangun komples perumahan ini, 
pihak pengembang mulai menyadari bahwa daerah yang dibangunnya adalah jalur lalu lintas 
burung bangau dan berbagai jenis burung lain. Namanya juga jalur lintas, 
terkadang ditengah perjalanan si bangau akan transit terlebih dulu jika lelah. 
Nah, melihat opurtunity ini, pihak pengembang lantas membuatkan semacam kolam buatan 
agar para-bangau dan saudara-saudaranya lebih nyaman untuk singgah. 

Sama seperti efek domino yang berlaku pada proses transmigrasi, 
bangau yang melakukan ekspedisi mulai kembali dengan membawa keluarga dan tetangga. 
Dengan bertambahnya peminat, diperbesarlah kolam buatan untuk menampung lebih banyak pendatang.

Agar para bangau yang bermigrasi tidak kekurangan makanan, 
mungkin para pengembang ini melepaskan bibit ikan mas dan ikan lele ke dalam kolam buatan. 
Namanya juga makhluk hidup yang tidak mengenal program KB, para ikan ini pasti 
berkembang biak sesuka hati hingga terbentuklah ekosistem baru 
yang menarik banyak pengunjung seperti saya untuk datang dan menikmati teater alam 
yang pelakon utamanya adalah ribuaan burung bangau, ratusan ikan mas dan lele dumbo, 
segelintir burung belibis, puluhan kura-kura air payau dan beberapa ekor ular sawah.

Hebatnya, ekosistem ini bertumbuh dengan sendirinya. Hanya perlu diawasi dan 
tidak butuh modal yang terlalu besar namun berdampak sangat luar biasa bagi bisnis. 
Bayangkan, setelah pembuatan  kolam untuk komunitas burung dan menyebar bibit ikan,
 pengembang hanya perlu mengawasi proses terbentuknya ekosistem bagi hewan. 

Saat ekosistem sudah terbentuk, pengembang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memberi 
makan hewan-hewan. Polanya seperti ini, pengunjung membeli pelet untuk memberi makan ikan – 
ikan dimakan burung – burung dimakan ular – ular ditangkap dan dikerangkeng sebagai bahan tontonan untuk pengunjung. Namun para hewan ini mendatangkan banyak pengunjung, dan membuat para investor berlomba-lomba menyewa ruko dan bangunan semi permanen lain untuk dijadikan lokasi bisnis.

Luar biasa kan?
Ya, Luar biasa otak saya yang berfikir hingga seabsurd itu.
Sebelum saya melantur tambah parah, lebih baik saya akhiri saja.
Wassalam.
Share:

7 Hal Penghilang Stress

Sunset ala jepretan saya :D
Seperti halnya banyak list yang dibuat oleh blogger atau siapapun, 
list/daftar ini sifatnya juga subjektif, hanya berdasarkan pendapat saya :D

Kawan-kawan boleh setuju, boleh juga memberi masukan lain yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Kalau semisal ada yang sama atau mirip, boleh juga tambahi di kolom komentar :D

#1 Ruang Terbuka untuk Umum
Yah, kayak taman atau tempat santai-santai. Agak susah juga di Medan ini, 
kalau mau nongkrong musti di café. Padahal kota medan kan lumayan sumpek, masyarakat butuh media untuk melepas lelah, duduk santai sambil melihat langit :D

Beberapa yang saya tahu diantaranya : Cemara Asri, Lapangan Merdeka, Taman Beringin aka Taman Sudirman, dan Taman Tirta Kartika. Ada yang lain nggak ya?

kok berasa kayak ngiklanin kopi kalengan ya?
#2 Kopi
Oke, sebenarnya ini terlarang untuk saya, tapi kalau sudah penat dan stress, 
saya akan tetap meminumnya. Kopi banyak macamnya sih, biasanya kalau mengkonsumsi yang sachet, 
perut saya akan langsung berontak. Masih mendingan kalau minum kopi hitam, apalagi tanpa gula. 
Buat teman-teman yang punya masalah pada lambung namun maniak kopi juga, 
sebaiknya mengkonsumsi kopi hitam saja :D

*3 Mie Instant Pedas
Lagi-lagi ajaran menyesatkan. Untuk yang satu ini, sebaiknya jangan ditiru. Udah gitu aja…

#4 Matahari Terbenam
Siapa yang enggak suka? 

pamer koleksi yah :D
#5 Buku
Kalau mau dilist, bisa panjang urusannya. Tapi buku beneran bisa bikin healing, buat saya :D. Pernah kan, saya depresi berat terus nangis nggak bisa berhenti, lalu saya ambil buku (saya lupa judulnya) eh, nangisnya kelar. Nggak percaya? Coba deh, mungkin kita sama :D

#6 Makan
Asal jangan cemilan, makan saat stress wajar-wajar aja kan? 
Paling-paling musti jogging lebih lama…

#7 Nonton
Sewa DVD, nonton bioskop, panggil temen terus nonton bareng di depan laptop 
atau nonton layar tancep. Sekarang banyak warung kopi, café 
bahkan warung tenda yang nyediain fasilitas layar tancep. Filmnya juga beragam, 
box office, dangdutan, bahkan film P Ramlee juga ada.

Yang pasti, stress pasti pernah melanda siapa aja. Jangan berlarut dan hadapi aja. 
Edisi menyemangati diri sendiri, hahhahahaha :D
Share:

7 Hal yang Dibutuhkan untuk Bertahan Hidup

Seperti halnya banyak list yang dibuat oleh blogger atau siapapun, 
list/daftar ini sifatnya juga subjektif, hanya berdasarkan pendapat saya :D

Kawan-kawan boleh setuju, boleh juga memberi masukan lain yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Kalau semisal ada yang sama atau mirip, boleh juga tambahi di kolom komentar :D

#1 Air
Seperti dikutip dalam artikel di Howstuffworks, manusia bisa bertahan hingga 13-15 hari tanpa makanan, namun tanpa air manusia hanya mampu bertahan selama 3-5 hari. Bahkan jika udara sangat panas dan terjadi dehidrasi parah, manusia dapat meninggal hanya dalam satu jam tanpa air.

#2 Makanan
Penjelasannya sudah ada di point satu :D

#3 Pakaian
Oke, manusia minum dan makan lantas mampu bertahan hidup. Tapi tidak pakai baju? 
Sepertinya kita musti sepakat kalau baju berada di daftar no. 3, kecuali jika kita masih tinggal di zaman batu (tetanggaan sama flintstone :D)

#4 Tempat Tinggal
Buat point no. 4 ini, bisa diartikan macam-macam ya. 
Yang pasti tempat manusia terlindung dari panas dan hujan.

#5 Orang Lain
Kan enggak enak kalau tinggal sendirian. Semisal hanya jadi satu-satunya makhluk di bumi, mana ada enak nya kan? Orang lain ini, bisa diartikan keluarga atau teman, Siapa aja yang bisa kita ajak bersosialisasi.

#6 Pekerjaan/Aktivitas
Lakukan yang kita sukai ya. Segala sesuatu yang membuat kita punya tujuan dan menimbulkan semangat. Kalau semua orang bebas berekspresi dan berkreasi, pasti semua orang bisa bahagia.

#7 Buku (?)
Daftar yang terakhir ini sungguh sangat subjektif kan ya? 
Saya maniak buku…  Maafkan saya :D

Oke kan daftar yang saya buat? 
Ternyata manusia tidak butuh uang (andai saja masih ada sistem barter) 
dan manusia tidah butuh gelar S1 (karna pembuat daftarnya adalah saya).   
Maaf, tulisan ini tercipta karena pemilik blog sedang dilanda stress stadium akut :D
Share:

Monday, 9 November 2015

Investigasi Dana Bansos ala Persma Kreatif Unimed.

lokasi simulasi, lumayan cakep kan?
 Judulnya provokatif kan? 
Ha ha ha.. sebenarnya yang ingin saya tulis adalah proses simulasi pengusutan kasus pembakaran gudang yang berisi data-data bansos kepala desa. Namanya juga simulasi, artinya kondisi ini diciptakan 
untuk menilai kecakapan calon jurnalis dalam melakukan investigasi.

Program ini digagas oleh pers mahasiswa kreatif unimed dalam rangkaian tes 
yang disebut orientasi alam. Tes ini akan mengukur, loyalitas, kemampuan wawancara, menulis berita dan ketahanan mental calon kru untuk menjadi jurnalis.

Acara diadakan di bumi perkemahan sibolangit pada malam hari. 
Simulasi diawali oleh pembakaran sebuah media peraga yang diibaratkan sebagai 
gudang penyimpanan arsip mengenai dana bansos kepala desa. Lalu dua orang security 
dinyatanya sebagai korban karna berusaha memamkan api dan menyelamatkan isi gudang. 
Seorang hansip luka bakar berat dan menderita banyak lebam disekujur tubuh, 
sedangkan yang seorang lagi luka bakar ringan dan hanya lebam di buku-buku jari tangan.

Dalam simulasi ini, kru bertugas memaikan peran untuk mengecoh info yang harus digali peserta. 
Diantaranya ada yang bertugas sebagai perawat, polisi, kepala desa, pengacara, 
security, hansip dan warga. Sedangkan calon kru harus menemukan saksi kunci diantara warga untuk menemukan pelaku pembakaran dan otak pelakunya.
 
beberapa kru yang ikut bermain peran - yang tengah tampangnya paling belagu :)
Kelihatannya cukup mudah, namun banyak calon kru yang akhirnya keteteran mengumpulkan informasi 
dan salah menggali informasi yang malah semakin menyesatkan infestigasi.

Meski begitu, program yang berlangsung selama dua hari dengan lebih dari enam puluh peserta ini berlangsung kondusif dan berakhir dengan hasil yang tidak terlalu mengecewakan.

Tetap berkarya kawan, seiya sekata bersama kreatif.
Share:

Mi Wak Kejam - Sensasi Rawit Yang Membakar Lidah

tampilan sederhana tapi mengintimidasi

Sebenarnya warung mi ini tidak bernama karna lokasinya hanya di halaman rumah 
di daerah jalan durung, tidak terlalu jauh dari universitas negeri medan. Sedangkan penjualnya adalah sepasang opung yang sudah lumayan berumur.


Mi wak kejam adalah panggilan yang dibuat sendiri oleh kru kreatif yang kebetulan 
kawan-kawan saya yang memang suka nongkrong di tempat ini. Alasannya sederhana, rasanya sangat pedas dan proses pembuatannya juga lama, lumayan kejam untuk peret-perut yang sedang kelaparan kan? Pembuatnya opung- opung yang sangat telaten, maka rawit beserta bawang dan teman-temannya diiris dengan sangat perlahan, itulah penyebab utama waktu penyajian jadi sangat lama.

Kali pertama saya datang, sudah ada tujuh pesanan yang menunggu. Jadilah saya harus sangat sabar karna harus menunggu. Karna kuali si opung hanya sanggup menampung 7 porsi sekali masak. Ya benar, seandainya ada dua atau tiga pengunjung yang jumlah peasananya lebih dari tujuh, maka otomatis pengunjung terakhir harus rela sangat bersabar untuk dilayani.

tumpukan tisu jadi bukti bahwa kami kepedesan
 Setelah sekitar satu jam menunggu, pesanan saya akhirnya tiba. Penampilannya sangat provokatif,
meskipun mi yang digunakan hanyalah mi instan biasa. Warnanya merah menyala karna 
menggunakan saos sambal, saya sempat melirik saat pembuatan. Tapi yang bikin nyali saya ciut 
tentu saja rawit yang nongol di permukaan mi.

Saya tentu saja khawatir dengan keselamatan perut dan lambung. 
Meskipun pecinta makanan pedas, tapi saya sering mules kalau terlalu banyak mengkonsumsinya.

Pertama kali saya seruput kuahnya, lumayan segar. Lalu saya memberanikan diri makan sesuap, 
rasanya tentu saja pedas, tapi nikmat. 

warning : kepedasan membuat muka jadi lumer
Ya, pedasnya tidak membuat saya kapok tapi malah ketagihan. 
Dan dalam sekejap mie ludes, bahkan kuahnya juga kandas tidak bersisa. 
Kalau keringat jangan ditanya, muka dan rambut saya basah semua. 

Tapi anehnya, perut saya tidak sakit. Tidak seperti kebanyakan sajian sejenis 
yang menggaungkan rasa pedas bertingkat yang membuat saya kapok di percobaan pertama, 
mi wak kejam ini malah membuat saya bersendawa, mungkin karna mi ini juga menggunakan 
banyak bawang yang berfungsi untuk menghalau kembung.

Buat kawan-kawan yang suka pedas, saya tantang lah buat nyicipin mi wak kejam ini, 
dijamin ketagihan. Tapi harus sabar nunggu selama proses pembuatan yak.. 

_________

Location : Jalan Durung (dekat simpang Unimed)
Price : IDR 10.000
Share:

Friday, 6 November 2015

Travelling Nekat Menuju Tapak Tuan - Aceh Singkil

 
 
Oke. Ini salah satu perjalanan gila yang pernah saya lakukan bersama admin perempuan november
 beberapa masa yang lalu. Bagaimana tidak gila, Diah (nama si admin itu) menghubungi saya jam satu siang dan ngajakin buat ngetrip bareng ke tapak tuan yang lokasinya udah beda provinsi dari tempat kami tinggal. 

Dan lebih gilanya, saya mau-mau aja, padahal ada scedule ngisi materi penulisan di tempat x.
Jadilah saya mengcancle jadwal dan balik ke kos, 
langsung packing dan merapat ke tempat janjian yang udah ditentuin.

Di tempat itu, saya baru sadar kalau kami akan berangkat berenam dengan mobil salah satu peserta trip.
Jam empat tepat kami bergerak dari Medan menuju Aceh menggunakan jalur darat. Dan lagi-lagi, untuk 
ke sekian kalinya, peserta trip tidak ada yang yakin dengan pasti jalur yang harus di tempuh.

Karna sore adalah waktu yang tepat untuk macat, kami baru tiba di Brastagi pukul stengah 8 malam. 
Makan malam sebentar, langsung melanjutkan perjalanan. Lewat tengah malam, kami melewati jalur lintas yang lumayan seram. Minim pencahayaan dan rumah penduduk jaraknya sangat berjauhan. 
Sebenarnya kami ingin berhenti di spbu dan melanjut  perjalanan saat keadaan kembali terang, 
namun si SPBU yang dimaksud juga tidak ditemukan.


Jadaliah kami menahan kantuk, menahan lelah, menahan seram dan menahan pipis di sepanjang jalan. 
Dan yang paling bikin heboh, ada seorang anak-anak.yang dengan santainya tidur-tiduran di tengah jalan. Nah, itu kan sedang gelap, kalau terserimpet kan bisa berabe urusannya.

Dengan izin Allah S.W.T akhirnya kami berhasil menahan pipis dan menuntaskannya 
di spbu pertama yang kami temui. Setelah bertanya ke petugas yang berjaga, 
kami bisa bernafas lega karna menurut mereka kami sudah berada.di jalur yang benar dan hanya butuh setengah jam lagi untuk tiba di Tapak Tuan.

Karna sudah menjelang subuh, kami memutuskan untuk istirahat saja dan melanjutkan perjalanan saat matahari mulai tampak. Di sisa perjalanan menuju itu, kami menyempatkan diri singgah di sebuah pantai yang banyak pohon pinusnya, tapi saya tidak ingat nama pantainya.


Okelah, setelah perjalanan panjang yang lumayan melelahkan, 
kami tiba di lokasi tapak tuan dengan selamat. Namun untuk mencapainya, perlu mengesot 
di beberapa batu besar terlebih dulu. Sebenarnya menggesot ini istilah saya, karna peserta trip yang lain hanya perlu melompat.dan memanjat, tapi karena saya gamang, saya memutuskan 
untuk mengesot saja.

Perasaan saya di tempat itu? Luar biasa, 
berdekatan dengan sebuah tapak besar yang memiliki legenda, ditebing laut yang ombaknya luar biasa.
Sebenarnya Tapak Tuan ini memiliki legenda yang diyanini masyarakat setempat, 
tapi nantilah saya tuliskan ceritanya ya...

Share:

Danau Toba, Rumah untuk Berbagi Rasa

 
 
Mungkin, sudah tak terhitung banyaknya, kawan-kawan yang menulis review perjalanan mereka ke objek wisata terkenal, Danau Toba. Tapi saya tetap akan menulis menurut persepsi saya :)
 
Jarak antara Medan dan Danau Toba tidak terlalu jauh, tapi bukan perjalanan yang singkat juga. 
Sekitar 4-5 jam jika mengendarai mobil atau bus. Tapi pemandangan yang akan kita nikmati
benar-benar bisa membayar semua kelelahan di perjalanan.


Saya rasa, tidak perlu saya menjelaskan panjang lebar tentang danau vulkanik 
terbesar ke dua di dunia milik Sumatera Utara ini. Perpaduan antara birunya air berbatasan dengan langit yang maha luas dipadukan dengan hutan yang memagarinya, sempurna.

Segala penat hilang, segala kegamangan dituntaskan. 
Alam yang tenang benar-benar rumah bagi semua orang yang butuh menyembuhkan jiwa.
 

Bukan hanya itu, saya sebenarnya juga sangat tertarik mengulik tentang budaya yang menyelimuti 
Danau Toba, tapi sayangnya belum diberi kesempatan untuk berbincang langsung dengan warga setempat. Hanya mitos tentang seekor ikan yang menjelma wanita cantik yang lantas menjadi legenda terbentuknya danau inilah yang saya ketahui.

Meski begitu, eksistensi Danau Toba sebagai objek wisata yang mendunia sudah tidak lagi diragukan. Berkembangnya bisnis cottage dan souvenir di tuk-tuk dan samosir menjadi bukti 
bahwa bisnis wisata tumbuh dengan sangat baik di tempat ini.


Tapi tetap saja, yang menjadi favorit saya adalah menatap pagi yang pelan-pelan merangkak, menawarkan senyap yang khidmat, diantara birunya langit dan para penduduk lokal yang menebar jala. Sungguh pengalam yang membuat saya ingin kembali menyapa dan bercengkrama denga Danau Toba. 




Share:

Thursday, 5 November 2015

Menikmati Pesona Belerang di Kawah Putih Tinggi Raja


Daerah wisata Sumatera Utara yang umumnya dikenal masyarakat luas tentu saja Danau Toba, 
Brastagi, dan Bukit Lawang. Tapi sebenarnya masih banyak tempat menarik yang bisa dieksplorasi oleh wisatawan. Salah satunya Kawah Putih Tinggi Raja di Simalungun. 

Perjalanan saya ke Tinggi Raja sebenarnya sudah lama sekali, tapi selalu lupa untuk menuliskannya. Setelah membongkar folder foto perjalanan dan menemukan dokumentasi Kawah Putih itu, saya kembali tergerak untuk menuliskan pengalaman perjalanan itu.


Awalnya saya diajak oleh sekelompok teman, kami memulai touring pada pukul 11 malam dan berencana untuk melakukan perjalanan yang santai saja dan tidak terburu-buru. Namun sanking santainya, beberapa kali kami tersesat dan harus mengambil jalan memutar. 
 Pada kenyataanya, tidak seorangpun dalam rombongan pernah datang ke kawah putih. Dengan kata lain, google map menjadi satu-satunya acuan dalam kesuksesan trip kali ini.
Untunglah, setelah berjam-jam berputar-putar, 
akhirnya kami.tiba di desa dolok tinggi raja dengan selamat. Tapi tentu saja, jadwal perjalanan yang seharusnya hanya empat jam, kami tempuh selama hampir sembilan jam.

Perlu saya ingatkan, medan yang kami lalui dalam perjalanan ini lumayan sulit, jalan berbatu dan berlubang serta becek menyebabkan mobil yang kami tumpangi agak kewalahan melaluinya.

Sesampainya di lokasi kawah putih, kami meminta izin pada tetua kampung terlebih dahulu, karna meskipun tempat wisata, namun kawah putih ini masih sangat dijaga nilai-Nilai tradisinya oleh masyarakat setempat.
Kami disambut baik, bahkan diatarkan secara langsung oleh tetua kampung yang kami panggil opung. Jarak antara lapangan parkir dan kawah putih tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Namun hawa panas sudah mulai terasa meskipun saat itu masih tergolong pagi.



Pertama kali menyaksikan apa yang terbentang di depan mata, saya dibuat tercengang. 
Terbentang endapan belerang putih membetuk dataran yang berkilau ditimpa cahaya matahari. 
Bentuk endapan mineral itu bermacam-macam, bahkan ada yang terlihat seperti 
kelopak jamur tiram yang bertumpuk-tumpuk. 
Bukan hanya itu, disebagian lokasi yang membentuk ceruk, kita dapat mengamati air belerang yang menggelegak. Jika kita masukkan telur ke dalamnya, pasti dapat matang dalam sekejap.
Selesai bereksplorasi di dataran kapur belerang, kami beranjak ke lokasi ke dua. Sebuah sungai yang mengandung unsur belerang juga.



Dan sensasi yang diperoleh, lumayan luar biasa juga. Karena saya harus mengesot untuk sampai di sungai belerang yang dimaksud. Airnya hangat dan pemandangannya hebat. Di dinding tebing tempat air mengalir, terbentuk endapan belerag berwarna hijau. Sekilas saya berfikir bahwa endapan itu licin karna seperti lumut, tapi saat menjejakkan kaki di atasnya, yang saya rasakan adalah kebalikannya.


Kawah Putih Tinggi Raja sangat cocok buat kawan-kawan yang menyukai sensasi travelling 
yang tidak biasa. Perpaduan pemandangan indah, endapan belerang, 
desa yang ramah dan tradisi yang masih kokoh terjaga.

_______________

Nb : Semua foto di artikel ini dijepret sama kak Rancid dan Bg Ridho Golap. 
Saya cuuma pinjem karya mereka untuk dokumentasi aja :)
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts