Author Info

Wednesday, 14 December 2016

NOBAR FINAL AFF 2016

Kalau ada yang tanya, saya suka nonton pertandingan bola atau nggak? Jawabannya ya nggak terlalu sih, tapi kalau ada event besar seperti piala dunia dan sejenisnya dan diajakin nonton bareng, saya juga nggak akan nolak. 

Jadi kan, sepulang diskusi tentang rencana tindak lanjut Konfrensi Perlindungan Anak di Hotel Mercure tadi sore, Pak Bos ngajakin nonton bola aja dulu sekalian makan malam karna final AFF-nya udah keburu mulai dan kami nggak sempat balik ke penginapan. Begitulah akhirnya, kami berempat mengambil posisi paling strategis di depan televisi di salah satu tempat makan (yang saya lupa namanya) di kawasan Kalibata City.

Menurut saya, pertandingan antara Indonesia Vs Thailand yang berlangsung tadi cukup seru meskipun gaya permainan kedua negara sangat berbeda. Meskipun agak lemah untuk kerja-kerja tim, namun secara individu pemain Indonesia punya skill yang bagus. Tapi ya nggak bisa diingkari juga kalau timnas Thailand bermain sangat cepat dan berkali-kali mencoba menjebol  gawang Indonesia. Dan begitulah, pada menit ke sekian di babak pertama, Thailand akhirnya berhasil mencetak satu angka.

Untuk pertama kalinya saya merasakan sensasi nobar di tempat terbuka dengan banyak orang, lumayan kaget juga saat penonton tiba-tiba tereak saat gol terjadi. Tapi memang seru sih dan mungkin pertandingan sepak bola nggak akan semenarik ini kalau ditonton sendirian di rumah.

Saya sebenarnya udah pasrah aja dengan hasil akhir pertandingan, saya juga tidak mengikutii kejuaraan AFF sejak awal. Jujur saja, yang menjadi satu—satunya daya tarik adalah keberadaan timnas Indonesia sebagai peserta. Tapi sungguh diluar dugaan, Indonesia berhasil mencetak angka di babak kedua (lagi-lagi saya nggak ingat di menit keberapa). Tapi gol yang tercipta lumayan cantik, meskiipun saya nggak ingat siapa yang cetak golnya, tapi saya suka sekali gol pertama yang dihasilkan Indonesia iitu. Bahkan awalnya saya nggak nyangka kalau tendangan salah satu pemain iindonesia itu bisa menjadi sebuah gol yang indah.

Nggak lama berselang, paling Cuma llima menitan, gol kedua kembali terjadi, kali ini gol berasal dari tendanga sudut salah satu pemain Indonesia. Tapi kali ini, kronologi gol nya agak-agak lucu, kan para pemain indonesia dan thailand menumpuk di depan gawang indonesia menunggu tendangan sudut. Dan kebetulan tendangan sudutnya agak melenceng, tapi langsung disundul sama pemain indonesia yang lain, lucunya? Ya lucunya, sundulan itu nggak direspon sama pemain thailand yang numpuk di depan gawang itu dan meluncurlah si bola tanpa hambatan, dan unggullah Indonesia denga poin 2-1. Lalu akibatnya, agak-agak panaslah kuping saya mendengar teriakan kawan-kawan lain yang bahagia karena euforia itu.

Tapi, satu hal lagi yang menurut saya menarik dari pertandingan ini adalah komentatornya. Komentatornya lucu, intonasi suaranya mirip orang yang sedang bersyair, tapi lucu yang saya maksud positif kok, nonton pertandingannya jadi tambah seru dan kocak.
 
So far, saya Cuma mau bilang apa pun bisa aja terjadi asal ada semangat dan nggak nyerah. Ya kayak Timnas Indonesia ini, meskipun dianggap tidak cukup berpengalaman dibandingkan Timnas Thailand, mereka tetap bisa bertahan bahkan mengungguli pesaingnya. Good Luck Timnas Indonesia, Mantap....

 
Share:

Tuesday, 16 August 2016

Eco Kids Playground

I have found the best way to give advice to your children is to find out what they want and then advise them to do it
Harry S Truman

Sejak beberapa bulan terakhir ini, saya jadi memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anak. Saya bergabung dalam sebuah lembaga yang bergiat untuk kepentingan dan kesejahteraan anak. Saya bukanlah orang yang mudah bergaul dan mudah akrab dengan orang lain, namun dengan anak-anak? situasinya akan sangat berbeda.
Jadi kepingin ikutan main, serunya zaman anak-anak :D
Anak-anak memiliki cara mereka sendiri untuk menarik perhatian kita. Mereka polos, lincah, serba ingin tahu dan sangat atraktif. Meskipun beberapa anak yang saya temui ada juga yang pemalu dan menyendiri, namun hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi kita untuk mengenal kepribadian mereka. 

Beberapa bulan ini menjadi moment yang sangat berharga untuk saya, moment dimana saya mulai mengenal dunia anak. Masa dimana tidak ada kebohongan, mereka menyuarakan apa yang mereka inginkan, mereka melakukan apa yang mereka kehendaki dan masa-masa seperti ini menjadi saat yang paling penting dan berharga untuk tumbuh kembang mereka di masa yang akan datang.

Lantas apa yang menjadi kegelisahan saya sehingga tulisan ini akhirnya terangkai menjadi postingan di dalam blog saya?

Begini, anak-anak memiliki dunia yang kita sebut dunia imajinasi. Dalam dunianya, mereka bisa menjadi apa saja dan bertingkah menjadi siapa saja. Kita sebagai orang dewasa berperan untuk mengawasi, bukannya membatasi. Namun yang saat ini terjadi adalah kebalikannya, anak-anak cenderung dilarang melakukan apa yang mereka inginkan dengan dalih keselamatan. 
Bisa bayangin ga, labirin model begini, tapi terbuat dari jalinan botol bekas. Menarik kan?
Pada posisi ini, orang dewasa ada benarnya juga. Bagaimana mungkin mereka mengijinkan anak mereka berkeliaran di luar rumah sementara sepeda motor dan mobil silih berganti tiada hentin dan seringkali dengan kecepatan yang tidak terkendali. Orang dewasa juga pasti akan melarang anak-anaknya untuk berkeliaran di dalam rumah karena takut si anak akan bermain dengan perkakas elektronik yang rentan menyebabkan anak tersetrum.

Lantas apa yang selanjutnya menjadi jalan keluar yang biasanya orang dewasa/orang tua lakukan? Mereka akan membekali anakn dengan gadget yang katanya canggih dengan berbagai aplikasi yang dapat menyedot perhatian anak sehingga mereka akan melupakan dunia yang seharusnya mereka cintai. Anak akan mulai terhipnotis dan mulai melupakan interaksi sosial dan dapat duduk diam di samping orang tua yang merasa anaknya aman berada disampingnya.

Namun kenyataannya tidak seperti itu. Karena nyatanya, membatasi aktifitas bermain anak dan menstimulus anak dengan gadget di usia muda akan mempengaruhi kepribadian anak, baik secara mental maupun sosial.
Orang tua tetap bisa mengawasi sambil duduk santai di pinggiran playground yang juga terbuat dari ban bekas
Lantas saya mulai memikirkan alternatif yang mungkin dapat kita realisasikan bersama. Alternatif ini sangat sederhana dan dapat memecahkan tiga masalah secara bersamaan. Satu hal yang paling penting, yang wajib ada adalah sebidang lahan/lapangan datar dengan ukuran yang relatif (semakin luas maka akan semakin banyak anak yang dapat menikmati fasilitas ini. Sedangkan masalah yang dapat teratasi jika fasilitas ini benar-benar terwujud adalah memenuhi ruang terbuka bagi anak untuk berkreasi, belajar, bermain dan bersosial. Kedua, membantu mengatasi permasalah sampah yang juga menjadi masalah nasional hingga saat ini. Ketiga, apabila fasilitas ini dapat dikembangkan dengan baik, bukan tidak mungkin jika fasilitas ini juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi sebagian  orang.

1. Ruang Terbuka Bagi Anak
Sangat sulit menemukan ruang terbuka yang ramah anak, hal ini saya utarakan bukan tanpa alasan. Dulu, saat saya masih kecil, saya masih ingat bahwa saya masih berkesempatan untuk bermain galasin dan pecah piring di lapangan sepak bola yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal orang tua saya. Saat ini, lapangan yang saya maksud sudah berganti menjadi bangunan-bangunan permanen yang diperjualbelikan (ruko).

Hal yang sama juga dialami oleh sepupu saya. Dulu, sangat mudah mencari lapak untuk bermain layang-layang, patok lele dan kelereng. Namun lokasi-lokasi strategis tempat kami dulu bermain sudah tidak ada lagi, sudah berubah wujud menjadi jalan raya dan area tower pemancar, tentu saja sudah sangat tidak layak menjadi tempat bermain anak. Oleh sebab itu, lahan terbuka sangat dibutuhkan terutama untuk memfasilitasi anak-anak bermain anak.
Semuanya dari barang bekas, nggak kalah keren kan?
2. Membantu Mengatasi permasalahan Sampah
Nah, bingung kan? Bagaimana mungkin taman bermain anak dapat mengatasi permasalahan sampah? Ya, sebelumnya saya hanya menjelaskan tentang lahan terbuka untuk anak saja, namun saya belum menjelaskan tentang media yang digunakan untuk memfasilitasi permainan anak. Jika selama ini kita mengenal beragam permainan anak ditaman hiburan yang didominasi peralatan berbahan dasar metal dan plastik/fiber. Maka kali ini kita dapat menggunakan beragan barang bekas sebagai media bermain anak.

Yang paling umum digunakan adalah limbah ban bekas yang dapat di cat dan dikreasikan menjadi beragam permainan yang menarik. Diantaranya jungkat-jungkit, ayunan, panjat dinding, permainan rintangan untuk anak, permainan tunggangan dsb. Selain itu, limbah botol plastik kemasan juga dapat dirangkai menjadi semacam partisi yang dapat dikreasikan menjadi labirin yang menarik untuk mengasah kecerdasan anak.

Cuma bahan botol, kawat dan bambu, jadi keren kan?
3. Sumber pendapatan
Jika dapat terwujud dan dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin ide ini dapat menjadi bisnis baru yang bukan hanya dapat menghasilkan keuntungan materil namun juga bernilai edukasi bagi masyarakat. Konsep-konsep bank sampah yang didengungkan diseantero negeri dapat dikembangkan secara real di sini. Pengumpulan sampah layak daur ulang disimpan di dalam bangunan yang terbuat dari bahan daur ulang, lantas sampah-sampah layak daur ulang tersebut dikreasikan menjadi permainan edukatif bagi anak. Sedangkan untuk sampah organik, kita hanya perlu menyediakan wadah-wadah yang sudah diisi sekam dan disiram mol (agar tidak bau dan sampah mudah terurai), lantas pengunjung kita edukasi secara continue agar membuang sampah organik mereka langsung ke wadah-wadah yang disediakan.

Apa yang baru saja saya jabarkan adalah penggabungan konsep ide untuk mewujudkan sebuah taman bermain anak ramah anak dengan pemanfaatan media daur ulang sampah (Eco Kids Playground). Penjabaran dalam postingan ini terlihat sangat mudah dan sederhana, namun untuk merealisasikannya pasti butuh kerjasama berbagai pihak. Namun saya sangat yakin, untuk masa depan yang lebih baik, kita pasti mampu mewujudkannya. Karena saya sangat yakin, kita semua percaya bahwa masa kanak-kanak anak masa paling penting untuk membangun mental dan kepribadian generasi penerus bangsa.(*)

Share:

Wednesday, 10 August 2016

Kendalikan Luapan Banjir dengan Sumur Resapan

Belakangan ini saya memang lagi seneng-senengnya blog walking ke berbagai blog tetangga. Saya itu mulai suka belajar menulis dari blogger-blogger yang udah lebih lama aral melintang di dunia perbloggan (heleh bahasanya…) Nah, berawal dari blog walking, saya biasanya menemukan ide-ide baru dan terkadang juga jadi dapat informasi lomba yang memang diperuntukkan bagi penulis blog. Salah satunya yang diadakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Ini ilustrasi dari ilmuternak.weebly.com (saya paling nggak bisa menggambar)
Saat membaca dan mencoba memahami lomba yang berkaitan dengan pengembangan infrastruktur daerah ini, saya sontak langsung bersorak-sorai (tapi dalam hati aja, nggak mungkin juga tereak-tereak tiba-tiba, bisa dianggap gila sama seisi rumah). Saya girang bukan tanpa alasan, saya girang karena merasa bahwa saya akhirnya memiliki wadah untuk curhat dan membagi keresahan terkait daerah tempat saya bermukim saat ini.

Saat ini saya bermukin di belawan, masih merupakan bagian dari kota Medan tapi letaknya paling ujung dan berdekatan dengan pelabuhan Belawan. Belawan ini sejak dulu sampai sekarang sangat rentan dengan yang namanya banjir rob. Nah, buat yang belum familiar dengan istilah ini, banjir rob itu banjir yang disebabkan oleh pasang laut. 
Ini juga ilustrasinya ngambil dari blog tetangga bebasbanjir2025.wordpress.com
Belawan memang sangat dekat dengan laut, namun letaknya tidak sampai berdampingan. Pasang laut yang saya maksud, bukan berarti air pasang meluap seketika dan menerjang rumah-rumah, bukan seperti itu. Lebih tepatnya, dua kali sebulan belawan akan mengalami banjir (pasang). Air biasanya akan meluap melalu parit-parit di sisi jalan, yang tujuan awalnya dibuat untuk saluran pembuangan air (drainase). Namun pada kenyataannya, parit-parit inilah yang menjadi media meluapnya air.

Di belawan, banjir/pasang bukanlah pemandangan yang janggal. Air biasanya menggenangi jalanan setinggi mata kaki hingga betis. Namun belakangan ini, banjir semakin menjadi-jadi bahkan hingga sepaha orang dewasa. Sudah dapat dibayangkan lah ya, berapa banyak rumah warga yang terendam. Meski begitu, hal ini tidak terblow up di media massa karena banjir/pasang tidak menggenang dalam waktu lama. Biasanya air akan meluap mulai pukul 2 siang hingga mencapai ketinggian tertentu dan surut dengan sendirinya pada pukul 4 atau 5 sore pada hari yang sama dan akan berulang selama 4-7 hari berturut-turut.

Bisa dibayangkan betapa stressnya masyarakat yang tinggal di daerah setempat (termasuk saya). Beberapa cara penanggulangan yang sudah pernah dilakukan warga secara mandiri adalah menimbun rumah dan membentengi halaman rumah dengan pagar batu agar air pasang tidak memasuki rumah. Namun hal tersebut juga tidak berdampak signifikan karena timbunan rumah hanya akan bertahan beberapa bulan hingga akhirnya air akan kembali masuk, baik dari secara langsung maupun merembes dari celah-celah retakan lantai dan dinding.
Alternatif yang oke dari 19design.files.wordpress.com
Pemda setempat juga sempat mengambil inisiatif untuk menimbun jalan, namun dampaknya malah lebih buruk. Karena jalan raya lebih tinggi dari pemukiman warga, maka pasang dengan santai dan lebih leluasa membanjiri dan menggenangi rumah-rumah. 

Lalu kesempatan berbagi informasi tentang pengembangan infrastruktur ini mengingatkan saya mengenai pembuatan sumur resapan di daerah karo yang pernah saya lihat dan dokumentasikan proses pembuatannya. Saya rasa metode seperti itu bisa jadi alternative yang baik. 

Jadi kan ya, dapat dibuat sumur resapan seluas 3x3 meter dengan kedalaman 7-10 meter. Pada bagian bibir sumur hendaknya disemen setinggi 1 meter agar bibir sumur lebih kokoh dan tanah tidak lungsur. Lalu bagian atas ditutup dengan penampang berjaring, lalu ditutup kembali dengan tripleks tebal untuk mencegah warga terperosok. 

Selain sumur resapan,daerah Belawan, bisa juga dibuat kolam resapan agar daya tampung air banyak. Karna di Belawan yang harus diatasi adalah banjir rob, maka air yang harus dikandalikan memang lebih banyak dan debitnya airnya datang dengan cukup cepat, maka penampang air untuk menampungnya memang harus lebih besar.

Sumur resapan ataupun kolam resapan, semoga bisa menjadi alternative paling sederhana untuk membantu tanah meresap air lebih cepat. Karena pada kenyataannya, tingginya pengembangan industri dan properti sangat mempengaruhi menyempitnya lahan resapan air di Belawan. Oleh sebab itu, jika luas penampangnya sudah mulai menipis, ada baiknya kita membuat solusi dengan membantu tanah melakukan tugasnya meresap air dengan cara menambah penampang resapan di sekeliling sumur. Semoga hal ini dapat terwujud dan banjir serta pasang di berbagai tempat di negeri ini (termasuk Belawan ya…) dapat diatasi dengan cara yang baik dan cerdas.
Share:

Monday, 18 July 2016

Korean Style Dinner ala Daebak Restaurant

Akhirnya berhasil juga nyobain makan ala-ala drama korea, bolehlah buat pengalaman sebelum terbang ke negeri asalnya sana (ea... ngarep ada yang mau ngendorse.. hahahaha..)

Side dish yang dihidangkan lumayan beragam, meski porsinya nggak banyak...
Awalnya, saya sama dua orang temen yang lain pengennya makan di Zing Do, tapi karena human error diantara kami, di daebaklah kami akhirnya terdampar.

Di daebak ini, harga per menunya lumayan tinggi, mungkin karena bahan-bahan yang digunakan kualitas premiun ya. Kita aja awalnya agak bingung gitu mau pesen apa, maklum lah ya, anak kost-kostan tapi doyan kulineran yang nggak biasa. halah....

Galbi oh galbi.... saya kembali lapar...
Akhinya kita putuskan untuk pilih galbi set aja dan kita milih buat grill sendiri biar lebih mirip kayak yang drama gitu... :D

Nah, ada yang bikin saya surprise dan agak katro alias ndeso, saya pangling saat pelayannya nganterin makan-makan dalam porsi kecil gitu. Saya bisik ke temen di sebelah, "kan tadi kita nggak pesen camilan?"
Si kawan yang lagi asik ngebolak-balik daging. Berasa makan di negeri ginseng kita kan boi?
Si temen langsung nyengir dan menoyor saya, "Ini side dish nya, boi. Di korea emang gini, side dishnya banyak."

Saya langsung manggut-manggut dan membatin "Patesan dibandrol seratusan ribu lebih, side dishnya aja bisa bikin kenyang."

Diantara banyaknya side dish yang dihidangkan, ada satu menu yang mirip banget sama bakwan. Lucu aja gitu, nemu bakwan diantara varian makanan korea. 

Beberapa menit kemudian, si mbak pelayannya datang lagi ngebawain alat grill dan daging yang udah dibumbui pedas karena kita milih galbi yang spicy. So far, si galbi alias daging sapi ini enak lah. namanya juga daging. Tapi kalau mau jujur, tekstur dagingnya memang beda sama daging yang biasa dimasak rendang sama emak saya pas lebaran. Galbi ini teksturnya lebih lembut dan nggak berserat.

Toppokki yang berhasil mencuri hati kami. Toppokki... we in love with you...
Kalau masalah saus dan bumbu, lidah saya emang masih bisa menolerir bumbu khas korea yang lebih condong asin asin asem gitu, tapi kalau boleh milih sih saya lebih suka rasa pedes khas indonesia. 

Sebenernya kita bertiga udah cukup kenyang dengan galbi beserta side dish dan nasi. Tapi rasanya kok belum afdol kalau ke resto korea tapi nggak nyicipin toppokki. Ya begitulah akhirnya, kami pesen lagi seporsi cheesse toppokki yang disajikan dalam panci aluminium.

Dan beginilah akhirnya, versi before dan after yang diabadikan dalam kenangan.. ea......
Daaannnnnn....... kita bertiga setuju kalau toppokkinya enak banget, bahkan kalau boleh milih, kami lebih suka toppokki daripada galbi. Ini sebenernya kami katro atau seleranya yang perlu dipertanyakan ya? Haahahha....

Jadi intinya, kami puas lah dinner di daebak dan berencana buat balik lagi, tapi bukan buat makan galbi ya, kali ini kalau mampir kami nggak perlu liat menu dan bakalan langsung pesen cheesse toppokki aja...
 _____________________________

Alamat : Kompleks ruko Jati Junction di jalan Timor, Medan
Price : Galbi Set  Idr 150.000, Cheesse Toppokki  Idr 78.000
Share:

Sunday, 17 July 2016

Pokemon Go, Nostalgia Dibalik Euforia Digital

Para penggemar anime dan game, nggak mungkin nggak kenal dengan tokoh monster imut warna kuning yang dikenal dengan nama pikachu. Tentu saja, saya juga sudah sangat familiar dengan si kuning menggemaskan yang berasal dari serial anime pokemon ini. Meskipun masa-masa kejayaan pokemon sudah berlalu sejak bertahun-tahun yang lalu, namun penikmatnya pasti belum sepenuhnya lupa. 


Itu sebabnya, saya tidak terlalu heran saat beberapa hari yang lalu, media mulai gencar memberitakan tentang Pokemon Go, salah satu aplikasi game dengan efek augmented reallity yang dapat dimainkan dengan menggunakan aplikasi android. Hebohnya pemberitaan baik di media sosial, online maupun cetak membuat saya ikutan latah untuk mengikuti perkembangan berita yang di bagikan oleh kawan-kawan media. Dari banyaknya artikel yang beredar, sebagian besar menyarankan orang tua untuk mengawasi anak-anak yang bermain pokemon go ini, agar anak-anak tidak kecanduan dan melupakan realita.

Tapi kalau menurut saya, Pokemon Go ini sebenarnya dirancang bukan untuk anak-anak, namun sebaliknya game virtual ini diperuntukkan bagi orang dewasa yang mulai jenuh dengan kehidupan kantor dan ingin mengembalikan keceriaan masa kecil.
Pikachu... Ternyata yang kuning imut bukan cuma minion ya...
Apa yang ditawarkan oleh pengembang Pokemon Go adalah kebutuhan masyarakat saat ini yang katanya hidup dalam zaman yang serba cangggih dan modern. Apa itu? Sosialisasi dan interaksi.

Selama ini, tekhnologi dianggap sebagai media yang mampu membuat manusia menjadi pribadi yang antisosial. Segala sesuatu dilakukan tanpa interaksi dengan orang lain. Bayangkan, kita tidak perlu bertemu orang lain untuk bertegur sapa, tidak perlu beranjak dari rumah untuk berbelanja, bahka sekarang sudah dikembangkan sistem yang memungkinkan seseorang belajar (sekolah) tanpa harus repot datang ke sekolah.

Segala tekhnologi yang memudahkan itu, nyatanya memberi dampak sosial dan psikologi yang membuat masyarakat menjadi introvert dan sulit bersosialisasi di masyarakat. Menurut saya, fakta dan fenomena sosial seperti inilah yang menjadi salah satu faktor dirilisnya Pokemon Go. 
 
Daftar pokemon legendaris, mana tau ada yang minat ikutan main Pokemon Go..
Pengembang melihat bahwa ada peluang dimana masyarakat ingin bersosialisasi, ingin berkomunikasi secara nyata dengan orang lain, namun ada keengganan, rasa jengah dan aneh saat mereka berfikir bahwa semua interaksi itu masih dapat dilakukan melalui media sosial. Itulah sebabnya, saat ada sebuah aplikasi yang menyenangkan seperti game dan melibatkan banyak orang secara real, maka sangat mungkin aplikasi tersebut menjadi viral dalam waktu singkat.
 
Nah, kenapa yang dipilih itu pokemon? Karena seperti yang saya jelaskan di paragraf-paragraf awal, bahwa pokemon itu pernah berjaya dan memiliki begitu banyak fans pada masanya. Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenangan, bisa saya pastikan akan menuai sukses. Apakah ada yang sependapat dengan saya? 
Share:

Thursday, 23 June 2016

Solusi Tepat untuk yang Doyan Bikin Kue Lebaran

Menjelang akhir bulan ramadhan seperti ini, saya mulai direpotkan dengan agenda bikin kue. Tahun lalu saya belum punya aktifitas rutin di luar rumah, jadi bisa full ngebantuin ibu yang memang udah langganan jual kue kering lebaran untuk tetangga sekitaran tempat tinggal kami.

kue jualannya emak saya (skippy, panda sunkis dan coklat kurma)
Nah sekarang beda lagi ceritanya, saya sudah punya kesibukan sendiri dan cuma ada waktu di malam hari. Agenda bikin kue perlu dijadwalkan dengan baik supaya semua kue pesanan bisa kelar tepat waktu. Selain mengagendakan jadwal, peralatan yang digunakan juga musti dalam kondisi prima. Bayangin aja, pemakaian dalam durasi yang panjang kan bisa bikin mixer terbakar dan kalau sudah begitu bakalan banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Dan mixer terbakar itu benar-benar kejadian pada saya beberapa hari yang lalu. Ceritanya kan saya sedang mengaduk bahan-bahan untuk membuat kue gabus (sebelumnya mixer sudah digunakan untuk pengadukan bahan kastange, jadi kondisi mixer udah agak-agak capek lah). Sebelum adonannya mengembang sempurna, si mixer tiba-tiba macet dan tercium aroma terbakar. Saya sudah bad feelling aja, dan ternyata beneran rusak si mixer itu. Masih untung kami punya cadangan satu mixer lagi di rumah, tapi saya mulai kepikiran untuk mencari mixer yang lebih tahan lama dan nggak gampang panas.

emak saya juga jualan bolu, jadi pemilihan mixer yang tahan lama sangat dibutuhkan
Saya mulai mencari di beberapa situs dan menemukan beberapa merek yang sepertinya sesuai, tapi harganya kelewat mahal, ada juga beberapa yang harganya sesuai tapi saya agak sangsi dengan olshop yang menawarkannya. Hingga akhirnya ada salah satu temen blogger yang nawarin untuk mencoba belanja di ruparupa.com. Awalnya saya cuma iseng mendaftar, tapi ternyata memang banyak promo yang sedang ditawarkan, termasuk potongan harga dan cash back.

Dan produk yang paling menarik minat saya tentu saja stand mixer merek klanz yang harganya cuma sejuta tiga ratusan ribu, menurut saya itu harganya sudah sangat terjangkau dibandingkan produk sejenis dengan spesifikasi yang sama. Dengan stand mixer klanz proses pembuatan kue pesanan lebaran akan lebih mudah dan cepat. 
penampakan si mixer klanz yang simpel tapi elegan, eaaak...
Satu produk lagi yang rencananya akan saya pesan adalah Kris Vacum Sealer. Kenapa? Karena saya pernah tanya di beberapa toko di tempat saya tinggal, vacum sealer itu harganya hampir sejutaan, tapi di rupa-rupa ini harganya hanya setengahnya, kan saya jadi bisa hemat banyak. Vacum sealer ini sangat usefull untuk pedagang kue lebaran seperti orang tua saya. Karena kue yang dikemas dalam plastik kedap udara bisa lebih tahan lama. 

Share:

Wednesday, 1 June 2016

SERING NONTON, Nonton Film ala Komunitas Film Medan

Saya sebenar-benarnya punya dua hobi yang mendarah daging dan sering kali mengganggu aktivitas harian saya. Kenapa? Karena jika sudah dimulai, maka saya akan susah berhenti. Pertama, tentu saja kebiasaan baca buku terutama novel fiksi dan komik. Sedangkan yang kedua adalah nonton film. Nah untuk urusan nonton ini, saya nggak pilih-pilih kecuali horror dan thriller seperti saw dan human centripede *euw..*

Untuk hobi kedua ini biasanya saya akan minta donlotan dari teman dan ngumpul-ngumpul sama komunitas film. Kenapa? Karena kalau tiap minggu nongkrong di 21, bisa-bisa belum tengah bulan dompet udah jebol aja.

Ngumpul sama komunitas film punya banyak keuntungan Salah satunya saya bisa nonton film-film bagus secara gratis, sering pula film-film yang mereka miliki adalah film-film kelas festival dan pemenang award di beberapa Negara. Selain itu, kawan-kawan di komunitas film ini nggak pelit berbagi ilmu. Saya aja yang awalnya cuma suka nonton film, sekarang mulai tertarik untuk buat film. Tapi yah mungkin bukan film juga lah, lebih tepatnya video aja yang paling-paling untuk konsumsi sosmed :D

Nah berawal dari kumpul-kumpul, kawan-kawan komunitas film yang tergabung dalam Kofi Sumut (Komunitas Film Sumatera Utara) memutuskan untuk membuat kumpul-kumpul setiap hari jumat, dua minggu sekali pukul 7 malam bertajuk SERING NONTON.

Nah, SERING NONTON ini udah terealisasi dua kali dan rencananya akan menjadi aktivitas rutin yang akan diadakan tiap dua minggu sekali. Di SERING NONTON selain diajak buat nonton, teman-teman juga bakan diajak berdikusi tentang tips dan trik pembuatan film.  Sampai saat ini saya udah dapat ilmu mengelola ide film untuk pembuatan fiksi pendek, pembuatan skenario dasar dan pembuatan film dokumenter. Saya aja baru tahu kalau film documenter dan video jurnalistik itu beda sangat.


Yah nantilah saya posting lagi yang lain dari aktifitas SERING NONTON ini, tapi ya kalau kawan-kawan memang penggemar film, hobi nonton atau malah suka dan tertarik untuk bikin film, nggak ada salahnya lah buat ikutan ngumpul di TEN Coffee (tempat mungkin bisa berubah, tetep tongkrongin aja tameline Fbnya kofi Sumut yah) di SERING NONTON, tiap Jumat, dua minggu sekali, jam 7 malem. 

Nonton film box office di 21? Biasaaa......
Mau yang beda? Nongkrong bareng di Sering Nonton Ajahhh :D  #inibukaniklan
Share:

Friday, 27 May 2016

1000 Hari Pertama Kehidupan

Belakangan ini saya jadi agak heran, setiap kali ngumpul sama teman dan terlibat dalam obrolan, sering kali obrolan kami selalu bermuara pada satu buah pertanyaan “Kenapa anak-anak zaman sekarang beda kali sama anak-anak zaman kita ya?”

Beda yang saya maksud disini maknanya luas ya, bisa jadi sifat dan ketahanan fisik dan mentalnya. Nah, kalau pertanyaannya begini, saya cuma bisa nyengir aja, mau gimana lagi lah saya juga belum nikah apalagi punya pengalaman ngurusin bocah.

Sampai akhirnya sepekan yang lalu saya dapat penugasan dari kantor buat ikutan sosialisasi seribu hari kehidupan yang diselenggarakan oleh Dinas Provinsi Sumatera Utara. Saat liat undangannya saya langsung tahu kalau sosialisasinya bakalan nggak jauh-jauh di seputaran bayi dan gizi. Agak-agak speechless sih, karena staff di tempat kami yang statusnya perempuan kan bukan cuma saya, ini apaannn??? Apa saya disuruh cepetan nikah? *eh..*

Singkat cerita, saya sampailah di tempat sosialisasi dan ternyata seperti biasa acaranya ngaret donk. Untuk mengisi waktu kosong, peserta yang sudah hadir dipersilahkan menonton cuplikan video yang menggambarkan perkembangan bayi di dalam kandungan (mulai dari embrio sampai membentuk janin). Ngeliat video ini saya jadi ingat emak di rumah dan mulailah saya bermellow ria. Untung aja acaranya segera dimulai, kalau nggak kan lucu aja tiba-tiba saya mewek tanpa alasan jelas.

Overall sosialisasinya sangat mengedukasi dan nggak terlalu bikin boring. Dari sosialisasi ini saya jadi paham kalau masa pertumbuhan anak yang paling penting adalah di 1000 hari kehidupannya. 1000 hari itu diukur sejak anak masih di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Dan ternyata, jika anak mengalami kekurangan gizi di masa 1000 hari kehidupannya maka akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan fisik anak.

Nggak percaya? Awalnya saya juga, tapi ternyata Jepang sudah lebih dahulu menganalisis hal ini dan merubah pola gizi terhadap bayi. Dan hasilnya? Dulu itu penduduk Jepang terkenal pendek, namun sekarang pola itu sudah berubah. Jika kawan – kawan ada yang memutuskan untuk berwisata ke Jepang, pasti kawan-kawan juga akan mengakui kalau penduduk Jepang terutama remajanya sudah lebih jangkung dan proporsional.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah pemberian asi eksklusif untuk mencegah gizi buruk pada anak (stunting). Pola pemberian makanan tambahan juga sangat berpengaruh. Kalau biasanya ibu-ibu pengen yang praktis dan memberi makanan kemasan yang tinggal siram air panas aja, nah ternyata ibu-ibu model begini sangat perlu diberi pencerahan. Ternyata itu, yang paling baik adalah sayur-sayuran yang dihaluskan dan jangan memberi makanan tambahan dengan diselingi air putih. Begitupun makanan tambahan ini sebaiknya diberikan setelah pemberian asi eksklusif selama enam bulan.

Nah penjelasan tentang gizi dan pemberian dan dukungan terhadap ibu yang memberikan asi eksklusif ini akan saya jelaskan di post berikutnya ya. Udah malam juga dan saya mau weekend dulu donk :D
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts