Author Info

Friday, 27 May 2016

1000 Hari Pertama Kehidupan

Belakangan ini saya jadi agak heran, setiap kali ngumpul sama teman dan terlibat dalam obrolan, sering kali obrolan kami selalu bermuara pada satu buah pertanyaan “Kenapa anak-anak zaman sekarang beda kali sama anak-anak zaman kita ya?”

Beda yang saya maksud disini maknanya luas ya, bisa jadi sifat dan ketahanan fisik dan mentalnya. Nah, kalau pertanyaannya begini, saya cuma bisa nyengir aja, mau gimana lagi lah saya juga belum nikah apalagi punya pengalaman ngurusin bocah.

Sampai akhirnya sepekan yang lalu saya dapat penugasan dari kantor buat ikutan sosialisasi seribu hari kehidupan yang diselenggarakan oleh Dinas Provinsi Sumatera Utara. Saat liat undangannya saya langsung tahu kalau sosialisasinya bakalan nggak jauh-jauh di seputaran bayi dan gizi. Agak-agak speechless sih, karena staff di tempat kami yang statusnya perempuan kan bukan cuma saya, ini apaannn??? Apa saya disuruh cepetan nikah? *eh..*

Singkat cerita, saya sampailah di tempat sosialisasi dan ternyata seperti biasa acaranya ngaret donk. Untuk mengisi waktu kosong, peserta yang sudah hadir dipersilahkan menonton cuplikan video yang menggambarkan perkembangan bayi di dalam kandungan (mulai dari embrio sampai membentuk janin). Ngeliat video ini saya jadi ingat emak di rumah dan mulailah saya bermellow ria. Untung aja acaranya segera dimulai, kalau nggak kan lucu aja tiba-tiba saya mewek tanpa alasan jelas.

Overall sosialisasinya sangat mengedukasi dan nggak terlalu bikin boring. Dari sosialisasi ini saya jadi paham kalau masa pertumbuhan anak yang paling penting adalah di 1000 hari kehidupannya. 1000 hari itu diukur sejak anak masih di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Dan ternyata, jika anak mengalami kekurangan gizi di masa 1000 hari kehidupannya maka akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan fisik anak.

Nggak percaya? Awalnya saya juga, tapi ternyata Jepang sudah lebih dahulu menganalisis hal ini dan merubah pola gizi terhadap bayi. Dan hasilnya? Dulu itu penduduk Jepang terkenal pendek, namun sekarang pola itu sudah berubah. Jika kawan – kawan ada yang memutuskan untuk berwisata ke Jepang, pasti kawan-kawan juga akan mengakui kalau penduduk Jepang terutama remajanya sudah lebih jangkung dan proporsional.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah pemberian asi eksklusif untuk mencegah gizi buruk pada anak (stunting). Pola pemberian makanan tambahan juga sangat berpengaruh. Kalau biasanya ibu-ibu pengen yang praktis dan memberi makanan kemasan yang tinggal siram air panas aja, nah ternyata ibu-ibu model begini sangat perlu diberi pencerahan. Ternyata itu, yang paling baik adalah sayur-sayuran yang dihaluskan dan jangan memberi makanan tambahan dengan diselingi air putih. Begitupun makanan tambahan ini sebaiknya diberikan setelah pemberian asi eksklusif selama enam bulan.

Nah penjelasan tentang gizi dan pemberian dan dukungan terhadap ibu yang memberikan asi eksklusif ini akan saya jelaskan di post berikutnya ya. Udah malam juga dan saya mau weekend dulu donk :D
Share:

0 comments:

Post a comment

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts