Author Info

Monday, 18 July 2016

Korean Style Dinner ala Daebak Restaurant

Akhirnya berhasil juga nyobain makan ala-ala drama korea, bolehlah buat pengalaman sebelum terbang ke negeri asalnya sana (ea... ngarep ada yang mau ngendorse.. hahahaha..)

Side dish yang dihidangkan lumayan beragam, meski porsinya nggak banyak...
Awalnya, saya sama dua orang temen yang lain pengennya makan di Zing Do, tapi karena human error diantara kami, di daebaklah kami akhirnya terdampar.

Di daebak ini, harga per menunya lumayan tinggi, mungkin karena bahan-bahan yang digunakan kualitas premiun ya. Kita aja awalnya agak bingung gitu mau pesen apa, maklum lah ya, anak kost-kostan tapi doyan kulineran yang nggak biasa. halah....

Galbi oh galbi.... saya kembali lapar...
Akhinya kita putuskan untuk pilih galbi set aja dan kita milih buat grill sendiri biar lebih mirip kayak yang drama gitu... :D

Nah, ada yang bikin saya surprise dan agak katro alias ndeso, saya pangling saat pelayannya nganterin makan-makan dalam porsi kecil gitu. Saya bisik ke temen di sebelah, "kan tadi kita nggak pesen camilan?"
Si kawan yang lagi asik ngebolak-balik daging. Berasa makan di negeri ginseng kita kan boi?
Si temen langsung nyengir dan menoyor saya, "Ini side dish nya, boi. Di korea emang gini, side dishnya banyak."

Saya langsung manggut-manggut dan membatin "Patesan dibandrol seratusan ribu lebih, side dishnya aja bisa bikin kenyang."

Diantara banyaknya side dish yang dihidangkan, ada satu menu yang mirip banget sama bakwan. Lucu aja gitu, nemu bakwan diantara varian makanan korea. 

Beberapa menit kemudian, si mbak pelayannya datang lagi ngebawain alat grill dan daging yang udah dibumbui pedas karena kita milih galbi yang spicy. So far, si galbi alias daging sapi ini enak lah. namanya juga daging. Tapi kalau mau jujur, tekstur dagingnya memang beda sama daging yang biasa dimasak rendang sama emak saya pas lebaran. Galbi ini teksturnya lebih lembut dan nggak berserat.

Toppokki yang berhasil mencuri hati kami. Toppokki... we in love with you...
Kalau masalah saus dan bumbu, lidah saya emang masih bisa menolerir bumbu khas korea yang lebih condong asin asin asem gitu, tapi kalau boleh milih sih saya lebih suka rasa pedes khas indonesia. 

Sebenernya kita bertiga udah cukup kenyang dengan galbi beserta side dish dan nasi. Tapi rasanya kok belum afdol kalau ke resto korea tapi nggak nyicipin toppokki. Ya begitulah akhirnya, kami pesen lagi seporsi cheesse toppokki yang disajikan dalam panci aluminium.

Dan beginilah akhirnya, versi before dan after yang diabadikan dalam kenangan.. ea......
Daaannnnnn....... kita bertiga setuju kalau toppokkinya enak banget, bahkan kalau boleh milih, kami lebih suka toppokki daripada galbi. Ini sebenernya kami katro atau seleranya yang perlu dipertanyakan ya? Haahahha....

Jadi intinya, kami puas lah dinner di daebak dan berencana buat balik lagi, tapi bukan buat makan galbi ya, kali ini kalau mampir kami nggak perlu liat menu dan bakalan langsung pesen cheesse toppokki aja...
 _____________________________

Alamat : Kompleks ruko Jati Junction di jalan Timor, Medan
Price : Galbi Set  Idr 150.000, Cheesse Toppokki  Idr 78.000
Share:

Sunday, 17 July 2016

Pokemon Go, Nostalgia Dibalik Euforia Digital

Para penggemar anime dan game, nggak mungkin nggak kenal dengan tokoh monster imut warna kuning yang dikenal dengan nama pikachu. Tentu saja, saya juga sudah sangat familiar dengan si kuning menggemaskan yang berasal dari serial anime pokemon ini. Meskipun masa-masa kejayaan pokemon sudah berlalu sejak bertahun-tahun yang lalu, namun penikmatnya pasti belum sepenuhnya lupa. 


Itu sebabnya, saya tidak terlalu heran saat beberapa hari yang lalu, media mulai gencar memberitakan tentang Pokemon Go, salah satu aplikasi game dengan efek augmented reallity yang dapat dimainkan dengan menggunakan aplikasi android. Hebohnya pemberitaan baik di media sosial, online maupun cetak membuat saya ikutan latah untuk mengikuti perkembangan berita yang di bagikan oleh kawan-kawan media. Dari banyaknya artikel yang beredar, sebagian besar menyarankan orang tua untuk mengawasi anak-anak yang bermain pokemon go ini, agar anak-anak tidak kecanduan dan melupakan realita.

Tapi kalau menurut saya, Pokemon Go ini sebenarnya dirancang bukan untuk anak-anak, namun sebaliknya game virtual ini diperuntukkan bagi orang dewasa yang mulai jenuh dengan kehidupan kantor dan ingin mengembalikan keceriaan masa kecil.
Pikachu... Ternyata yang kuning imut bukan cuma minion ya...
Apa yang ditawarkan oleh pengembang Pokemon Go adalah kebutuhan masyarakat saat ini yang katanya hidup dalam zaman yang serba cangggih dan modern. Apa itu? Sosialisasi dan interaksi.

Selama ini, tekhnologi dianggap sebagai media yang mampu membuat manusia menjadi pribadi yang antisosial. Segala sesuatu dilakukan tanpa interaksi dengan orang lain. Bayangkan, kita tidak perlu bertemu orang lain untuk bertegur sapa, tidak perlu beranjak dari rumah untuk berbelanja, bahka sekarang sudah dikembangkan sistem yang memungkinkan seseorang belajar (sekolah) tanpa harus repot datang ke sekolah.

Segala tekhnologi yang memudahkan itu, nyatanya memberi dampak sosial dan psikologi yang membuat masyarakat menjadi introvert dan sulit bersosialisasi di masyarakat. Menurut saya, fakta dan fenomena sosial seperti inilah yang menjadi salah satu faktor dirilisnya Pokemon Go. 
 
Daftar pokemon legendaris, mana tau ada yang minat ikutan main Pokemon Go..
Pengembang melihat bahwa ada peluang dimana masyarakat ingin bersosialisasi, ingin berkomunikasi secara nyata dengan orang lain, namun ada keengganan, rasa jengah dan aneh saat mereka berfikir bahwa semua interaksi itu masih dapat dilakukan melalui media sosial. Itulah sebabnya, saat ada sebuah aplikasi yang menyenangkan seperti game dan melibatkan banyak orang secara real, maka sangat mungkin aplikasi tersebut menjadi viral dalam waktu singkat.
 
Nah, kenapa yang dipilih itu pokemon? Karena seperti yang saya jelaskan di paragraf-paragraf awal, bahwa pokemon itu pernah berjaya dan memiliki begitu banyak fans pada masanya. Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenangan, bisa saya pastikan akan menuai sukses. Apakah ada yang sependapat dengan saya? 
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts