Author Info

Monday, 20 March 2017

LEWAT TENGAH MALAM


Biarlah semuanya lenyap sekejap seperti senja yang ditelan malam, pun malam yang akhirnya diusir pagi.
Lewat tengah malam, menjelang pagi. Tersentak bangun dan mendapati bahwa kau tidak sedang tidur disebelah ku. Sendiri, berkawan makhluk mencicit yang berkeliaran di lorong menuju toilet. Aku sadar, aku kesepian.
Aku kembali merebah. Menempelkan kepala pada bantal coklat yang biasanya kita perebutkan. Lalu saat kau mengambilkan segelas air putih, bantal itu sudah menempel erat dikepalaku. Kau hanya bisa tertawa, mengusap-usap puncak kepala lalu mengecup kening.
Dan besoknya, saat mataku merekah. Kau sudah melingkar di sebelah ku. Tertidur seperti kucing malas yang dipenuhi tahi mata dan rambut yang seperti kawat berkarat.
Aku merapatkan selimut. Akhir bulan maret yang sangat lembab. Hampir setiap malam, lampu padam dan hujan membasahi genting-genting rumah. Terkadang bunyi tetesannya sangat nyaring, membangunkan pemimpi yang kelelahan memburuh di pabrik kapitalis. Dibayar dengan gaji yang hanya cukup untuk beli makan, buang hajat dan tidur selama enam jam. Aku mendengus, hujan masih turun, dan kau masih tidak sedang tidur disebelah ku.

******
Pagi datang lebih lambat dari yang kubayangkan. Mengambangkan udara sehabis hujan yang membuat gigil. Hewan-hewan mencicit sudah terbangun sejak tadi, atau bahkan tidak tidur sedetikpun. Mulai berkeliaran sejak malam merayap mendekati pagi. Mencari apa saja yang dapat dimakan, di curi, bahkan terkadang hanya sekadar untuk dikerat.
Tapi aku masih bergelung dalam bed cover tebal motif polkadot kesukaan kita. Membayangkan wajah mu yang memerah karna geli. Dan aku bertambah semangat menggelitiki pinggangmu yang kurus seperti penderita anorexia.
Kucing hitam kita mengeong-ngeong di dapur. Dia pasti lapar. Aku beringsut malas menuju buffet kayu di pojok kamar. Biasanya, ini tugasmu. Memberi si Murung makan dan menungguinya berjemur sebelum matahari sampai di puncak kepala.
Dia –seperti yang sedang kubayangkan- bergelung disamping penanak nasi. Selalu begitu jika sedang merajuk. Aku jadi ingat kau yang sedang diare bulan lalu. Bersembunyi dalam bebatan lima lembar pakaian yang membuatmu seperti bantal.
Murung makan dengan lahap. Matanya mengejekku. Menurutku, kau terlalu memanjakannya. Selalu menyodorkan makanan dan membelai-belai tengkuknya. Dia jadi lupa cara berburu tikus. Padahal, tikus-tikus tidak pernah lupa untuk mencuri dan menggerogoti perkakas rumah ini.
Aku meninggalkannya. Memutuskan untuk memulai membenahi pakaianmu yang tersisa. Menyelusupkan semuanya kedalam kantongan plastik berwarna hitam. Tentu saja hitam, agar isi yang berada didalamnya tidak terlihat dari luar.
“Aku benci warna hitam.” Ujar mu saat kau masih sering tidur di sampingku. “Terlalu gelap.”
Saat itu, aku hanya mengiyakan. Karna bukan pendapatmu yang ingin kuperdebatkan. Masih ada lain kali untuk kita, untuk berbincang masalah benar dan salah. Saat ini cukuplah kita habiskan untuk saling bertukar aroma tubuh hingga murung membangunkan kita dengan menggesekkan bulunya yang halus pada rongga telinga yang terbuka.
Kantongan plastik hitam yang berisi bajumu sudah kusisihkan. Kusatukan dengan kantongan berisi sisa makanan yang nantinya di kutip petugas kebersihan. Biarlah semuanya lenyap sekejap seperti senja yang ditelan malam, pun malam yang akhirnya di usir pagi.
******
“Aku harus pergi.” Ujarmu.
Dan aku menjadi kaku. Seolah ucapanmu adalah tabu.
“Istriku curiga.” Kau menatapku seolah pertemanan kita hanya sebatas sapa.
“Bukannya sudah sejak lama?” Aku mencoba tegar. Menatap nanar pada gelas kaca dihadapanku. Awalnya gelas bening itu hanya berisi cairan yang juga bening, lalu bubuk teh menjadikannya coklat pekat dan berasa pahit. Tanpa gula yang dipaksa larut, cairan itu hanya akan teronggok tanpa seorangpun berniat meminumnya.
Sama seperti aku yang kau temukan dalam ketidaktahuan dan kebimbangan. Serupa cairan bening yang terlalu membosankan. Kau memberiku warna. Bukan Merah, biru, hitam atau perak. Tapi coklat pekat. Coklat karena aku menyukainya.
“Kali ini, dia minta cerai.” Kau mengucapkan kalimat itu, tanpa merasa harus menatapku. Tanganmu sibuk membelai tengkuk murung yang bergelung di pahamu.
“Bukannya bagus? Kita tidak perlu kucing-kucingan seperti ini.” Kuletakkan segelas teh manis yang masih mengepul di sebelahmu. “Sejak dulu, kau mengeluh atas perlakuan kasar istrimu kan?”
Kau diam. Memandang ke arah dapur, lalu pada murung, tapi tidak padaku. “Aku tidak ingin kehilangan anak-anak.” Jawabmu, seolah kau adalah pesakitan yang tidak memiliki pilihan.
Sering kali saat kau masih tidur disampingku, kau berbisik. Kau menginginkan bayi dari rahimku. Tapi sesering itu pula kau memintaku untuk menggugurkannya.
“Aku bisa melahirkan banyak anak untukmu.” Kali ini, kau tidak menjawab.
Murung mulai lelah melingkar dipangkuanmu. Dia meloncat turun lalu duduk memandangi kita. Sama seperti murung yang bosan, aku pun sama. Kau selalu datang membawa janji, lalu pergi meninggalkan benci. Tapi tiap kali kau memutuskan untuk tidur disampingku, aku memaafkanmu.
Bukan karna perhiasan, pun deposito yang kau berikan. Meski tidak pernah aku menolak saat kau memberikannya. “Masalahnya bukan sebatas ingin punya anak. Tapi menjaga perasaan mereka yang sudah dilahirkan.” Kau akhirnya buka suara.
“Kau tidak seharusnya ragu dengan perasaanku. Dan kau pun sudah terlalu bosan kujejali keluh kesah tentang seberapa tersiksanya aku menjadi suami dari perempuan yang ku nikahi tujuh tahun yang lalu itu.” Kau mengambil napas panjang lalu menghembuskannya. Udara di sekeliling kita pengap. “Anak-anakku tidak bersalah. Mereka tidak minta dilahirkan di keluarga yang setiap hari hanya bertengkar. Mereka sudah terlalu lelah dijejali carut-marut makian disaat seharusnya mereka memperoleh kecupan sebelum tidur di kening.” Lalu hening.
“Aku sudah terlalu sering menyakiti mereka. Perceraian hanya akan membuat mereka tambah tersiksa.”
“Kau fikir, aku tidak?” sungutku, kali ini aku menatap matanya. Wajah kami bersisian. Hembusan nafas kami saling beradu. Tidak kuberi ruang untuk mu menghilang.
“Maafmu tidak ku terima. Kau tidak boleh pergi.”
“Aku harus.”
“Tidak ku izinkan.”
“Kau harus.”
Lalu aku nanar. Sudah sejak lama kita bercengkrama dengan benar dan salah. Membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Lalu tiba-tiba kau basah, api berkobar. Kau menyala** April 2011 

- Ayu Lestari -
April 2011
Share:

Déjà vu




Aku melihatnya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing. Membawaku pada dimensi waktu yang membuat ku rindu.

Pagi sekali, matahari baru setengahnya tampak. Aku melihatnya. Menyusuri jalan untuk pertama kali. Mengagumi petak-petak sawah berair yang belum musimnya untuk dipanen. Memandang atap rumbia yang menaungi rumah papan semi permanen yang berjajar di sepanjang jalan.
Dia terlihat tak asing bagiku. Mengenakan kemeja biru polos yang sudah agak kusam. Wajahnya persegi, rahangnya mengingatkanku pada manusia yang terlambat berevolusi. Dan matanya, matanya terlalu ceria untuk dimiliki seorang pria.
Lalu hari-hari setelah itu, menjadi kebiasaan bagiku untuk duduk di balik jendela kamar. Memandang dia yang juga tak pernah alpa, mengayuh sepeda pada jalan yang sama. Waktu yang sama. Atap rumbia, rumah papan semi permanen, padi yang belum musimnya untuk dipanen.

*****
“Mamak kenal sama laki-laki yang suka lewat di depan rumah kita?” Aku bertanya di balik punggung ibuku yang sedang menggoreng belacan.
“Banyak laki-laki yang lewat di depan rumah kita. Mana pula mamak perhatikan.” Aroma tajam belacan menguar melalui asap dan uap minyak.
“Selalu pagi jam setengah tujuh.”
“Selalu?” ibuku bertanya tak acuh.
Aku mengangguk antusias. “Naik sepeda, Mak. Mukanya aneh, sepanjang jalan senyum-senyum.”
“Kenapa rupanya?” Ibuku mematikan api kompor. Berbalik menatapku sebentar sebelum mengambil sepiring cabai dan bawang yang telah digoreng, lalu menuangkan isinya ke atas cobekan batu. “Ngapain ngurusin orang yang nggak dikenal, Ka.”
“Tapi aku kayak kenal mukanya, Mak.” Suara benturan batu bergema di dapur kami yang lebih mirip ujung lorong karena sempitnya. “Tiap hari dia lewat. Masa mamak gak tau.”
 “Sanalah tanya bapakmu, mungkin dia tau. Lepas sholat subuh tak pernah dia tidur. Kalau nggak duduk di depan teras, nonton berita dia biasanya.”
“Mak.” Perhatianku tersita oleh gumpalan sambal kasar yang memenuhi cobekan “Kalau bisa agak dihaluskan sambal belacan itu ya. Agak seram aku makan kalau biji cabenya masih Nampak-nampak gitu.” Ibuku mengangguk tanpa merasa perlu menjawab.
Aku berlalu menjauhinya. Bukan menuju bapak. Bukan. Masih ada tiga jam lebih seperempat menit sebelum sosoknya muncul di ambang pintu. Lebih baik kembali ke kamar dan duduk di balik jendela. Meski kutahu, dia hanya akan muncul pagi-pagi buta dan sesaat sebelum bapak pulang. Tapi aku tetap suka membunuh waktuku di sana. Di tempat dia selalu lewat, memandang padi dan rumah-rumah tanpa sekali pun pernah menyadari keberadaanku.
Sejak dia ada, aku tak lagi merasa perlu untuk menyambangi teman-teman sekampung, pun menanggapi panggilan mereka untuk sekedar pesiar sore seperti yang dulu sering kulakukan. Aku tak ingin melewatkan kehadirannya meski hanya sehari.
Karna pada sore hari, sesaat sebelum bapak pulang –dia membuatku melupakan kebiasaan bodohku menanti bapak di depan pintu rumah pada pukul lima sore– pria itu akan muncul, mengayuh sepedanya seolah baru kembali dari suatu tempat.
Tak jarang dia menghentikan sepeda, lalu ikut menerbangkan layang-layang bersama anak kampung. Kadang hingga jauh petang, pernah pula hingga matahari benar-benar hilang.
Pada akhirnya, di waktu yang biasanya sama, dia berlalu. Mengayuh sepedanya dengan keringat yang membanjir di muka. Dan aku, tak pernah merasa jemu. Duduk di tempat yang sama, memandang punggungnya hingga hilang ditelan malam.

*****
 Kemarin malam, aku memimpikannya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing, membawaku pada dimensi waktu yang membuat kurindu.
Tapi itu nyatanya tak terlalu menyenangkan untuk orang tuaku. Sulit bagi mereka untuk percaya, hanya karena mereka tak memandang dia seperti aku melihatnya. Larangan untuk berlama-lama duduk di balik jendela kamar kutanggapi dengan diam. Mereka boleh saja menjauhkanku dari dia, tapi apa yang terlanjur terlihat dan terekam di kepala hanya akan hilang jika aku ingin menghapusnya.
Hingga suatu hari kabar itu sampai, desas-desus yang mengembara dari satu ke lain telinga. Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggalkan rumah. Bahkan ke sekolah pun tidak. Bulan-bulan pertama, masih ada yang berkunjung. Meski mereka hanya melihat kudiam dan murung, karna jikapun ada yang ingin kutemui, bukan mereka orangnya.
Dan saat sendiriku yang lain, rindu akannya tak lagi mampu dipuaskan hanya lewat mimpi dan tatapan. Berbekal baju yang disumpal dalam kantongan kresek, aku melompati pagar yang selama ini hanya menjadi saksi atas penantianku yang sunyi.
Tapi waktupun seolah bersekongkol untuk menyudutkanku. Karena di pagi hari saat kuterbangun dari pelarian yang singkat itu, yang kutemukan hanya kamar dengan jendela yang terpaku. Dan sejak saat itu, Kamar itulah rumahku. Tak ada lagi ibu yang menemani mengobrol sambil menonton televisi, pun tak ada bapak yang menemani makan pagi dan malam.
Hanya celah diantara papan yang membuatku tetap hidup. Hidup untuk memandangi dia yang masih selalu mengayuh sepeda pada pagi-pagi buta dan di pertengahan senja. Sesekali, di saat malam menyembunyikan bunyi jangkrik dan dengkur kambing, kami bertemu. Berpesiar dengan sepeda, sesekali mengejutkan bocah-bocah yang bermain kelereng di lintasan jalan.
 Sampai suatu pagi, ibu menemukanku histeris memandang foto-foto yang bergelantungan di dinding kamar. Satu diantaranya telah tergeletak di lantai, bingkai kacanya telah retak dan bernoda darah.
Ibu menubrukku, mendudukkan aku di atas kasur, tangannya sibuk membersihkan mata kakiku dari serpihan kaca dan darah yang menggumpal. Lalu Bapak muncul di ambang pintu, matanya nanar.
“Kenapa?” itu yang keluar dari mulut nya.
“Siapa dia?” Tanganku menunjuk foto-foto yang tergantung dalam gerakan liar.
Ibu menangis, meraung. Tangannya yang sudah berlumur darah memelukku. “Kembali, nak. Kembali.”
“Siapa dia?” Tanyaku berubah menjadi geraman kemarahan.
Tak ada jawaban.
Siapa dia?” kusentak pelukan ibu, suaraku sudah berubah histeris.
“Dia istri abangmu.” Jawaban bapak serupa bisikan.
Bukan !” aku histeris, kudatangi bapak dengan langkah yang terseok. Ku lihat beberapa tetangga mengintip dari pintu depan “Dia lelakiku, bukan abangku. Dan perempuan itu bukan istrinya.”
Ibu mendekapku, menjauhkan ayah yang mulai terbakar. Aku meronta. Aku meronta. Ibu menjerit. Aku menjerit. Aku menggelepar.
    *****
Aku melihatnya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing. Membawaku pada dimensi waktu yang membuat ku rindu.
 
- Ayu Lestari -
Medan 24 februari 2012
Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts