Author Info

Monday, 20 March 2017

Déjà vu




Aku melihatnya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing. Membawaku pada dimensi waktu yang membuat ku rindu.

Pagi sekali, matahari baru setengahnya tampak. Aku melihatnya. Menyusuri jalan untuk pertama kali. Mengagumi petak-petak sawah berair yang belum musimnya untuk dipanen. Memandang atap rumbia yang menaungi rumah papan semi permanen yang berjajar di sepanjang jalan.
Dia terlihat tak asing bagiku. Mengenakan kemeja biru polos yang sudah agak kusam. Wajahnya persegi, rahangnya mengingatkanku pada manusia yang terlambat berevolusi. Dan matanya, matanya terlalu ceria untuk dimiliki seorang pria.
Lalu hari-hari setelah itu, menjadi kebiasaan bagiku untuk duduk di balik jendela kamar. Memandang dia yang juga tak pernah alpa, mengayuh sepeda pada jalan yang sama. Waktu yang sama. Atap rumbia, rumah papan semi permanen, padi yang belum musimnya untuk dipanen.

*****
“Mamak kenal sama laki-laki yang suka lewat di depan rumah kita?” Aku bertanya di balik punggung ibuku yang sedang menggoreng belacan.
“Banyak laki-laki yang lewat di depan rumah kita. Mana pula mamak perhatikan.” Aroma tajam belacan menguar melalui asap dan uap minyak.
“Selalu pagi jam setengah tujuh.”
“Selalu?” ibuku bertanya tak acuh.
Aku mengangguk antusias. “Naik sepeda, Mak. Mukanya aneh, sepanjang jalan senyum-senyum.”
“Kenapa rupanya?” Ibuku mematikan api kompor. Berbalik menatapku sebentar sebelum mengambil sepiring cabai dan bawang yang telah digoreng, lalu menuangkan isinya ke atas cobekan batu. “Ngapain ngurusin orang yang nggak dikenal, Ka.”
“Tapi aku kayak kenal mukanya, Mak.” Suara benturan batu bergema di dapur kami yang lebih mirip ujung lorong karena sempitnya. “Tiap hari dia lewat. Masa mamak gak tau.”
 “Sanalah tanya bapakmu, mungkin dia tau. Lepas sholat subuh tak pernah dia tidur. Kalau nggak duduk di depan teras, nonton berita dia biasanya.”
“Mak.” Perhatianku tersita oleh gumpalan sambal kasar yang memenuhi cobekan “Kalau bisa agak dihaluskan sambal belacan itu ya. Agak seram aku makan kalau biji cabenya masih Nampak-nampak gitu.” Ibuku mengangguk tanpa merasa perlu menjawab.
Aku berlalu menjauhinya. Bukan menuju bapak. Bukan. Masih ada tiga jam lebih seperempat menit sebelum sosoknya muncul di ambang pintu. Lebih baik kembali ke kamar dan duduk di balik jendela. Meski kutahu, dia hanya akan muncul pagi-pagi buta dan sesaat sebelum bapak pulang. Tapi aku tetap suka membunuh waktuku di sana. Di tempat dia selalu lewat, memandang padi dan rumah-rumah tanpa sekali pun pernah menyadari keberadaanku.
Sejak dia ada, aku tak lagi merasa perlu untuk menyambangi teman-teman sekampung, pun menanggapi panggilan mereka untuk sekedar pesiar sore seperti yang dulu sering kulakukan. Aku tak ingin melewatkan kehadirannya meski hanya sehari.
Karna pada sore hari, sesaat sebelum bapak pulang –dia membuatku melupakan kebiasaan bodohku menanti bapak di depan pintu rumah pada pukul lima sore– pria itu akan muncul, mengayuh sepedanya seolah baru kembali dari suatu tempat.
Tak jarang dia menghentikan sepeda, lalu ikut menerbangkan layang-layang bersama anak kampung. Kadang hingga jauh petang, pernah pula hingga matahari benar-benar hilang.
Pada akhirnya, di waktu yang biasanya sama, dia berlalu. Mengayuh sepedanya dengan keringat yang membanjir di muka. Dan aku, tak pernah merasa jemu. Duduk di tempat yang sama, memandang punggungnya hingga hilang ditelan malam.

*****
 Kemarin malam, aku memimpikannya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing, membawaku pada dimensi waktu yang membuat kurindu.
Tapi itu nyatanya tak terlalu menyenangkan untuk orang tuaku. Sulit bagi mereka untuk percaya, hanya karena mereka tak memandang dia seperti aku melihatnya. Larangan untuk berlama-lama duduk di balik jendela kamar kutanggapi dengan diam. Mereka boleh saja menjauhkanku dari dia, tapi apa yang terlanjur terlihat dan terekam di kepala hanya akan hilang jika aku ingin menghapusnya.
Hingga suatu hari kabar itu sampai, desas-desus yang mengembara dari satu ke lain telinga. Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggalkan rumah. Bahkan ke sekolah pun tidak. Bulan-bulan pertama, masih ada yang berkunjung. Meski mereka hanya melihat kudiam dan murung, karna jikapun ada yang ingin kutemui, bukan mereka orangnya.
Dan saat sendiriku yang lain, rindu akannya tak lagi mampu dipuaskan hanya lewat mimpi dan tatapan. Berbekal baju yang disumpal dalam kantongan kresek, aku melompati pagar yang selama ini hanya menjadi saksi atas penantianku yang sunyi.
Tapi waktupun seolah bersekongkol untuk menyudutkanku. Karena di pagi hari saat kuterbangun dari pelarian yang singkat itu, yang kutemukan hanya kamar dengan jendela yang terpaku. Dan sejak saat itu, Kamar itulah rumahku. Tak ada lagi ibu yang menemani mengobrol sambil menonton televisi, pun tak ada bapak yang menemani makan pagi dan malam.
Hanya celah diantara papan yang membuatku tetap hidup. Hidup untuk memandangi dia yang masih selalu mengayuh sepeda pada pagi-pagi buta dan di pertengahan senja. Sesekali, di saat malam menyembunyikan bunyi jangkrik dan dengkur kambing, kami bertemu. Berpesiar dengan sepeda, sesekali mengejutkan bocah-bocah yang bermain kelereng di lintasan jalan.
 Sampai suatu pagi, ibu menemukanku histeris memandang foto-foto yang bergelantungan di dinding kamar. Satu diantaranya telah tergeletak di lantai, bingkai kacanya telah retak dan bernoda darah.
Ibu menubrukku, mendudukkan aku di atas kasur, tangannya sibuk membersihkan mata kakiku dari serpihan kaca dan darah yang menggumpal. Lalu Bapak muncul di ambang pintu, matanya nanar.
“Kenapa?” itu yang keluar dari mulut nya.
“Siapa dia?” Tanganku menunjuk foto-foto yang tergantung dalam gerakan liar.
Ibu menangis, meraung. Tangannya yang sudah berlumur darah memelukku. “Kembali, nak. Kembali.”
“Siapa dia?” Tanyaku berubah menjadi geraman kemarahan.
Tak ada jawaban.
Siapa dia?” kusentak pelukan ibu, suaraku sudah berubah histeris.
“Dia istri abangmu.” Jawaban bapak serupa bisikan.
Bukan !” aku histeris, kudatangi bapak dengan langkah yang terseok. Ku lihat beberapa tetangga mengintip dari pintu depan “Dia lelakiku, bukan abangku. Dan perempuan itu bukan istrinya.”
Ibu mendekapku, menjauhkan ayah yang mulai terbakar. Aku meronta. Aku meronta. Ibu menjerit. Aku menjerit. Aku menggelepar.
    *****
Aku melihatnya. Lelaki yang kerap kutunggu datang dan perginya. Kami menerbangkan layang-layang dan berboncengan sepeda mengelilingi jalanan kampung. Kebersamaan itu  sangat tak asing. Membawaku pada dimensi waktu yang membuat ku rindu.
 
- Ayu Lestari -
Medan 24 februari 2012
Share:

0 comments:

Post a comment

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts