Author Info

Monday, 7 October 2019

Suara Anak "Tolak Pekerja Anak"


Dua puluh lima anak terlihat sibuk dengan beragam aktifitas di Aula Dinas DP3APM Kota Medan, seluruh anak tampak mengenakan kaos putih bergambar seorang anak laki-laki yang sedang mengintip dibalik tulisan TIME TO TALK!

Dwi Ananda (16) salah satu anak yang tengah sibuk berkomat-kamit berlatih karena nantinya akan menjadi pembawa acara, menyempatkan diri menjelaskan bahwa kesibukan anak-anak tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan perwakilan pemerintah yang mereka undang untuk menghadiri dialog interaktif  terkait isu pekerja anak yang merupakan bagian dari rangkaian kampanye Time to Talk 2019.

Dwi menjelaskan bahwa seluruh anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah pekerja anak yang bekerja di berbagai sektor di kota Medan. Contohnya saja Dwi yang hanya mengecap bangku pendidikan sekolah dasar dan hingga saat ini masih bekerja di warung mie balap dan diupah bulanan oleh pemiliknya.


Dwi sudah menjadi pekerja anak selama 5 tahun dan uang yang dihasilkannya dari bekerja digunakan untuk kebutuhannya sehari-hari. Dwi mulai ikut dalam kampanye Time to Talk sejak Februari 2019 dan sangat antusias menyuarakan haknya sebagai pekerja anak.

Hal senada juga disampaikan oleh Yudha (19) yang sudah lebih awal mengikuti kampanye ini. “Time to Talk memberi ruang bagi saya dan kawan-kawan untuk menyampaikan keresahan kami sebagai pekerja anak. Kami punya banyak alasan untuk bekerja, namun kami juga punya mimpi yang sebelumnya kami takut untuk menyampaikannya.” Ujarnya.


Time to Talk merupakan kampanye agar pekerja anak mampu memperoleh hak-hak mereka untuk memperoleh kehidupan yang layak, berpendapat dan menggapai cita-cita mereka. Kampanye Time to Talk telah dimulai sejak tahun 2016 dan dilakukan di 36 negara, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) meperoleh kepercayaan untuk menjalankan kampanye ini di Kota Medan bekerjasama dengan KNH, TDH dan didukung oleh Kementrian Perekonomian Jerman (BMZ). Pada prosesnya, PKPA juga merangkul pemerintah baik lokal maupun nasional untuk ikut serta dalam melaksanakan kampanye Time to Talk. Kali ini PKPA menggandeng Dinas DP3APM untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan dialog interaktif yang mengundang perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Kesehatan, perwakilan Lembaga Pemerhati Anak, perwakilan orang tua dan media untuk duduk bersama membahas permasalahan yang masih dihadapi pekerja anak saat ini.


Pekerja anak kota Medan yang tergabung dalam Komite Penasehat Anak Time to Talk merasa antusias menyampaikan aspirasi mereka menggunaka lagu dan film. “Dalam lirik lagu yang mereka tulis sendiri, mereka menyampaikan bahwa mereka ingin diperlakukan setara dengan anak-anak lainnya, mereka ingin punya kesempatan untuk menggapai mimpi-mimpi mereka dan mereka ingin pemerintah ikut serta dalam mewujudkan mimpi mereka tersebut.” Papar Ayu selaku fasilitator dalam kampanye Time to Talk tersebut.



Kampanye Time to Talk tidak hanya bertujuan untuk mengajak berbagai pihak baik itu pemerintah, orangtua, sektor bisnis dan juga media untuk ikut serta melihat permasalahan dan diskriminasi yang dialami oleh pekerja anak, tidak hanya itu Time to Talk juga berupaya agak anak-anak memiliki ruang yang lebih luas untuk berpendapat dan berpartisipasi, hal ini coba dimulai dengan memberi peran kepada anak untuk ikut menyusun dan menentukan  langkah dan media apa saja yang ingin mereka gunakan untuk menyampaikan kepada dunia tentang hak dan keinginan mereka.


“Pemerintah akan berupaya untuk selalu bersinergi dan mendukung upaya anak, terutama pekerja anak dalam menyampaikan aspirasinya. Namun besar harapan kami, anak-anak yang bekerja ini, meskipun bekerja namun pendidikan, baik itu formal maupun informal jangan sampai diabaikan.” Papar Bapak Robert selaku Kabid Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kota Medan, yang hadir pada dialog tersebut. (*)
Share:

Saturday, 19 January 2019

Tapanuli Utara (2) - Geopark Hutaginjang, Manifestasi Letusan Gunung Toba

 
Pemandangan di alah satu sisi Huta Ginjang yang menampakkan keindahan Kaldera Toba. (Dijepret secara nggak sengaja, tapi kok sukak ya..)
Matahari sudah mencapai puncak saat kami bertolak menuju destinasi wisata berikutnya. Tentu saja masih bagian dari Wisata Tapanuli Utara, kali ini lokasi yang kami datangi cukup populer bahkan untuk wisatawan mancanegara. 

                                                           Saya saat sedang menghadiri Sport Tourism 2018.                                                           Huta Ginjang memang tempat yang cocok buat festival budaya :D
Yap, betul sekali, kami bertolak menuju Geosite Huta Ginjang, geosite terbesar di seluruh dunia. Sebuah situs wisata yang tidak hanya elok dipandang mata namun menyimpan sejarah yang menggidikkan bulu roma. Ya, siapa yang tidak tahu jika Kaldera Toba yang mengelilingi Geosite Huta Ginjang adalah kawasan kawah gunung api yang terjadi karena letusan gunung berapi. Setelah berjuta-juta tahun, maka lava gunung api tersebut mengendap dan dan membentuk dinding kaldera yang lama kelamaan tertutupi perdu dan menjadi dataran yang mengelilingi Danau Toba. Dataran ini lama-kelamaan membentuk destinasi wisata yang kini masyur hingga ke berbagai belahan dunia.


Menarik memang, mengingat sebuah bencana alam yang begitu luar biasa dan menelan berjuta korban jiwa bertransformasi menjadi wujud yang begitu indah di pandang mata. Tidak hanya itu, endapan lava gunung api tersebut juga berevolusi menjadi tanah subur yang menyimpan kekayaan flora dan fauna yang menjadi kebanggaan masyarakat tanah batak. 

Padahalkan si harimau sumatera cakep maksimal gini kan ya..  Kok ada gitu yang tega ngeburu.
Ya, pada hutan-hutan tropis yang menyusun kaldera inilah harimau-harimau sumatra yang telah langka itu bermukim, menyembunyikan diri mereka dari ganasnya tangan-tangan manusia yang tak mampu mengendalikan diri untuk memiliki bulu-bulu mereka yang eksotis. Harus diakui, meskipun perburuan harimau sumatra adalah tindakan illegal, namun masih ada saja tangan-tangan nakal yang luput dari jeratan hukum. 

Selain itu, kaldera yang tidak terlalu padat ditumbuhi semak perdu dan tanaman pinus, dimanfaatkan warga menjadi ladang pertanian dan perkebunan, baik itu padi, kopi, bawang, mangga, andaliman hingga kemenyan. 

Temen-temen blogger, youtuber dan instagramer sedang asik berpose cantik..
Yang lebih menarik dan baru kali ini saya sadari adalah arsitektur rumah adat suku batak yang ternyata tidak menggunakan pasak dan paku.  Rumah-rumah adat tersebut dibuat dengan menggunakan bambu yang menyerupai perahu, hal ini bertujuan agar apabila terjadi tsunami, maka rumah adat tersebut dapat dialihfungsikan menjadi perahu. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa dan dapat direflikasi di tempat-tempat lain yang juga rentan terdampak bencana alam.

Masih seru mengabadikan keindahan Huta Ginjang, pada nggak sadar sedang dicandid
Geosite Huta Ginjang sendiri terletak lumayan tinggi dan memudahkan pengunjung untuk mengeksplorasi keindahan kaldera toba yang mengelilingi danau toba. Berupa dataran landai yang luas dan sangat cocok dijadikan tempat berbagai aktivitas dan festival kebudayaan. 

                                                            Foto sebelum ini dan yang ini sama lho lokasinya.                                                           Cuman ya itu, ini pas sedang berkabut. Nggak keliatan apa-apa :D
Jangan takut kelaparan dan kebelet pipis di tempat ini, karena ada sebuah kantin kecil yang nyaman dan menyediakan beragam camilan kering dan mie instan yang dapat mengganjal perut. Beberapa toilet umum juga tersebar di beberapa titik dengan air yang melimpah, meskipun harus saya akui bahwa lantai toilet yang becek agak mengganggu kenyamanan. Tidak hanya itu, kita sebagai pengunjung juga dimanjakan dengan beberapa keran air mineral yang dapat langsung di minum, kita juga bisa isi ulang persediaan air untuk di perjalanan.

Tempat isi ulang air mineral. Dijamin seugerr....
Yah, meski begitu, saya harus akui bahwa Geosite Huta Ginjang ini memang masih sedang berbenah, beberapa panel yang dibangun untuk memamerkan produk wisata dan budaya masih kosong melompong. Selain itu, berwisata ke Huta Ginjang ini kadang kala harus mengandalkan keberuntungan. Seperti daerah wisata puncak pegunungan pada umumnya, keindahan kaldera toba hanya dapat kita nikmati jika kabut tidak muncul. Ya, saya berkunjung 2 kali ke tempat ini dan disuguhi 2 pemandangan yang jauh berbeda. Meski begitu jangan khawatir, karena beda situasi akan menghadirkan 2 pengalaman yang tetap saja menyenangkan untuk dicoba.  

Tapanuli Utara (3) -  Nanas Hutagurgur, Nanas Terbaik di Indonesia

Share:

Wednesday, 2 January 2019

Tapanuli Utara (1) - Keindahan Berbalut Budaya


Nginep di guest house model begini, siapa bisa nolak coba?

Berawal dari ajakan seorang teman untuk melewatkan liburan yang tidak biasa, saya memutuskan untuk menerima tawaran liburan berkelompok sambil menikmati udara sejuk, hamparan danau dan kabut, melarikan diri sejenak dari sumpeknya kota Medan. Sejujurnya saya sudah lama tidak liburan rame-rame, biasanya hanya sendiri atau berdua saja dengan travel mate yang saya anggap seru dan  nggak ribet. Namun kali ini saya mencoba peruntungan baru, tempat baru, teman seperjalanan yang  juga didominasi wajah-wajah baru.

Bermaksud untuk mengefisienkan waktu, kami memutuskan untuk bertolak dari medan pukul 10 malam, namun apa daya hujan mendera sejak sore. Jadilah waktu menunggu hujan mereda dijadikan ajang mengobrol dan kenalan, mumpung banyak juga ternyata diantara kami yang juga baru bertemu untuk pertama kali. 

Hampir tengah malam, perjalanan dimulai meskipun masih ditemani gerimis kecil yang memberi sengatan gigil di kulit. Kejutan pertama memberi suntikan semangat pada saya saat teman-teman seperjalanan mulai berkicau dan sibuk mengabadikan momen keberangkatan dengan cara yang menarik. Sebelum berangkat, saya sudah tahu bahwa saya akan bepergian bersama teman-teman yang berprofesi sebagai vloger, youtuber, blogger dan instagramer, namun saya tidak berani membayangkan apa yang akan saya alami bersama mereka... hehehhehe.

Dan ternyata, keseruan dan kehebohan sepanjang perjalanan mampu mengusir jenuh dan bosan terkurung dalam mobil selama hampir delapan jam perjalanan. 

Muara, Tapanuli Utara adalah tujuan akhir perjalanan yang lumayan panjang ini. Bukan destinasi yang biasa, namun lumayan memantik rasa penasaran. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Desa Bintangpariama, Silali Torua yang sangat dekat dengan Pulau Sibandang yang konon kabarnya dihuni oleh pengrajin-pengrajin ulos Tapanuli Utara.

Keluar dari homestay langsung disambut pemandangan model begini, siapa yang sanggup bosan coba?

Desa Bintangpariama ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan desa-desa lain pada umumnya. Penduduknya didominai oleh petani yang menyebabkan sawah dan ladang menjadi hal yang biasa berdampingan dengan rumah penduduk. Namun bukan berarti tidak ada yang menarik, mengingat desa ini berada tepat diantara lereng-lereng gunung dan masih berbatasan dengan Danau Toba yang terkenal. Disamping masyarakatnya yang sangat ramah dan menyenangkan, saya juga melihat potensi wisata yang masih bisa dikembangkan di tempat ini. 

Ya, Benar, yang saya maksud adalah wisata agro. Jika teman-teman datang ke sini, teman-teman juga mungkin berpendapat sama seperti saya. Mungkin hanya segelintir dari kita yang tertarik untuk serius menekuni profesi sebagai petani dan berkebun, namun saya bisa jamin bahwa sebagian besar dari kita tidak akan menolak sensasi berseru ria mencoba memanen dan berlumpur disawah selama sehari. Menyaksikan padi-padi menguning seumpama emas yang bergerombol di bibir danau, atau memandang dari dekat cabai-cabai merah dan tomat-tomat gemuk bergerombol di tangkai - tangkainya yang melengkung. Belum lagi sensasi menyenangkan wajah diterpa angin saat bersepeda menyusuri jalan-jalan setapak yang dibingkai sempurna oleh birunya langit, danau dan hamparan hijau semak perdu di kiri dan kanannya.

Jalan setapak dari homestay Desa Bintangpariama menuju jalan besar. Dibonceng sepedaan di sini romantis kali yak.. (yang iya nya yang bonceng engap boncengin saya heheheh)

Selama menyusuri jalan-jalan setapak Desa Bintangpariama, Silali Torua, kami ditemani penduduk setempat, seorang Bapak bermarga Siregar yang bertutur bahwa Desa yang saat ini kami kunjungi adalah Desa yang turun-temurun generasi ke generasi bercocok tanam sebagai sumber utama mata pencaharian. Namun mereka sangat antusias ketika desa mereka ditunjuk sebagai desa yang akan dikembangkan sebagai tempat tempat tinggal alternatif bagi wisatawan (homestay). Mereka sangat lugas menjawab tiap-tiap pertanyaan yang kami ajukan, memaparkan silsilah marga Siregar dan menunjukkan tugu/prasasti marga Siregar yang letaknya bersebrangan dengan Desa. Tugu terebut tampat seperti tonggak yang menjulang tegar dari tempat saya berpijak.

Saya berasumsi bahwa Desa Bintangpariama akan memancarkan pesonanya tersendiri jika dipoles dengan serius oleh pemerintah daerah setempat. Dengan menitikberatkan pada potensi agro wisata yang memiliki aset keindahan alam yang melimpah ruah ditambah nilai-nilai dan tradisi budaya lokal yang dapat diceritakan oleh penduduk setempat selama berkunjung ke tempat ini, Bintangpariama bisa saja bersaing dengan tempat-tempat wisata yang sudah lebih dahulu populer seperti Tomok dan Samosir. 

Homestay yang wujudnya seperti rumah adat batak ini sehari-harinya adalah pemukiman warga yang disulap menjadi homestay bagi wisatawan. Bayangin kita santai-santai di depan rumah sambil dengerin cerita - cerita menarik tentang budaya dan adat istiadat batak. menarik banget kan?

Oh ya, Lokasi-lokasi di Tapanuli Utara juga sudah mudah diakses karena Bandara Silangit sudah resmi dibuka untuk umum dan jarak dari Bandara ke Homestay Desa Bintangpariama hanya 20 menit berkendara santai. Jadi buat teman-teman yang berniat membuktikan sendiri keseruan dan kenyamanan bermalam di Bintangpariama, bisa pilih metode perjalan apa saja yang paling disukai. Bisa berkendara lumayan lama bareng teman-teman satu genk dan seru-seruan sepanjang perjalanan, atau bisa juga terbang sekejap dan mendarat di bandara silangit dan menikmati perjalanan yang lebih santai dan nyaman.






Share:

Ad Banner

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Sample Text

Text Widget

Contact Form

Name

Email *

Message *

Followers

Search This Blog

Video Of Day

Get to know me

About Us

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Newsletter

Subscribe Our Newsletter

Enter your email address below to subscribe to our newsletter.

Like This Theme

Flicker

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Popular Posts